RSS

Paramanagari–First Entry

22 Feb

Aku sudah tidak tahu lagi sekarang hari apa. Aku terlalu sibuk bertahan hidup untuk memikirkan waktu. Dan besok—tidak, bahkan mungkin sebelum esok tiba—mungkin aku sudah tidak bernyawa lagi.

Aku sudah tidak peduli lagi. Kalau memang hidupku berakhir di sini, percuma saja

Ya, mungkin ini adalah catatan terakhirku dalam jurnal ini.

Seluruh sisa tenaga yang aku punya kugunakan untuk mengangkat pena.

Untuk siapapun yang menemukan jurnal ini dan bermimpi menemukan Paramanagari. Negeri surga itu benar-benar ada tinggal selangkah lagi, aku akan menemukannya. Ini bukan mimpi atau sekedar khayalan orang sekarat. Bertahun-tahun aku mencari tanah itu ke seluruh penjuru dunia, namun ketika aku menyadari kesalahanku, sudah terlambat.

Bagaimanapun kau mencari, kau tak akan menemukan Paramanagari. Tanah itulah yang akan mengundangmu ke sana.

Selama berabad-abad tanah itu menyembunyikan diri dari dunia sampai-sampai keberadaannya dianggapnya mitos belaka, Mereka tidak ingin tanah mereka ditemukan dan diganggu oleh manusia-manusia rakus yang membawa kehancuran kemanapun mereka melangkah.

Buktikan… bahwa kau…

***

Valerie duduk bersila di bawah pohon besar di tengah hutan sambil tepekur memandangi lembaran buku bersampul kulit di pangkuannya. Entah sudah berapa ribu kali gadis itu duduk dengan pose yang sama dan memelototi lembaran yang sama. Hanya saja biasa ia melakukannya di bengkelnya sendiri. Sebenarnya tempat itu tidak pantas disebut bengkel, hanya gudang kecil di belakang rumahnya di Ibukota yang ia jadikan tempat mengutak-atik apapun yang menurutnya menarik.

Ah. Baru ditinggal beberapa jam saja, gadis itu sudah merindukan bau oli yang biasa memenuhi ruang bobrok itu.

Entah sudah berapa lama, Valerie masih juga memandangi barisan kata-kata di depannya, berharap tulisan itu bisa memberinya petunjuk untuk keluar dari hutan ini.

Dalam hati kecilnya, gadis itu tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi. Ia sudah hapal keseluruhan  isi jurnal itu. Ia bahkan tahu kelanjutan kisahnya. Penulis jurnal itu, ayah angkatnya sendiri, akhirnya ‘ditemukan’ oleh Paramanagari, tanah impian dalam legenda, tepat sebelum ia kehilangan nyawanya. Ia selamat dan berhasil menguak rahasia negeri itu, Impian terbesar sang arkeolog Cerval E. Sewell akhirnya tercapai meski raja Tsarovich telah lama mencabut bantuan untuk ekspedisinya itu.

Valerie kecil bertemu dengan pria itu tak lama setelah ia kembali ke Tsarovich. Cervall yang memutuskan untuk tidak membongkar rahasia Paramanagari kepada publik mewariskan catatan perjalanannya kepada gadis itu dan tanpa sadar, menanamkan mimpi yang sama dalam angan Valerie. Dan sekarang, di sinilah ia, tersesat di tengah hutan di timur ibukota Tsarovich hanya beberapa jam setelah ia berpamitan pada ayah angkatnya untuk menemukan petualangannya sendiri—untuk membuktikan ketulusan mimpinya untuk menemukan Paramanagari.

“Argh! Bisa-bisanya aku meninggalkan peta hutan sialan ini di rumah!” Valerie mengacak-acak rambutnya sampai helai-helainya yang kehijauan mencuat keluar dari ikatannya dan goggles yang dipakainya nyaris terlepas.

“Sudahlah! Pokoknya jalan terus saja!” gadis itu memasukkan jurnal ayahnya ke dalam tas kulit lusuh di pinggangnya, mengangkat bungkusan coklat besar serupa tabung yang sejak tadi bertengger di rerumputan di sampingnya, dan berdiri . Bungkusan tadi ia selempangkan di punggungnya sebelum ia mulai mencari jalan keluar dari hutan itu di antara semak-semak dan pepohonan yang mengelilinginya.

Terdengar derap kaki yang beradu dengan ranting-ranting dan daun kering yang menutupi tanah di hutan itu. Valerie tidak memedulikannya dan terus melangkah. Paling-paling hanya hewan liar atau semacamnya.

Valerie terus berjalan lurus hingga ia mendengar jeritan.

Jeritan perempuan.

Detik berikutnya, sesuatu menyeruak di antara semak-semak di hadapannya dan jatuh menimpa tubuhnya.

“Aduh!”

Valerie mencoba berdiri, tapi ia hanya bisa mengangkat kepalanya yang berdenyut ngilu akibat membentur akar pohon. Dengan susah payah ia mencoba melihat apa gerangan yang baru saja menerjangnya, namun yang terlihat olehnya hanyalah bunga… Bunga yang bertebaran di atas rambut hitam paconjang dan ornamen aneh yang berkilau kekuningan.

“Ugh…” entah kenapa Valerie merasa seperti ditindih logam padat raksasa, bukannya seseorang yang harusnya cukup ramping jika dilihat dari jangkauan pandangnya yang terbatas, “…Be-berat…”

“K-Kyaaa! Maaf!” akhirnya sosok yang baru saja menimpa Valerie langsung berdiri sampai nyaris terjatuh. Valerie tertegun sesaat, membetulkan posisi tubuhnya yang sudah bisa bernapas lega, lalu kembali terpaku pada orang tadi yang kini tengah membungkuk sedemikian rupa sehingga tubuhnya setidaknya tersembunyi dari orang luar yang di antara rerimbunan daun-daun hutan.

Valerie yakin ia pasti bisa terus mengingatnya—gadis yang baru saja menimpanya itu—tentunya bukan hanya karena suaranya sama persis dengan jeritan yang ia dengar tadi. Kulitnya gelap, bahkan lebih gelap dibanding kulit orang Utara seperti Valerie sehabis berjemur sekalipun, tapi juga tidak sampai sehitam orang-orang Selatan. Itu juga pertama kalinya ia melihat seseorang dengan rambut hitam sempurna. Valerie sering melihat orang berambut hitam dengan ujung yang berwarna-warni, namun hitam seluruhnya? Ini benar-benar pertama kali. Ditambah lagi bunga-bunga entah apa yang tak kunjung lepas dari rambutnya—apa itu sebenarnya?

Tapi yang paling aneh tetap pakaian dan perhiasannya. Ya, aneh! Wanita itu penari atau apa? Yang jelas Valerie belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, dan di antara semua yang dikenakan gadis itu, yang paling aneh adalah pelat-pelat yang terpasang di kepala dan dadanya. Pelat berkilauan yang berwarna… kuning? Bukan, mungkin agak sedikit coklat? Tidak juga. Mungkin di tengah-tengah…

“Mana perempuan sialan itu?!”

Seruan lelaki yang berat dan kasar tiba-tiba terdengar dab membuat napas gadis aneh itu seolah tertahan sementara Valerie hanya berkedip bingung.

Belum sampai sedetik setelahnya, gadis aneh tadi sudah berdiri dan lari.

Saat itulah Valerie tersadar. Namun pertanyaan-pertanyaan masih berkelebat dalam pikirannya. Siapa gadis itu? Siapa yang mengejarnya sampai ia sepanik itu? Apa yang sesungguhnya terjadi di hutan itu?

Sebelum kehilangan sosoknya, Valerie langsung mengangkat bungkusannya yang sempat terjatuh dan lari mengejar gadis itu.

“Hei, tunggu!”

Valerie berhasil membuat gadis itu menoleh, tapi kedua alisnya berkerut takut.

Yang benar saja, sesaat kemudian suara lelaki tadi—kali ini ada dua suara… dua orang?—terdengar lebih kencang dibanding sebelumnya, “Itu dia!”

Tampaknya Valerie tidak menyadarinya. Ia terus saja berlari mengejar gadis aneh tadi yang melesat semakin cepat layaknya kijang yang dikejar pemangsanya. Mereka terus berlari hingga sampai di bukaan hutan dengan telaga kecil yang berbatasan dengan dinding tebing nan tinggi.

Jalan buntu.

Gadis itu berhenti mendadak dan nyaris terjatuh. Tubuhnya tampak lemas mendadak ketika menyadari bahwa tidak ada jalan lain untuk kabur. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Valerie yang masih terengah-engah. Belum sempat si rambut hijau itu mendengar sepatah kata pun dari gadis aneh tadi, gadis itu cepat-cepat bersembunyi di balik satu-satunya pohon besar di bukaan itu.

“Hosh… Sedang apa kau di—“

“Sial, hilang ke mana dia?”

“Hei, kau!”

Kali ini Valerie mendengar suara itu dengan jelas. Ia menoleh ke belakang dan mendapati dua orang pria—yang lebih muda tampak memperhatikan sekeliling sementara yang lebih tua, mungkin sudah paruh baya, menatap Valerie lurus-lurus.

“Hei!”

“A-apa? Mau apa kalian?” Valerie refleks membalik tubuhnya menghadap kedua pria itu dan mundur selangkah.

“Apa kau melihat perempuan aneh lewat sini? Rambutnya hitam semua dan ditumbuhi bunga warna-warni.”

“Di si—“ Valerie cepat-cepat menutup mulutnya, “—Tidak! Maksudku… Uh, gadis aneh? Rambut hitam dengan bunga di kepalanya? Yang seperti itu mana ada! Lagipula tidak ada siapa-siapa di si—“

“Ha! Kau kira kau bisa menipu kami?” si Tua maju dan meregangkan otot jarinya, mencoba menggertak Valerie. Wajahnya yang sudah jelek dan penuh codet jadi semakin mengesalkan dengan seringai yang dibuat-buat.

Tapi bukan itu yang dikhawatirkan gadis berambut hijau itu. Pandangannya terarah pada pria yang lebih muda dan mungkin dua kali lipat lebih tinggi dari si Tua itu. Pria itu mencari-cari sambil mengelilingi bukaan hutan itu dan mulai melangkah ke arah pohon tempat persembunyian gadis aneh tadi. Valerie spontan bergeser ke samping dan mendekati pria muda tadi dengan tangan terentang, berharap itu bisa menghalangi pandangannya agar tidak menyadari keberadaan si gadis aneh.

“Sudah kubilang tidak ada perempuan aneh seperti itu!” tegasnya pada si Tua yang tampak semakin marah dengan Valerie yang tiba-tiba berkelit. Lalu ia beralih pada si Muda, “Apa yang kaucari? Kalian sedang main petak umpet? Sayang di sini tidak ada siapa-siapa, coba cari di ruangan la—eh?“

Apakah ini hanya perasaannya saja atau pria itu tampak lebih mengerikan dibanding sebelumnya?

“AWAS!”

Apa-apaan gadis itu? Kenapa dia malah—

“Heh, tampaknya kami memang tidak membutuhkan jawabanmu.”

Valerie menoleh ke belakang dan melihat pria yang lebih tua tadi tersenyum licik ke arahnya. Dan pada saat yang sama, ia merasakan ujung sesuatu yang tajam menempel di punggungnya.

Belati. Pria paruh baya itu menodongnya dengan belati.

“Berhubung kau terlanjur tahu tentang gadis sialan itu, biar kita berpisah di sini saja,” lanjut pria tua itu, “Habisi dia, Connel!”

Valerie kembali melihat ke depan. Ia tak lagi merasakan belati tadi di punggungnya, tapi sebagai gantinya, mata biru pria yang satu lagi menatapnya dengan hasrat membunuh.

Valerie hanya bisa terpaku melihat lengan pria itu bergerak perlahan terulur dengan tangan raksasa yang terarah ke lehernya. Ya, perlahan karena entah mengapa waktu terasa melambat baginya, tapi itu tetap tidak memberinya waktu untuk kabur atau melakukan apapun yang mungkin bisa menyelamatkan nyawanya.

Samar-samar ia bisa mendengar jeritan gadis tadi. Mungkin saat ini nyawanya juga teranacam, sama seperti Valerie. Namun semua itu terasa jauh, jauh seklai. Di saat genting seperti itu, yang terasa dekat justru ingatan akan rumah dan bengkel kecilnya. Terbayang ekspresi ayahnya yang masih tak bisa ia artikan ketika ia terakhir melihatnya. Lalu ia teringat akan mengapa ia bisa berada di hutan ini,

Paramanagari.

Citra dalam angannya melintas di kepala Valerie dengan begitu mudah saking seringnya ia memimpikannya. Perbukitan dengan undakan yang terbagi-bagi menjadi petak-petak hijau kekuningan, pepohonan langsing tanpa cabang dengan daun yang terlihat seperti air mancur sewarna zamrud dari puncaknya, orkestra tetesan air, kicau burung, dan bambu yang beradu…

Valerie tidak ingin mati, tidak sebelum melihat lukisan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan itu menjadi nyata.

Sakit! Cengkeraman di leher Valerie membuyarkan semua lamunannya, seolah memaksa tenggorokannya keluar dari lehernya. Badannya terasa ditarik sampai nyaris putus begitu kakinya kehilangan pijakan dan terangkat perlahan-lahan.

Ia akan mati.

Tapi justru dengan terhentinya aliran darah menuju otaknya yang menumpulkan semua inderanya, di tengah semua siksaan yang serasa membakar dirinya, perasaan itu menjadi ratusan kali lebih jelas dan nyata daripada sebelumnya.

Perasaan ingin hidup.

Perasaan itu menjalari seluruh tubuhnya, sama panasnya dengan rasa sakit yang sejak tadi menyiksanya. Perasaan itu jugalah satu-satunya yang menggerakkan tangannya untuk mengayunkan bungkusan yang hampir saja lepas dari genggamannya.

Mungkin itulah kejadian yang paling tepat menggambarkan kekuatan tekad seseorang ketika didorong paksa ke hadapan gerbang kematian.

Hantaman yang mengenai pria jangkung itu jelas tidak sampai melukainya, tapi setidaknya itu cukup untuk membuatnya terkejut dan melepaskan cengkeramannya. Valerie terhempas ke tanah, Tulang-tulangnya serasa remuk, namun tarikan napas pertama yang masuk ke paru-parunya berhasil membawa kesadarannya kembali ke dunia nyata.

Gadis itu mendengar geraman kesal pria itu. Sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, Valerie memaksakan tubuhnya agar berdiri dan menyingkir dari tempat ia terjatuh tadi dan menarik kain usang yang membungkus benda yang baru saja menyelamatkannya tadi.

***

“Lewat sini! Putar balik ke tempat tadi!”

“Cepatlah! Kami akan menghambat penjahat itu sebisa mungkin!”

Gadis itu langsung memutuskan untuk percaya saja pada satu dari sekian banyak suara yang senantiasa mendobrak pikirannya tanpa permisi. Ia terlalu panik untuk berpikir. Masih untung rambut dan sandang-nya tidak tersangkut di dahan-dahan dan semak-semak sehingga tidak ada yang menghambat larinya. Ia lelah, benar-benar lelah. Sudah berapa lama manusia-manusia barbar itu mengejarnya seharian ini? Negeri ini benar-benar mengerikan. Jangankan dirinya yang langsung diburu hanya karena ia berbeda, bahkan sesama manusia pun bisa dengan mudahnya menodongkan senjata!

Ia meninggalkan rumah bukan untuk diburu seperti ini. Ia bahkan tidak ingin berada di tempat mengerikan ini! Ia ingin pulang!

…Tapi ia tidak bisa pulang sampai ia bisa menemukan manusia lelaki itu.

***

Valerie memang bukan petarung. Jelas kekuatannya tidak sebanding dengan pria bertubuh raksasa itu. Ditambah lagi ia kalah motivasi. Pria itu benar-benar bernafsu ingin membunuhnya, seolah itu adalah kesempatan yang telah lama ia tunggu-tunggu.

Tapi setidaknya gerak Valerie lebih cepat. Lagipula pria itu tampaknya memang lebih lamban darinya, baik tubuhnya maupun otaknya.

Valerie hanya bisa memanfaatkan senjatanya satu-satunya, Samotsvet—‘anaknya’, hasil karyanya berupa sebuah tabung logam lebar dengan pegangan dan tuas-tuas serupa meriam kecil—untuk memberikan kejutan-kejutan kecil untuk si raksasa. Tenaganya terlalu lemah untuk memukul jatuh pria itu, sementara syok yang menyerang saraf lawannya itu hanya memberinya waktu kurang lebih dari lima detik untuk melebarkan jarak.

Sial. Masih tidak cukup untuk benar-benar kabur dari pria itu dan rekannya untuk selamanya.

Sebenarnya Valerie masih punya amunisi yang pasti bisa menghabisi pria itu. Ia tidak pernah mencobanya pada manusia, tapi dinding bengkelnya sudah pernah mencicipi akibatnya.

Tapi ia merasa sayang menggunakannya. Ia harus membayar terlalu mahal hanya untuk meloloskan diri dari kesialan maut ini.

“P-pinggangnya… Serang pinggangnya…”

Valerie mendengar suara yang terdengar bagian di awal, namun langsung melemah di suku kata berikutnya. Siapa yang berbicara?

Suaranya terdengar seperti… gadis aneh tadi? Dia kembali ke sini?

Valerie mengalihkan pandangannya ke sekeliling bukaan itu dan menangkap sosok si gadis berambut hitam mengintip dari balik semak-semak yang memagari telaga.

“AWAS! Dari sebelah kiri!”

Valerie refleks menoleh ke kiri dan mendapati si raksasa baru saja hendak mendekat dari arah itu, namun langkahnya terhenti begitu mendengar seruan barusan.

“Cepat! Serang pinggangnya!”

…Pinggang, tempat Samotsvet pertama menghantam pria itu ketika Valerie masih tercekik tadi.

Tanpa menunggu lagi, gadis itu langsung nekad menyerbu pria yang bertubuh entah berapa kali lipat lebih besar darinya.

Gadis itu benar. Serangan di bagian itu berhasil mendorong pria itu lebih jauh dibanding di bagian-bagian lain!

Pria itu mengerang keras. Valerie bersiap dengan senjatanya di depan dada, mengantisipasi serangan balik. Sementara itu, si pria raksasa kembali melihat keadaan di sekeliling tempat itu, dan Valerie kembali panik ketika akhirnya pria itu berjalan melewatinya menuju telaga.

Sial! Tidak bisakah dia mencari ke tempat lain?

Valerie pun melakukan satu-satunya hal yang terpikir olehnya. Ia mengangkat Samotsvet tinggi-tinggi dan mengayunkannya hingga mendarat keras di leher pria itu.

Berhasil! Pria itu jatuh! Seharusnya ia mencoba trik itu dari tadi!

“Ha! Rasakan!” ujarnya puas sambil melihat ke arah si jangkung yang kini meringkuk kesakitan di tanah.

Tunggu dulu, mengapa bukannya raungan atau apa, yang terdengar malah jeritan perempuan?

“Lepaskaaaaaaaaan! Lepaskan aku!”

“Ha, kau kira aku sebodoh itu? Akhirnya aku berhasil mendapatkan mangsa yang telah lama kukejar dengan susah payah, mana mungkin kulepaskan begitu saja?”

Valerie menoleh ke arah telaga dan melihat si pria paruh baya tengah menyeret gadis tadi keluar dari persembunyiannya di balik semak-semak. Valerie merasa muak. Apa mau pria itu? Untuk apa dia mengejar gadis itu? Memangnya gadis itu pencuri atau semacamnya? Tapi kalau gadis itulah yang jahat sementara pria itu dan teman raksasanya hanya ingin memperbaiki keadaan, mana mungkin ia sampai menyuruh temannya menghabisi Valerie?

Si pria tua mendelik kea rah Valerie dengan tatapan meremehkan, “Tampaknya lebih baik aku menghabisimu dan mempreteli benda-benda kekuningan di tubuhmu itu sebelum membereskan perempuan bodoh itu. Biar begitu, toh cepat atau lambat Connel akan melumatnya sampai tinggal serpihan!”

Jangan bercanda! Siapa yang akan dilumat sampai tinggal serpihan, hah?!

Kata-kata terakhir pria itu menguatkan keyakinan Valerie bahwa dia memang pantas diberi pelajaran. Lagipula ini sudah masalah nyawa—bukan nyawanya sendiri, tapi mungkin juga nyawa gadis asing itu.

Valerie cepat-cepat melompat ke belakang dan memasukkan sesuatu dari tas kulitnya ke lubang di bagian belakang Samotsvet. Lalu ia menarik salah satu tuas sehingga moncong berupa tabung yang lebih kecil keluar dari bagian depan dan menyangga senjata itu di bahunya. Ia sengaja tidak membidik tepat ke arah si pria paruh baya—Valerie tidak tahu apa yang akan terjadi jika seseorang terkena serangannya secara langsung, lagipula ia tidak ingin sampai si gadis aneh terkena imbasnya.

Tangan Valerie bersiap di tuas kedua di bagian depan, tapi tiba-tiba sesuatu menghalangi pandangannya.

…Si raksasa sudah berdiri lagi?

Terlambat. Tuasnya sudah ditarik.

Sebuah batu merah berkilauan meluncur keluar dari moncong Samotsvet disusul oleh cahaya menyilaukan dan bunyi ledakan. Valerie tidak tahu apa yang terjadi setelahnya saking silaunya dan begitu ia bisa melihat lagi, yang ada tinggal si gadis aneh yang terhempas ke samping sambil terpana memandangis semburan air dari telaga yang nyaris mencapai langit.

“SI-blup blup blup… TOLO—blup blup blup,” samar-samar Valerie bisa mendengar suara si pria paruh baya yang teredam oleh air yang mungkin tengah mencoba menariknya ke dasar, sementara pria yang satu lagi… Ia tidak tahu. Yang jelas Valerie ingin melupakan yang satu itu. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan nasibnya setelah terkena tembakan langsung Samotsvet dari jarak sedekat itu.

Yang jelas Valerie harus bergerak cepat sebelum yang manapun dari dua pria itu kembali ke daratan dan mengejarnya dan si gadis aneh.

Valerie pun cepat-cepat berlari ke arah gadis itu dan menarik pergelangan tangannya tanpa basi, membawanya lari bersamanya.

“Terima kasih banyak!” ujar gadis itu ketika mereka sudah kembali masuk ke dalam rimbunnya semak-semak dan pepohonan.

“…Simpan basa-basinya untuk nanti kalau sudah benar-benar aman! Lagipula mengapa mereka bisa sampai mengejarmu seperti itu?”

“Aku tidak tahu… Mereka bilang mereka menginginkan emas-ku…”

Setengah yakin bahwa mereka sudah cukup jauh dari telaga tadi, Valerie memperlambat langkahnya dan mulai mengatur napasnya yang terengah-engah.

“…Emas?”

“Iya, emas,” gadis itu menunjuk pelat-pelat kekuningan di sisi wajahnya dan perhiasan yang ia kenakan, “Kalian benar-benar tidak pernah melihatnya, ya?”

Emas? Jadi itu nama benda kekuningan itu? Aneh, bunyinya terasa janggal.

Emas. Valerie mengulang kata itu sekali lagi. Rasanya masih aneh, tapi entah kenapa kata itu terasa begitu ajaib dan… akrab?

Tunggu dulu, rasanya Valerie pernah mendengar kata itu sebelumnya di suatu tempat, hanya saja ia tidak pernah melihat wujudnya.

“Memangnya kau berasal dari mana? Siapa namamu? Bagaimana mungkin rambutmu bisa hitam seluruhnya dan penuh bunga seperti itu? Pakaianmu juga aneh…” Valerie langsung menghujani gadis itu dengan pertanyaan setelah sekali lagi memperhatikan penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Eh? Maksudmu, kau ingin tahu tentang tempat asalku?” setelah semua yang menimpa mereka hari ini, untuk pertama kalinya gadis itu terlihat bersemangat.

“Uh, ya… Begitulah.”

Bibir merah gadis itu terkembang sebelum ia menjawab.

“Namaku Prasthina. Aku berasal dari Paramanagari!”

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2012 in Paramanagari

 

Tag: , , ,

One response to “Paramanagari–First Entry

  1. ji shoun

    Februari 22, 2012 at 4:19 am

    ling. . . Keren

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: