RSS

CerBul KasFan 02/2012–Mimpi Kastil BIas

28 Feb

Yang pertama runtuh adalah kandil emas raksasa yang jatuh dari langit-langit ruang takhta. Ukiran malaikat yang menghiasi plafon penahannya retak mulai dari wajah, begitu juga malaikat batu lainnya yang bertengger di puncak pilar-pilar yang memagari jalan dari pintu masuk menuju takhta tempat kau duduk dengan kaki tersilang dan kepala terangkat congkak. Dentang logam yang membentur marmer meraung keras, memantul-mantul di keenam sisi dinding kristal yang masih berkilauan di tengah kekacauan itu.

Bau amis bercampur gosong membumbung bersama asap dari api lilin-lilin yang berserakan dan mencium permadani merah yang bersimbah darah. Patung-patung naga, kuda bersayap, gadis-gadis ikan—semua mahakarya yang menambah megah ruangan itu retak serempak dan runtuh menjadi bongkahan-bongkahan tak berbentuk. Lukisan-lukisan surgawi yang terpampang di seribu koridor dan seribu ruangan kastil itu terlepas dari penyangganya, jatuh begitu keras hingga bingkainya yang bersepuh emas patah. Beludru dan brokat nan mewah pun tak mampu melindungi sisa ornament yang belum hancur menjadi serpihan bebatuan mulia dari guncangan yang makin lama makin menggila.

Tak lama lagi dinding-dinding dan pilar-pilar yang menjaga kastil itu tetap berdiri akan menemui takdir yang sama—luluh lantak hingga rata dengan tanah. Belum lagi api yang menari-nari di hadapanmu, yang tadinya hanya berupa nyala malu-malu terus melahap benda di sekelilingnya, mengganas seolah tak bisa puas tak peduli berapa banyak reruntuhan dan kain-kain hiasan yang ditelannya.

Semua itu seolah terjadi di luar duniamu dan takhtamu, karena kau bergeming dalam dudukmu dan memandangi kemewahan luruh menjadi neraka seolah itu adalah tontonan terhebat sepanjang masa. Padahal api sudah mulai membakar daging mayat yang bergelimpangan di bawah kakimu dan tak lama lagi akan menangkap ujung jubahmu. Kubah marmer yang membentuk kanopi indah di langit-langit mulai berderak-derak, menunggu waktu yang tepat untuk runtuh dan menimpa tubuh kurusmu. Singgasana emasmu yang mengembang laksana bulu burung merak tujuh warna pun sudah mulai berayun-ayun bersama gempa, ujung-ujung sandarannya yang lebih tipis dan rapuh mulai meluruh.

Kau masih berdiam di sana laksana raja dunia.

Padahal mudah saja mencegah kehancuran total yang makin mendekat itu. Kau tinggal menyatukan dua pecahanan kristal yang cahaya magisnya menyangga seluruh kastil impian itu—kristal yang hancur akibat sihir yang kaulepaskan untuk menghabisi semua pesaingmu untuk memperebutkan singgasana merak itu. Semua itu terlambat ketika kau memilih untuk merasakan duduk di takhta yang baru saja kaumenangkan. Kau jadi takut kalau kau beranjak dari takhta itu, sesuatu akan merebutnya darimu. Kau pun tak rela meninggalkannya hingga penyangga kristal itu runtuh dan batu itu pecah seribu dan kehilangan nyalanya, ketika kastil itu kehilangan penyokong dan mulai runtuh, kau tak mau beranjak walau itu demi menyelamatkan nyawamu sendiri.

Sebagian orang menyebut kastil mimpi itu Kastil Bias, sebagian lagi menyebutnya surga dunia. Kastil itu hanyalah legenda, namun kau dan kawan seperjalananmu beruntung dan berhasil menemukannya. Begitu menginjakkan kaki melewati gerbangnya yang terbuat dari mutiara, kau tahu kau ingin tinggal di sana selamanya. Kalian masuk dan menjelajah, menemukan makanan lezat sudah tersaji di ruang makan megah dengan peri-peri yang memainkan nada-nada ceria, menemukan ranjang seempuk awan di bawah kanopi bertatahkan lapis lazuli di kamar-kamar nan mewah. Kalian menyusuri seribu lorong dan menemukan keajaiban dalam seribu ruangan Kastil Bias hingga kalian tiba di ruang singgasana tempatmu kini berada. Dan ketika kalian terkagum-kagum di hadapan takhta merak yang menyala dengan sinar nan agung, kalian tahu hanya satu orang yang berhak mendudukinya dan merajai surga itu.

Kalian beradu mulut, lalu kalian beradu sihir dan beradu senjata. Tak ada yang sudi mengalah, begitu juga dirimu. Kalian bertarung sampai lantai marmer sewarna pelangi itu tergenang darah yang juga menambah gelap permadani yang tergelar. Darah juga memercik menodai hiasan-hiasan tak bercacat. Perabot dan ornament jatuh berserakan.

Kalian terus bertempur. Terus hingga tinggal kau seorang yang belum menjadi jasad.

Singgasana itu jadi milikmu, tapi kau tak puas juga.

Kau masih takut. Takut peri-peri dan pelayan-pelayan yang menghuni surga itu mencoba merenggutnya darimu.

Namun mereka terlalu banyak, tersebar di seribu ruangan dan seribu lorong kastil itu. Karena itulah kau melepaskan sihir terkuatmu. Kau mulai merapal, melebarkan jangkauanamu hingga ke seluruh pelosok Kastil Bias. Sihirmu memburu dan laksana iblis mencabut nyawa makhluk-makhluk suci itu satu demi satu, sementara kristal cahaya di ruang singgasana itu berjuang agar bisa bersinar seterang mungkin, sekuat mungkin agar kastil itu tak cacat oleh sihirmu.

Kristal itu tak sanggup dan akhirnya terpecah dua sementara kau baru saja duduk di atas singgasana merak dan tertawa.

Mestinya kau masih sempat mempertemukan dua kepingan kristal itu, membiarkan cahayanya menyatu sebelum kastil itu mulai berguncang, namun hatimu dan benakmu masih dibiaskan oleh sihir keserakahanmu akan Kastil Bias itu, digerogoti rasa takut ada makhluk lain yang bisa merenggut dan menikmati kemewahan dalam cengkeramanmu.

Kau mencengkeram Kastil Bias itu terlalu kencang hingga surga itu remuk dalam genggamanmu, dan menyeretmu menuju akhir dari mimpi ‘indah’-mu.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 28, 2012 in Cerpen

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: