RSS

Infodump?

10 Mar

Ceritanya saya belakangan ini dapat banyak cabe yang semuanya kurang lebih menunjukkan bahwa tulisan saya–terutama buat proyek berkepanjangan–itu sangat kurang deskripsi. Mungkin karena kebetulan yang nyabe lebih banyak makan anime, manga, dan VN yang gak gitu menuntut pembaca/penonton untuk membayangkan sendiri kejadian dan setting yang ada dalam cerita, jadi di literatur tanpa gambar, mereka bergantung pada deskripsi sedetil mungkin biar bisa ‘ngeliat’ setting-nya. Ditambah lagi saya emang gak suka cerita yang ngabisin berbaris-baris cuma ngejelasin isi kelas biasa atau warna rambut dan mata sampe ke gaya berpakaian karakter yang udah dikenal baik sama si tokoh utama kalo lagi make POV 3 limited atau POV 1.

Tapi saya sendiri memang suka ngelupain kejadian-kejadian kecil yang mungkin terjadi sehari-hari buat bikin suasana jadi lebih alami. Deskripsi tempat juga, sampe sekarang saya masih gak bisa nemu cara yang pas buat nyelipin biar enak >.</ Saya juga gak gitu bisa deskripsiin gerakan orang, apalagi pas berantem. Mungkin karena saya gak pernah jotos-jotosan? *eh

Yang jelas ini jadi pe-er buat saya. Mungkin memang Paramanagari harus saya garap pelan-pelan aja, tapi bener-bener perfect.

Masalahnya adalah… Saya sampe sekarang masih gak bisa nulis tentang orang yang begitu terkejut sampe gak percaya ketika hal yang bener-bener dia inginkan tiba-tiba nongol di hadapannya, kayak bagian si gadis suku Parama yang muncul mendadak di depan Valerie. Gimana reaksi Valerie seharusnya? Apa yang bakal pertama kali dikatakan Valerie? Dan berhubung Valerie itu curiosity-nya gede, tentunya dia bakal punya banyak pertanyaan, tapi mereka masih di tengah hutan dan bisa jadi masih dikejar, sementara Prasthina sama sekali gak ada tampang bakal ngusulin buat lari ke tempat yang lebih aman dulu.

Ya, salah satu penyebab masalah ini adalah bahwa Prasthina dan Valerie sama-sama bego dan impulsif =.=

Btw eh btw, saya mau curcol dulu. Saya mesti gambar ulang nih tugas perspektif dua titik hilang :v :v :v

Kenapa gak semua titiknya dihilangin aja sekalian? Biar perdamaian dunia bisa terwujud gitu. Jumlah mahasiswa TPB galau juga bisa ikut berkurang kan? Kalo perlu titik-titiknya diculik dan dimusnahkan bersama cacing-cacing kalkulus, biar saya bisa istirahat dengan tenang. Belakangan ini saya kecapekan, batuk pilek, plus gka enak badan mulu. Kayaknya saya butuh tidur lebih banyak. Udah tuwir, gak kuat begadang lagi =.=.

Numpang buang sketsa:

Omong-omong soal Aksarayana, kayaknya edisi #5 dan #6 yang harusnya udah bisa diunduh tanggal sepuluh Maret ini kayaknya bakal telat lagi :v. Layouter tercinta harus menjaga kesehatannya dan mengurus anak-anaknya sementara para ilustrator diserbu tugas-tugas kuliah. Saya sendiri masih harus maju ke garis depan buat bertempur dengan kalkulus dan segudang kerjaan lainnya o…TL

Indah sekali dunia ini.–credit: Asisten Dosen Kalkulus alias Kapten CAcing (bukan Kapten Kucing!)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2012 in random

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: