RSS

EAT: Perimbangan Darma–Bunda

16 Mar

Ini cerpen kolaborasi dengan Smith61 untuk lomba Event Akhir/Awal Tahun kemudian.com. Gak menang sih, tapi saya cukup puas karena berhasil bikin jurinya teler baca nih cerita kolab (walau andil partner saya jauh lebih besar buat yang satu ini =w=). Lanjutannya bisa dilihat dicari di kemudian.com dengan keyword ‘Perimbangan Darma–Dia’.

Segala cara kaucoba untuk menghancurkan kutukan itu. Kaugunakan segala macam cara yang terbersit dalam benakmu yang hitam pekat nan cacat. Kau tak lagi kenal akal sehat. Kaucabik perutmu yang makin hari makin gendut.

Tak mempan. Gunungan terkutuk itu telanjur mengeras menjadi batu.

Ketika kau sadar bilah-bilah kukumu dan besi sekalipun tak bisa tembus, kau mengambil kapak dan palu. Kau menjerit dalam sakitmu ketika kaujatuhkan sendiri siksa pada ragamu. Dahan-dahan pepohonan Rimba memantulkan lolonganmu, seolah bahkan mereka tak sudi tersentuh oleh suara dari tenggorokanmu.

Percuma. Siksa yang kaurasa hanyalah siksa yang sia-sia.

Benang asamu putus bersama kewarasanmu. Kau lari ke jantung Rimba. Kau lari meski kutukan itu makin berat jua. Kauterobos hujan caci dan maki, badai hujat nan bejat, kautahan semua luka yang menyayat dalam menembus kulit dan tulangmu. Lalu kaujatuhkan raga hinamu di atas meja persembahan tepat dihadapan Cica Yang Agung.

Sejenak kegilaanmu melunak melihat sosok sang Dewa yang berukuran raksasa, kecoklatan dan kering laksana kulit pohon yang telah melewati batas umurnya. Sayap laksana jalinan kawat transparan tak henti-hentinya bergetar, berdansa bersama angin pedas yang seolah mengelupas ari-arimu. Lalu kau melihat sepasang juluran tak berujung dari mahkota sang Dewa yang bermain dengan sisa-sisa jasad kaummu, sisa-sisa jasad yang dulunya bernyawa ketika masih terbaring di tempatmu kini.

Kau adalah hamba Cica. Kau tak kuasa menolak kagum yang membuncah di hadapannya. Namun jijik datang entah dari mana, turut berteriak bersama luka-luka yang menganga.

Kau tahu darimana jijik bermula.

Semua karena kutukan yang menggembung di perutmu yang nista, kutukan yang kelak akan membelah tubuhmu dan bangkit menjadi sosok pembunuh Dewa. Makhluk yang dielu-elukan di zaman berhala karena bisa menundukkan Dewa, padahal nyatanya makhluk itu lebih rendah daripada yang rendah karena berani mengungguli Dewa.

Terlambat. Kau terkutuk. Kau tak bisa membatalkan nubuat para tetua. Dan kau baru saja menghina Dewa.

Kau ternoda dosa.

Biarlah kau dilahap Dewa Cica yang menciptamu dan kaummu. Biar Cica bermain dengan jasadmu daripada terus hidup menanggung kutuk dan melahirkan pembantai dewa-dewa Rimba.

[Hikayat Pengorbanan yang Tercemar]

Kaudengar jerit Cica melengking murka. Makhluk yang telah sekian abad kau puja-puja meraung membelah angkasa. Meja persembahan retak. Tubuhmu serasa terkoyak. Lalu kau terlempar. Terlempar dari panggung persembahan. Terlempar dari tanah suci Dewa Cica di jantung Rimba. Terbuang. Tercerai dari peradaban Cica-Cica yang jauh dari beradab. Tangismu makin menjadi, sakitmu pun makin mengganas, merasuk hingga ke hati.

Cica telah menolakmu. Menolak menyentuh persembahan jiwamu.

Tentu saja. Mana ada dewa yang sudi menyentuh makhluk pembawa kutuk? Begitulah dewa yang seharusnya, tak mengenal belas kasih, tak menyentuh apapun yang nista dan tak suci. Karena itulah mereka disebut dewa. Karena itulah mereka dipuja. Karena itulah mereka berkuasa.

Kau tahu Cica tak mengkehendakimu. Semua karena makhluk terkutuk yang bersembunyi dibalik perutmu yang telah menggemuk dan berubah menjadi dinding batu.

Makhluk terkutuk itu masuk lewat seorang makhluk jantan dari dunia luar yang gila. Jantan itu masuk ke dalam Rimba dengan jutaan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban yang katanya demi dewanya yang dia panggil ‘ilmu pengetahuan’. Dengan cara yang sama pejantan itu memasukimu, dengan pertanyaan-pertanyaan dan tutur dunia luar yang tak bisa kaunalar.

Dia masuk dan kau berubah jadi binatang. Lalu dia keluar, mendapatkan jawaban, dan hilang.

Barulah kau sadar, dia masuk dengan kutukan dan pergi meninggalkan kutukan.

Kaucoba lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Kaucoba lagi mengenyahkan kutukan itu, tapi yang hancur malah dirimu.

Untuk menghancurkan kutukan, kau harus menahan siksa. Kau tak tahan. Dan makhluk yang dibuang Dewa tak pantas lagi disebut makhluk. Hidup terasing dari Dewa tak pantas lagi disebut hidup. Cica adalah dewa. Cica membuangmu. Cica mengasingkanmu dari tanah Cica-Cica. Berarti kau bukan makhluk. Berarti kau tidak hidup.

Kalau bukan makhluk, kau apa? Kau mayat. Kalau bukan hidup, kau apa? Kau mati.

Lolonganmu pun makin menjadi, menyayat-nyayat setiap benda yang mengelilingi pengasinganmu, meninggalkan guratan-guratan cacat di kulit-kulit kayu, memutus tangkai-tangkai dedaunan yang rapuh. Pilumu merenggut warna di sekitarmu. Semua berubah jadi warna coklat busuk yang melayu. Yang jinak pun berubah menjadi ganas karena luka dalam jeritanmu. Mereka mengamuk bersama yang buas, mengintai dari balik rumpun-rumpun mati dan menerjangmu, merobek-robek daging dan tulangmu. Dua kepalamu yang menyatu kembali menjadi dua, dua tanganmu kembali menjadi empat, tapi kau dan kutukan itu tak musnah juga. Malah tangismu yang makin menggila karena sakit yang kaurasa balik merobek yang jinak maupun yang buas, tubuh mereka tercerai berai hingga mereka tak bisa lagi disebut yang jinak maupun yang buas. Karena mereka hanya bernama jika utuh dan berjiwa, dan kini keutuhan dan jiwa mereka telah menjadi sejarah lama.

Meski terbelah di sana-sini, kau tahu kau masih utuh dan masih berjiwa. Kau menang dari mereka, tapi harapmu kaulah yang di posisi mereka.

Sakitmu makin menggila. Padahal kau telah terasing dari Cica, terasing dari Dewa. Kau mati. Yang mati mestinya tidak merasa lagi.

Lalu kau mulai mendengar suara-suara.

Cica bukan Dewa. Tidak ada Dewa.

Kau tidak mati. Kau hidup

Kini bahkan kutuk sialan itu bisa bicara.

[Hikayat Kebangkitan di Pengasingan]

Kutuk itu membesar dan membesar. Kutuk itu terus membesar hingga sebesar gunung. Perutmu sebesar gunung. Begitu besar sampai kau tak bisa lagi bergerak dan mencari cara agar kutuk dan dirimu hancur. Tapi deritamu belum menyapa akhir. Kutuk itu menyedot darah dari uratmu, menyedot sari dalam dagingmu. Sakit. Rasanya bagai ditarik-tarik. Tubuhmu serasa ditarik hingga memanjang jutaan kaki dan lebih jauh lagi. Kaupikir tubuhmu akan putus dan sakit itu juga akan putus, tapi tubuh dan sakitmu tak putus-putus sementara kau merasa terus ditarik tak henti-henti.

Kau sakit seperti itu lama sekali. Mungkin seabad. Mungkin seribu abad. Kau terasing, sendirian. Kau tak bisa melihat cahaya terbit karena terhalang pohon-pohon mati. Yang jelas rasanya lama, lama sekali.

Kau hanya bisa menunggu. Menunggu Kutuk menghancurkan dirinya sendiri bersama dirimu.

Dan selama penantian itu kau mendengar Kutuk bicara. Suaranya makin lantang seiring dengan makin banyak darahmu yang dia isap. Kaudengar Kutuk bicara tentang hidup. Hidup, hidup, dan hidup.

Kau pun tahu Kutuk ingin hidup.

Kutuk ingin tahu seperti apa rasanya hidup. ia ingin tahu karena ia mencicipi hidup dari darahmu. Ia tahu kau pernah begitu mencinta hidup. Ia tahu kepalamu menyatu agar warna-warna hidup yang kaulihat juga menyatu, menghasilkan campuran yang kacau dan berantakan namun hanya jadi milikmu. Kutuk ingin hidup agar ia bisa melihat warna yang kaulihat. Kutuk ingin hidup agar ia bisa merasakan hidup yang kaurasa. Lalu ia juga ingin menemukan warnanya sendiri, merasakan hidupnya sendiri.  Karena itulah kau tak pernah bisa menghancurkan Kutuk yang bersembunyi dibalik gunung perutmu, karena Kutuk ingin hidup. Kutuk tidak ingin handur.

Lalu kau ketakutan. Ketakutan karena kaudengar Kutuk bicara bahwa Dewa tak punya urusan dengan hidup. Diasingkan Dewa bukan berarti kau tak hidup. Dibuang Dewa bukan akhir segalanya. Itu terus yang diulang kutukan dalam gunung perutmu.

Kau ketakutan karena bagi Kutuk, Dewa seharusnya tidak ada. Dewa Cica juga tidak ada. Karena seharusnya tidak ada yang berhak merenggut hidup yang begitu ia inginkan.

Kau ketakutan karena Kutuk membenci apapun yang disebut Dewa. Kutuk ingin memusnahkan apapun yang disebut Dewa. Dimulai dari Dewa Cica yang membuatmu percaya bahwa kau tak lagi hidup meski kenyataannya adalah sebaliknya.

Kau ketakutan karena seharusnya tak ada yang tak mengakui Dewa. Kau ketakutan karena seharusnya tak ada yang berniat memusnahkan Dewa.

Kau ketakutan karena kau mulai ingin melawan itu semua.

Kau ketakutan karena kau ingin percaya pada kata-kata Kutuk yang kaubawa.

Sakitmu masih terus berlanjut dan suara-suara Kutuk masih terus berdenyut. Suara itu mencuci otakmu yang buntu karena ngilu. Suara itu terus berdengung di kupingmu dan membuatmu lupa akan ketakutan-ketakutanmu yang dulu. Kau melupakan hampir semua kehidupanmu yang dulu, kecuali potong demi potong yang diulang-ulang Kutuk di telingamu. Kau lupa kau adalah suku Cica-Cica. Kau lupa kau pernah memuja Dewa Cica yang menelan apapun kecuali Kutuk yang tersaji di meja persembahannya. Kau lupa kau pernah begitu ngeri dan benci dengan Kutuk yang ditinggal dalam perutmu sampai kau mencoba menghancurkan dirimu, melololong-lolong penuh derita dan berharap Kutuk hancur bersama dirimu.

Kau hanya ingat tentang warna-warna hidup yang dulu pernah kaulihat, warna-warna hidup yang ingin Kutuk lihat. Kau hanya ingat tentang keindahan yang pernah kaukecap, keindahan yang ingin Kutuk kecap juga. Dan kau hanya ingat warna ajaib yang hanya kaulihat ketika ada makhluk dari dunia luar yang masuk ke tanahmu dengan sejuta pertanyaan, juga warna-warna yang lebih menakjubkan lagi ketika makhluk itu masuk ke dalammu juga dengan jutaan pertanyaan sebelum lenyap meninggalkan Kutuk.

Dan berkat janji-janji yang dibisikkan Kutuk di telingamu, terus berulang-ulang selama waktu yang begitu lama di tengah kesakitanmu, janji bahwa tak lama lagi Kutuk akan keluar membawa semua sakitmu dan janji bahwa kalian akan melihat warna-warna hidup bersama, kau mulai lupa mengapa Kutuk kausebut kutuk.

Kini dalam benakmu yang berjengit menahan sakit, Kutuk adalah Berkah.

Dan kau tak lagi menanti mati mengakhiri sakitmu. Kini kau menanti Berkah membawa pergi sakit itu dan mulai melihat warna bersamamu.

[Hikayat Keraguan dan Tumbuhnya Harapan]

Di tengah sakit kau pun mulai bermimpi. Memimpikan hari ketika suara-suara Berkah meledak menjadi nyata.

Lalu gunung pun meledak. Perutmu meledak. Sakitmu meledak.

Lalu rumpun-rumpun mati kembali berdiri tegak dan berbunga-bunga. Dedaunan coklat busuk yang layu kembali merona hijau. Lalu biru membanjir dari perutmu yang meledak, terus membanjir dan menenggelamkan sisa tubuhmu yang kurus kering hingga tertinggal di dasar. Sakit hilang. Semua rasa pun hilang.

Kau melihat sesosok bayi mengambang di tengah-tengah biru yang menimpa ragamu. Kepalanya bengkak dan matanya merah. Tetes-tetes kuning merembes menodai biru dari hidung dan mulutnya. Kulitnya hijau ditengah-tengah biru dan kuning, berpendar membentuk jalinan-jalinan yang terlalu halus untuk kaubaca.

Kau mengenalinya. Bayi itulah Kutuk yang kini kaupanggil Berkah. Berkah telah keluar dan membawa pergi semua sakit bersama semua rasa dari dirimu.

Kaulihat tangan Berkah yang tanpa pergelangan dan jemari terulur, bibirnya memanggil-manggil, menunggumu menjangkaunya. Suaranya sama dengan suara-suara yang kaudengar di tengah sakitmu dulu, suara yang masih menjanjikan hidup baru dan warna-warna baru. Tanpa Dewa. Tanpa Cica. Tanpa diatur siapa-siapa.

Tapi kau tak bisa merasakan tanganmu yang empat. Kau tak bisa menggapainya. Kau sudah kehilangan semua rasa.

Setelah rasa, bahkan suara Berkah lenyap dari indera. Kini kau tuli dan mati rasa.

Lalu pandanganmu mengabur sampai hilang seluruhnya.

Kaupikir kau juga akan jadi buta, tapi kini kau melihat sesosok makhluk berkepala dua dan bertangan empat, kurus kering, tinggal tulang sehalus lidi terbungkus kulit keriput yang tak berbentuk lagi, tergeletak di dasar biru dan tak bergerak sama sekali.

Lalu kau sadar, kau tak lagi melihat dengan matamu. Kau melihat dari mata bayi itu.

Siksa sakitmu telah sirna, dibawa pergi oleh berkah yang seolah perlahan menjauh. Siksa itu kini digantikan siksa kehilangan rasa, kehilangan pegangan, bagaikan mengambang-ngambang di ketiadaan. Tapi setidaknya kini kau bisa kembali melihat hidup beserta warna-warnanya.

Kau bisa melihat hidup dari mata Berkah.

[Hikayat Kelahiran Kembali]

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2012 in Cerpen

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: