RSS

[GagasMedia Holiday Writing Challenge] Ingatan

26 Mar

Ange Saga: Lust, Bagian kesembilan
Tentang Ange Saga: https://rieslingreen.wordpress.com/proyek-light-novel-ange-saga/ 

Tapi Aku tetap menyukai dirimu yang sekarang.”

“Hah? Apa aku tidak salah dengar?” gadis itu menoleh, “Bahkan aku sendiri jijik dengan tubuh bertabur luka seperti ini.”

“Omong kosong. Kau tetap cantik,” Lux yang asli dan pria dalam bayangan itu berujar serempak. Eve bolak-balik memandangi keduanya—pria yang sama dari waktu yang berbeda—hanya untuk melihat mereka sama-sama terhipnotis oleh wanita bergaun putih itu, “Dan aku akan lebih senang lagi jika akulah satu-satunya yang bisa memandangimu seperti sekarang ini.”

Kau yang omong kosong. Dasar gila,” jawab gadis itu seraya menenggelamkan wajahnya dibalik kedua lututnya, seolah ingin bersembunyi dari tatapan memuja dari lelaki di sampingnya.

Kau masih… melakukan itu? Bahkan dengan keadaan seperti ini? …Setelah semua yang terjadi?” kata-kata Lux tersendat-sendat, seolah hatinya teriris-iris ketika ia menanyakan .hal itu.

Apa lagi yang bisa kulakukan? Hanya itu satu-satunya yang bisa menghidupi perempuan hina sepertiku,” jawab wanita itu tanpa emosi, “Satu-satunya pilihan lain adalah mati… Antara mati karena hujatan mereka atau mati kelaparan. Dan mati berarti aku kalah dari mereka. Mana mungkin aku membiarkan itu terjadi? Aku lebih memilih tidur dengan seratus bangsawan dalam semalam daripada membiarkan mereka menang.”

“Kalau kubilang aku bisa membawamu ke surga, apa kau akan percaya?”

“Kau bercanda?” untuk pertama kalinya Eve mendengar wanita itu tertawa lepas, “Sekian lama hidup seperti ini, aku sudah bosan dengan yang kausebut surga!

Sedetik berikutnya, wanita itu terdiam dan kembali menatap Lux. Mungkin itu hanya tipuan mata, tapi tatapan tajamnya seolah melunak.

“Mungkin kau memang bisa… Tapi sudah kubilang, hargaku mahal.”

“Bukan surga yang seperti itu yang kumaksud,” jawab Lux, “Maksudku surga sungguhan, tempat yang dituju jiwa orang-orang baik setelah mati, tempat tinggal sang Pencipta dan malaikat-malaikat.”

Tawa wanita itu makin keras, “Ternyata kau memang benar-benar gila, ya? Kau mau mengajakku bunuh diri bersama atau apa? Sudah kubilang aku masih belum mau mati!

“…Bukannya aku percaya dengan surga atau semacamnya. Terlalu kekanak-kanakan! Lagipula pelacur sepertiku sudah pasti masuk neraka… Kecuali malaikat-malaikat di alam sana butuh hiburan.”

“Aku serius,” Lux sama sekali tidak terlihat main-main. Tidak ada sedikitpun sorot kekanakan yang biasa dilihat Eve ketika mereka bertemu di dunia nyata, “Kalau kubilang aku bisa membawamu ke surga yang sesungguhnya, apa kau percaya?”

Wanita itu tersenyum pahit, seolah berharap itu benar-benar bisa terjadi sementara akalnya yakin itu hanyalah angan belaka. Akhirnya ia berujar, “Tidak ada salahnya mencoba.

Saat itu juga Lux menggenggam tangan si wanita. Keduanya berdiri sementara Lux menatap matanya dalam-dalam. Hanya dengan melihat cara Lux menatap wanita itu, Eve langsung tahu lelaki itu sama sekali tidak main-main.

Akhirnya semua usaha wanita itu untuk tampak tegar dan acuh tak acuh, pipinya yang pucat bersemu merah juga. Jemari Lux menelusuri jejak luka di kening wanita itu dan membelai pipinya sebelum berhenti di dagunya. Lalu lelaki itu membungkuk dan mencium wanita itu.

Eve mendapati Lux yang asli memejamkan kedua matanya, seolah mencoba memanggil kembali sensasi yang mungkin telah lama terkubur dalam ingatannya. Ia tampak benar-benar tenang dan bahagia, bukan lagi sekadar topeng untuk menutupi entah rencana apa yang dia sembunyikan.

Tapi Eve juga melihat tetes-tetes bening mulai mengintip dari sudut mata Lux.

Gadis itu bertanya-tanya, kalau kesadaran Lux menangis seperti sekarang, apakah raganya yang sesungguhnya juga sedang menangis?

Eve pun kembali menyaksikan gambaran masa lalu Lux.

Saat itu juga, Eve melihat keajaiban.

Ketika bibir Lux dan wanita dalam bayangan itu bertemu, sepasang sayap putih membentang dari punggung bekas malaikat itu, sayap-sayap bening yang tampak begitu megah dengan kilaunya yang keperakan. Cahaya yang memancar dari seluruh tubuh Lux mengusir kegelapan yang menyelimuti gang sempit itu. Mata si wanita melebar tak percaya melihat apa yang terjadi pada lelaki yang tengah memeluknya erat itu.

Entah apa yang melintas di pikiran wanita itu, tapi akhirnya ia menutup mata, melingkarkan tangannya di leher Lux, dan membalas ciuman lelaki itu seolah keajaiban yang baru ia lihat tak lebih dari ilusi semata.

Kemudian tangan wanita itu terjatuh dan menjuntai lemas, begitu juga tubuhnya, seolah jiwa yang menopang dirinya baru saja dicuri dari raganya.

“Hei,” Lux memanggil sambil mengguncangkan tubuh wanita itu, “Hei, ada apa?”

“Ini tidak lucu, ayo bangun!”

Jari Lux yang masih bersinar mencari-cari denyut di leher gadis itu, mencoba merasakan napas dari hidungnya, lalu mencoba merasakan detak jantungnya.

Hening.

“Apa-apaan kau? Kaubilang kau belum mau mati, bukan?” suara Lux terdengar semakin panik. Ia terus mengguncang tubuh wanita itu, berharap itu bisa membuka kelopak mata wanita itu, berharap itu  bisa membuat tangan wanita itu kembali hidup dan memeluknya seperti tadi meski hanya sesaat.

Tidak ada reaksi. Tubuh gadis itu sudah membeku sepenuhnya.

“Permainan apa yang kaumainkan kali ini? Bangun! Katakan sesuatu! Lihat aku!” sosok Lux dalam ingatan itu terus memanggil-manggil. Suaranya makin meninggi sebanding dengan rasa frustrasi yang mungkin tengah mengoyaknya dari dalam.

Eve seolah bisa merasakan sakit yang Lux rasakan, seolah sesuatu tengah meremas jantungnya, menghentikan aliran darah menuju pembuluh-pembuluh nadinya. Apa seperti itu rasanya kehilangan seseorang yang begitu dicintai?

Ya. Cinta. Sedikit pun Eve tidak ragu untuk menggunakan kata itu. Kini Eve tahu bahwa Lux yang sesungguhnya tidak selalu sinis dan bertingkah layaknya iblis seperti malam itu, dan dia juga tidak selalu santai dan seenaknya sendiri seperti yang ia kenal. Kini Eve tahu, ternyata Lux juga pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya, bahkan jauh sebelum mereka bertemu.

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang menggema dari kejauhan.

Seharusnya kau menghukum betina itu, Lux Druis, bukannya membiarkan dirimu tergoda dan jatuh dalam dosa-dosanya.”

Rasanya Eve pernah mendengar suara itu, tapi kapan? Di mana? Suara siapakah itu?

Detik berikutnya, Eve terpaku melihat tubuh si wanita buyar menjadi lidah-lidah api berwarna putih dalam pelukan Lux sebelum lenyap tanpa jejak.

“…Sudah cukup.”

Gambaran ingatan itu pun menghilang dalam gelap. Saatnya kembali ke dunia nyata.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2012 in Ange Saga

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: