RSS

Microsleep–Case I

04 Agu

<tek tek tek tek tek>

…Valerie tak punya pilihan selain terus melangkah. Percuma saja ia terus membolak-balik jurnal yang isinya sudah ia hapal di luar kepala itu. Mungkin memang jurnal itu bisa membimbingnya menuju tanah impiannya, namun ia tahu pasti jurnal itu tidak akan membantunya keluar das;ldkgj;stolongakua’soeir’aplklxcv.,xcvnm|

<tek>

…itu tidak akan membantunya keluar da|

<tek tek tek tek tek>

… itu tidak akan membantunya keluar dari hutan ini.

Ketika Valerie menyibak dedaunan yang menghalangi pandaAJSDLKSTOLONGAKU|

<tek>

…menghalangi pandangannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga.

Jeritan perempuVZUOIOTOLONGAKU|

KEMBALIKANMATAKU|

***

14.23
Jocey’s Diner, East Dales, Glenoma

Mata wanita itu terbelalak ketika melihat foto-foto dan dokumen dalam folder yang kuberikan padanya. Kuseruput es kopiku yang sudah tinggal setengah, menyamarkan fakta bahwa aku memperhatikan setiap gerak-geriknya. Kulihat senyumnya memudar sementara matanya terus bergeser bolak-balik dari kiri ke kanan, seolah tidak percaya pada tumpukan bukti yang sudah susah payah kukumpulkan untuknya.

“Bagaimana, Madame? Apa masih ada yang ingin Anda selidiki?”

Wanita itu tersentak. Namun tak sampai sedetik kemudian, ia kembali memasang topengnya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ini sudah lebih dari cukup, Monsieur Curtis,” jawabnya anggun, “Sisa pembayarannya akan segera saya transfer.”

“Maaf, saya tidak bisa berlama-lama,” ujar wanita itu sambil memasukkan folder dariku tadi ke dalam tasnya yang bermerk dan tampak mahal, “Saya harus pergi sekarang, masih ada… um… urusan yang harus saya selesaikan…”

Aku sudah bisa menduga kira-kira urusan apa yang harus ia selesaikan, yang jelas itu berhubungan dengan dokumen yang kuberikan padanya tadi.  Tapi apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan ‘urusan’ itu, aku tidak peduli. Tugasku hanya mengumpulkan informasi, dan apa yang akan ia lakukan setelah mendapat informasi itu sudah bukan tanggung jawabku lagi.

Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangan sebagai salam perpisahan—formalitas. Aku ikut berdiri dan menjabat tangannya.

“Terima kasih banyak , Monsieur.

“Terima kasih kembali, Madame,” jawabku sambil memamerkan senyuman bisnisku yang terbaik, “Senang bekerja dengan Anda.”

Aku kembali duduk dan menenggak habis kopiku sementara wanita tadi—klien terakhirku bulan ini—meninggalkan ruangan dengan langkah yang terburu-buru. Sebeneranya ia cukup cantik, sayangnya ia sama saja dengan puluhan wanita paranoid lainnya yang membayarku agar membuntuti kekasih mereka sendiri.

Makin lama kasus-kasus yang masuk makin membosankan saja. Setiap kali ada insiden menarik, semuanya pasti langsung dimonopoli polisi-polisi bodoh itu. Aku tidak habis pikir, masa semuanya diserahkan pada orang-orang kolot yang menganggap  bahwa berpikir itu membutuhkan otot? Kota ini juga sama kacaunya! Apa definisi detektif swasta di sini sudah berubah menjadi stalker?

Tiba-tiba dial-ku berdering.

Saatnya pergi.

***

15.02

Dales Public Hospital, East Dales, Glenoma

Hal pertama yang menyambutku ketika aku membuka pintu bangsal VIP adalah piring terbang beserta seluruh isinya. Untung aku cepat menghindar. Hal terakhir yang kuinginkan hari ini adalah mendapati pasta bergelantungan di wajahku. Dan tampaknya piring itu bukan benda pertama yang sempat beterbangan di ruangan itu, buktinya ada nampan dan pecahan-pecahan gelas dan beling yang berceceran di lantai.

Dan di tepi ranjang, gadis yang melempar semua benda itu tengah berontak dari pegangan perawat.

“LEPASKAN AKUUUUUU!”

Mademoiselle—“

“LEPASKAN! AKU MAU MATAKU KEMBALI!”

Kuralat pikiranku tadi. Kalau membiarkan wajahku belepotan pasta bisa membuatnya tenang, rasanya aku tidak keberatan.

“Charlotte—“

Dia tidak mendengarku. Dia bahkan tidak tahu aku ada di situ.

Sialnya aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Padahal aku sudah bisa menduga akhirnya akan seperti ini. Ketika dokter mengatakan bahwa kedua bola matanya harus diangkat akibat kecelakaan itu, aku tahu ia pasti akan menderita.

Aku bisa dengan mudah menganalisis target-target investigasiku dan langsung tahu bagaimana aku harus menanganinya, tapi aku kehabisan akal untuk menenangkan seorang gadis yang sudah kukenal seumur hidupku, tunanganku sendiri.

Normalnya seharusnya aku mendekatinya, menggenggam tangannya atau menepuk pundaknya. Mungkin memeluknya atau membisikkan penghiburan.

Tapi ini bukan kondisi normal. Setidaknya bagiku begitu—tidak normal karena sekarang tubuhku seolah membeku di tempat.

“LEPAS—“ Charlotte berhasil lolos dari pegangan si perawat, tapi ia tidak tahu ke mana ia berjalan dan malah menabrak bingkai ranjang.

“Charlotte! Kau tidak apa-a—“

Kali ini ia terpeleset cairan entah apa yang berceceran di lantai dan jatuh—jatuh ke arahku.

Untungnya tubuhku memutuskan untuk bergerak tepat pada waktunya. Aku berhasil menahan tubuhnya.

“Charlotte, ini aku. Gerard.”

“…Gerard?”

Kutuntun Charlotte hingga kembali duduk di tempat tidurnya. Aku juga ikut duduk di sampingnya, terdiam sementara gadis itu menatap—tidak, aku bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan. Gadis itu diam tak bergerak, mungkin mulai mencari-cari kewarasannya, menenangkan diri. Entahlah. Tanpa mata yang bisa menunjukkan ekspresi, aku tak bisa mengerti Charlotte yang sekarang.

Tidak. Aku tidak akan sok tahu. Aku bahkan tidak mengerti Charlotte yang dulu.

Yang bisa kulakukan hanya berada di sampingnya, merangkulnya sementara gadis itu mulai meraung tanpa air mata.

***

17.11

Curtis Private Investigation Office, East Dales, Glenoma

Aku tidak bisa pulang sampai Charlotte tidur. Lebih tepatnya gadis itu tidak membiarkan aku pergi selama dia masih terjaga. Ketika dia tidak terisak dan sesenggukan—aku tidak bilang ‘menangis’, karena dia sudah tidak bisa menangis lagi—yang keluar dari bibirnya hanya ratapan akan kecelakaan naas itu. Aku bahkan tidak benar memerhatikan apa yang dia katakan. Toh aku sudah menduga semuanya, tak akan jauh-jauh dari rasa sakit dan harapan mustahil bahwa matanya bisa kembali.

Aku tidak melihat kejadian persisnya, kejadian yang merenggut mata Charlotte. Aku tidak ada waktu itu. Tiba-tiba saja ada orang tak dikenal yang menghubungiku lewat dial miliknya, memberitahuku bahwa gadis itu ada di rumah sakit sekarang.

Tabrakan. Mobil Charlotte tertabrak truk.

Tabrakan itu cukup parah. Ketika aku sampai di rumah sakit, Charlotte sudah dibungkus perban di sekujur tubuhnya dan dokter meminta persetujuanku untuk melakukan operasi pengangkatan bola matanya. Gadis itu tidak punya keluarga di East Dales—orangtuanya sudah lama meninggal, tinggal beberapa kerabat jauh yang tinggal di Belystad—sehingga akulah yang harus memberi izin untuk operasi mengerikan itu. Tidak ada pilihan lain.

Dan sekarang, aku hanya bisa melihatnya hancur di depan mataku.

Aku melemparkan tubuhku di kursi kerjaku. Pusing. Perkara Charlotte jauh lebih memusingkan—dan jauh lebih penting—daripada mengurusi istri-istri paranoid dan suami bajingan mereka. Aku sudah berkali-kali dihubungi manager dan agensi model tempat Charlotte bekerja. Kubilang Charlotte sedang sakit dan masih dirawat, dan dokter bilang ia sebaiknya tidak menerima pengunjung. Aku juga meminta mereka merahasiakan hal itu pada penggemar-penggemarnya. Toh mereka tinggal membuat publikasi palsu tentang pemotretan di luar negeri atau apa. Begitu mereka tahu aku membohongi mereka dan Charlotte sudah tidak bisa bekerja lagi—kecuali mereka mau mempekerjakan model buta—paling mereka akan menuntutku, tapi itu bukan sesuatu yang tak bisa kutangani.

Dibanding hal itu, aku lebih takut dengan reaksi Charlotte. Hari ini dia mengamuk, entah apa yang akan dia lakukan besok. Dan besok lagi. Dan besoknya lagi, sampai akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa matanya tidak akan kembali. Ia akan kehilangan pekerjaan—kecuali seperti kataku tadi, agensinya mau menerima model buta—padahal pekerjaannya adalah segalanya baginya. Gadis itu bahagia dengan dunia hiburan yang gemerlapan, tapi sekarang ia tidak bisa melihat dunia itu lagi. Dunia itu akan membuangnya. Dan aku tahu dia tidak akan puas denganku, satu-satunya yang tersisa dalam hidupnya, seorang detektif brilian yang kejeniusannya terbuang sia-sia untuk menguntit tukang selingkuh.

Untuk pertama kalinya, aku, Gerard Curtis, private investigator, benar-benar kehabisan akal.

Aku hanya bisa datang ke rumah sakit setiap hari, duduk di sampingnya dan mendengar ratapannya di sela-sela pekerjaanku yang membosankan ini. Hanya itu.

***

02.21

Aku terbangun di meja kerjaku. Tampaknya aku ketiduran tadi, dan sekarang dial-ku bergetar.

“Uh… Halo?”

“Selamat malam, dengan Monsieur Gerard Curtis?”

“Ya, benar.”

“Kami dari pihak kepolisian. Apa benar Anda datang ke Dales Public Hospital hari ini sekitar pukul tiga sore untuk menjenguk Mademoiselle Charlotte Marge?”

Kepolisian?

“…Benar.”

Mademoiselle Marge saat ini sedang kami mintai keterangan mengenai pembunuhan Monsieur Christian Chizeau. Kami mohon Anda juga segera ke markas utama untuk memberi kesaksian.”

…Pembunuhan? Apa aku masih belum bangun juga?

“Maaf, bisa tolong diulang sekali lagi, Monsieur?

Si polisi mengulangi kalimat yang sama persis.

“Baiklah. Saya akan segera ke sana.”

Cepat-cepat kuambil mantelku dan kukantongi dial-ku sebelum berlari keluar meninggalkan kantor.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 4, 2012 in random

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: