RSS

MICROSLEEP–Case 1.2

16 Agu

02.56

Dales Police Headquarters, East Dales, Glenoma

Markas polisi Dales sebenarnya agak jauh dari kantorku, tapi di jam-jam segini, tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana dengan kecepatan penuh.

Aku membuka jendela mobilku dan menyerahkan ID-ku pada polisi trainee yang tugas jaga. Bocah itu tampak terkesiap melihat namaku, lalu cepat-cepat meraih walkie-talkie-nya. Aku tidak pernah mengerti polisi Dales. Bisa-bisanya mereka menempatkan bocah amatir di shift malam. Bagaimana kalau ada yang menerobos masuk? Bagaimana kalau ada narapidana yang kabur?

“S-silakan masuk, Monsieur! Akan ada petugas yang mengantar Anda ke ruang pemeriksaan,” bocah itu mengembalikan ID-ku.

“Terima kasih,” kuambil ID-ku sebelum menutup jendela mobil dan mencari parkir.

Aku tidak butuh petugas untuk mengantarku ke ruang pemeriksaan. Toh aku sudah pernah masuk ke ruangan itu beberapa kali. Memang aku tidak pernah masuk sebagai saksi, tapi yang benar saja, masa aku yang biasa masuk sebagai penyidik harus digiring ke dalam seperti tersangka?

“Curtis,” polisi yang ‘menyambutku’ di pintu masuk gedung utama menyapaku, “Charlotte Marge, eh? Boleh juga kau.”

“Berisik kau, Laurent.”

“Waktu mereka  mengeluarkan surat panggilan untukmu, aku langsung bilang aku saja yang keluar. Sepertinya kau benar-benar kena masalah kali ini,” ujar Laurent ketika kami berjalan masuk.

“…Surat panggilan? Kupikir aku hanya dimintai keterangan biasa, bukan sebagai saksi resmi. Mereka hanya memanggilku lewat telepon.”

“Suratnya ada padaku,” Laurent menunjukkan kertas yang dipegangnya sejak tadi, benar-benar surat panggilan saksi resmi dengan namaku tertera di situ, “Desmont yang memimpin penyidikan, jadi dia tahu kau akan datang sendiri tanpa perlu repot-repot mengirim orang tengah malam buta begini.”

“…Apa yang terjadi?”

Korban bernama Christian Chizeau, 42 tahun, tinggal bersama istri dan dua orang anak di daerah Sale di pinggiran East Dales. Hanya itu yang aku tahu. Dia adalah sopir truk yang menabrak Charlotte. Aku pernah berpapasan dengan istrinya beberapa kali di rumah sakit, pria sialan itu menyetir dalam keadaan setengah mabuk dan masih dirawat inap saat aku menjenguk Charlotte kemarin sore.

“Matanya dicongkel.”

“Apa?!”

…Sesadis itu?

“Diperkirakan kejadiannya sekitar tengah malam. Korban dicekik dengan bantal, lalu matanya dicongkel. Atau sebaliknya, entahlah. Untung kau sudah tidak di rumah sakit jam segitu, kalau tidak statusmu pasti sudah jadi tersangka.”

Kejadian tengah malam, dicekik dengan bantal, lalu matanya dicongkel.

Jangan-jangan—

Tidak. Tidak mungkin.

Staf rumah sakit? Keluarga korban?

“Pacar artismu itu juga dicurigai. Infusnya sudah dicabut dan dia masih dirawat inap di rumah sakit. Lagipula dia punya motif, bagaimanapun juga korban yang menyebabkan kece—“

“TIDAK MUNGKIN! Charlotte tidak mungkin—”

“H-hei, tenang dulu, Curtis! Lepaskan aku! Kita di markas polisi!”

“…Maaf,” aku melepaskan cengkeramanku pada kerah seragam Laurent.

“—lagipula mereka tidak mungkin langsung menjadikan Charlotte Marge tersangka. Dia buta dan baru saja sadar dari koma. Aku ragu dia bisa keluar dari kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.”

“Kau benar,” kenapa aku ini? Tentu saja mereka mengerti hal itu. Dengan keadaan seperti itu, idak mungkin Charlotte bisa membunuh Christian Chizeau.

Tiba-tiba Laurent berhenti berjalan dan memandangiku dengan tatapan aneh, “Karena tidak mungkin Marge yang melakukannya, kecurigaannya berpindah padamu.”

Hah?

“Aku? Kau bercanda, ya?”

“Pakai otakmu, Curtis. Charlotte Marge kehilangan matanya dan jadi setengah gila gara-gara Christian Chizeau. Lalu di malam pertama Marge sadar, Chizeau ditemukan tewas tanpa mata. Tidak mungkin Marge pelakunya, karena Marge sendiri buta. Siapa lagi yang bisa membalaskan dendamnya kalau bukan pacarnya sendiri?”

Sial. Logikanya tepat, “Tapi aku ada di kantor semalaman! Lagipula bagaimana aku bisa menyelinap dan kabur tanpa ketahuan? Demi Tuhan, matanya dicongkel! Pasti ada petugas jaga yang melihatku berlumuran darah—“

“Simpan saja pembelaanmu untuk pemeriksaan nanti, Curtis. Toh statusmu masih saksi resmi. Aku tahu pelakunya tidak mungkin kau, tapi kalau kau salah bicara, kau bisa benar-benar dijadikan tersangka,” Laurent menepuk pundakku.

Sialan.

Memang lelaki terkutuk itu yang menghancurkan Charlotte-ku. Kuakui setiap kali aku melihat Chizeau yang masih terkapar di bangsal kelas tiga, aku berharap matanya yang harus diangkat, bukan Charlotte. Toh dia yang menyetir sambil mabuk, kecelakaan itu salahnya. Tapi… membunuhnya? Sampai mencongkel matanya?

Siapapun yang melakukannya lebih pantas mati dibanding pemabuk itu. Charlotte sudah cukup menderita karena kecelakaan itu. Gara-gara penjahat sakit itu, sekarang kami malah dicurigai melakukan perbuatan kejinya itu.

Bangsat!

“Gerard Curtis,” Laurent mengumumkan kedatanganku begitu dia membuka pintu ruang pemeriksaan.

Semua yang ada di dalam langsung menoleh ke arah kami… kecuali Charlotte yang langsung berdiri dan mencari-cari ke arah yang salah.

“Ger… Gerard?”

“Tenang dulu, Mademoiselle Marge—“ seorang perawat yang duduk di samping Charlotte—perawat yang sama dengan yang kutemui tadi sore—mencoba menenangkan gadis itu. Lagi-lagi Charlotte berontak, “Lepaskan aku! Gerard! GERARD!”

“Laurent, kemari,” suara tegas dan berat datang dari sisi lain ruangan tempat interogasi berlangsung. Aku langsung mengenali kumis tebal si pemilik suara—Eduard Desmont, pemimpin penyidikan kali ini, “Dan kau, Curtis, urus gadismu itu. Kau baru akan kutanyai setelah petugas rumah sakit.”

Cih. Mentang-mentang jadi ketua investigasi, dia jadi berlagak.

“Gerard…”

Aku berjalan ke deretan bangku panjang tempat Charlotte dan beberapa orang lain menunggu—mungkin para saksi yang harus diperiksa berkaitan dengan kasus Chizeau.

“Charlotte, ini aku,” kupegang tangannya dan merangkul bahunya dengan tanganku yang satu lagi, mengisyaratkan agar dia kembali duduk. Aku juga duduk di sampingnya, membiarkan gadis itu kembali terisak, persis seperti tadi sore di rumah sakit.

“Mereka… Mereka jahat, Gerard… Mereka menuduhku me-me-membunuh—AKU! Mereka menuduhku pembunuh!”

“Sssh…” sial. Aku jadi tidak bisa konsentrasi mendengar pembicaraan Desmont dengan si petugas rumah sakit, “Tenang saja, Charlotte. Mereka hanya… Hanya salah menebak…”

Tentu saja. Tidak mungkin Charlotte yang membunuh Christian Chizeau, kan?

…Ya. Tidak mungkin.

Tapi siapa?

Aku melihat ke sekeliling. Selain polisi dan kami berdua, ada lima orang lain di ruangan ini. Dokter yang menangani Charlotte dan Chizeau sedang diinterogasi sementara perawat yang ditugasi mengurus Charlotte duduk di dekat kami. Lalu ada pegawai administrasi shift malam rumah sakit yang tidak pernah kuingat namanya. Wanita itu duduk agak jauh dari kami. Kepalanya ditundukkan dan dia tampak gemetar… Mungkin dia yang pertama menemukan korban. Tidak jauh darinya ada seorang pemuda pirang dengan seragam mahasiswa magang yang perhatiannya tertuju pada Desmont dan si dokter.

Terakhir, seorang gadis kurus berkacamata duduk di depan mereka berdua sambil memeluk sesuatu—netbook? Tampaknya dia bukan petugas rumah sakit, gadis itu tidak memakai seragam. Tapi siapa dia? Kerabat korban? Yang jelas aku tidak pernah melihatnya di sekitar rumah sakit…

Ngomong-ngomong soal kerabat korban, aku sama sekali belum melihat istri maupun anak-anak Chizeau. Di mana mereka? Masa mereka belum dipanggil kemari?

“Curtis!”

Desmont… Aku bisa menanyakan langsung tentang mereka semua padanya…

Kubilang pada Charlotte aku harus ‘memberi polisi-polisi itu pelajaran’ agar dia mau melepaskanku tanpa membuat keributan, barulah aku beranjak dan duduk di hadapan Desmont.

“Hei—“

“Gerard Curtis, tiga puluh dua tahun, pekerjaan detektif swasta, benar?”

“Desmont, kau tahu—“

“Menurut catatan resepsionis, kau datang ke Dales Public Hospital sekitar jam tiga sore pada hari Kamis, 15 September, untuk menjenguk Charlotte Marge, pasien di kamar 132.”

“Benar, tapi—“

“Kapan kau meninggalkan rumah sakit?”

“Sekitar jam lima sore. Hei, Desmont—“

“Menurut keterangan petugas rumah sakit, terkadang kau memperhatikan korban Christian Chizeau di bangsal 305 dari jendela di pintu bangsal. Apa kau juga melakukannya di kunjunganmu yang terakhir itu? Atau ada interaksi lain dengan korban?”

Sial! Dia tidak mau membiarkanku menanyakan apapun!

“Tidak. TIdak ada interaksi dengan korban sama sekali.”

“Apa yang kau lakukan setelah meninggalkan rumah sakit sampai ketika korban ditemukan pukul satu tadi pagi?”

“Aku di kantorku sampai dipanggil ke sini.”

“Ada saksi atau bukti yang memastikan kau berada di kantormu sampai kau datang ke sini?”

Pertanyaan apa itu?! Desmont benar-benar menganggapku sebagai tersangka! Keparat!

“…Aku tidak tahu. Mungkin petugas ronda. Entahlah.”

Desmont menghela napas panjang. Dari ekspresinya, tampaknya masih belum ada petunjuk yang berarti. Bahkan aku sama sekali tidak punya bayangan tentang si pelaku. Siapa pelakunya? Kerabat? Relasi korban? Apa motifnya? Utang? Dendam pribadi?

…Tapi kalau sesederhana itu, untuk apa pelaku sampai mencongkel mata korban? Dan bagaimana dia bisa menyelinap ke rumah sakit tengah malam tanpa menimbulkan keributan? Pihak rumah sakit seharusnya tidak mengizinkan pengunjung di atas jam sembilan malam. Apa pelakunya sudah menunggu dari sebelum itu?

Lalu ada jejak darah. Pelaku pasti berlumuran darah akibat mencongkel mata korban. Seharusnya ada jejak darah di lantai yang bisa menunjukkan cara pelaku meninggalkan tempat kejadian… Atau setidaknya sampai tempat pelaku membuang pakaian yang berlumur darah. Seharusnya itu juga bisa jadi petunjuk.

“Desmont, kau tahu aku bisa membantumu membereskan kasus ini! Beritahu aku apa yang sudah kalian dapatkan dari TKP dan interogasi tadi.”

“Aku—kami tidak bisa memberimu informasi apapun, Curtis. Kau adalah saksi, warga sipil, dan tugasmu hanya menjawab, bukan bertanya! Kau sendiri yang menolak masuk kepolisian dan menghabiskan hidupmu memata-matai orang sebagai detektif swasta murahan. Kau tahu data-data berkaitan dengan kasus yang ditangani kepolisian harus dijaga kerahasiaannya terhadap warga sipil, bukan?”

Detektif swasta murahan, kau bilang?

“Kecuali kau punya surat permohonan tertulis untuk menyelidiki kasus ini dari kepolisian atau klien sipil, kami tidak bisa memberi apapun.”

“Desmont, kau—!“ tinjuku sudah hampir melayang, tapi seseorang menahanku dari belakang, “—Laurent, lepaskan aku! Biarkan aku menghajarnya!”

“Whoa… Tahan dulu, Curtis!”

Aku menarik lenganku, tapi Laurent malah menahan bahuku dan menarikku mundur.

“Kau gila, ya?” Laurent malah berbisik padaku dengan nada panik, “Kau di posisi sulit sekarang! Desmont bisa menjadikanmu tersangka dan menahanmu kapan saja!”

…Sial.

Laurent benar.

Desmont berdiri dan memberiku tatapan sinis sebelum berdeham dan mengumumkan bahwa pemeriksaan selesai sampai di sini.

“Maaf, Curtis. Aku juga tidak bisa membantu,” ujar Laurent sambil mengangkat bahu. Setelah mengatakan hal tak berguna itu, dia ikut meninggalkan ruang periksa menyusul Desmont.

***

04.12

Curtis Private Investigation Office, East Dales, Glenoma

Aku langsung kembali ke kantor setelah mengantar Charlotte kembali ke rumah sakit. Aku berhasil mengorek sedikit informasi dari perawat dan dokter yang ikut kembali ke rumah sakit bersama kami, tapi percuma. TIdak ada yang benar-benar bisa memberi titik terang. Si pegawai administrasi sendiri masih terlihat sangat syok—ternyata memang dia yang pertama menemukan korban. Kudengar gadis berkacamata itu tiba-tiba datang ke rumah sakit dan memaksa masuk ke kamar korban, bahkan sampai menyeret si petugas administrasi dan keamanan yang tidak mencoba mencegahnya masuk. Entah bagaimana caranya, gadis itu seolah tahu Chizeau telah meninggal, tapi dia sendiri tidak yakin.

Seharusnya aku menanyainya setelah pemeriksaan selesai, tapi gadis itu langsung pergi begitu Desmont keluar.

…Desmont benar-benar keterlaluan kali ini. Dia, Laurent, dan aku satu angkatan di akademi dulu. Aku tidak mau jadi seperti mereka, terjebak dalam  sistem birokrasi di kepolisian yang dikekang pemerintah, di mana kau harus siap melepaskan kasus apa pun bila ada perintah atasan. Sejak saat itu, setiap aku berurusan dengan kepolisian untuk kasus tertentu—untuk SEGELINTIR kasus tertentu—Desmont-lah yang paling sering membuatku kesal.

Dan sekarang dia yang memimpin penyidikan, dan dia menempatkanku sebagai saksi yang berpotensi menjadi tersangka!

Sebenarnya apa maunya?

“SIAAAAAAAL!”

Pintu mobilku kujadikan pelampiasan kekesalanku ketika aku turun untuk membuka pintu garasi.

“…Monsieur Gerard Curtis?”

Suara itu memanggilku dari arah pintu kantorku. Siapa yang datang mencariku fajar-fajar begini?

Aku menoleh dan menemukan sosok si gadis berkacamata dari kantor polisi tadi disinari lampu jalan.

“Aku… Aku butuh bantuanmu,” suaranya lemah dan terdengar gugup, “Kau detektif swasta, kan?”

Aku menyuruhnya menunggu selagi aku memasukkan mobil ke garasi. Setelah itu aku masuk dan membuka pintu kantor dari dalam dan mempersilakannya masuk.

“Kau gadis yang di kantor polisi tadi, yang menemukan mayat Christian Chizeau?”

Gadis itu mengangguk, “Namaku Corrine Leroux.”

“…Kenapa kau mencariku kemari?”

“Para polisi tidak percaya padaku… Tapi aku punya petunjuk! Kau seorang detektif dan juga terseret dalam kasus ini. Kupikir… Kupikir kau bisa membantu menyelidikinya. Untuk mendapat keterangan yang dimiliki kepolisian, kau harus memiliki permohonan tertulis dari klien, bukan? Aku bersedia jadi klienmu, aku juga akan menjawab semua pertanyaanmu dan membayarmu.”

Kesempatan!

…Tapi gadis ini juga mencurigakan. Apa yang dia dapatkan kalau aku berhasil menyelesaikan kasus ini?

“…Dengan satu syarat. Kau harus percaya padaku. Yang akan kutunjukkan padamu mungkin tidak masuk akal, tapi kau harus percaya padaku.”

Memangnya apa yang dia punya?

…Kurasa sebaiknya kuiyakan saja, pura-pura percaya, dan bergerak sesuai dengan analisisku sendiri. Toh aku bisa mendapatkan informasi, baik yang dimiliki maupun tidak dimiliki kepolisian.

“Baiklah. Apa yang ingin kau tunjukkan?”

Gadis itu mengeluarkan sebua netbook hitamdari tas selempangnya dan menyalakannya. Ekspresinya tetap datar, tidak berubah sama sekali sejak aku pertama melihatnya di depan kantor.

“Tadi sekitar tengah malam, aku sedang mengerjakan naskahku… Lalu tanpa sadar… Tanganku seolah bergerak sendiri…”

Corrine Leroux menunjukkan halaman word processor dari layar netbook-nya. Awalnya tampak seperti naskah novel biasa, tapi selanjutnya huruf-huruf yang ada tampak tidak beraturan, tidak terbaca.

Tunggu dulu. Ada bagian yang tampak seperti… pesan?

‘Jeritan perempuVZUOIOTOLONGAKU

KEMBALIKANMATAKU’

Apa-apaan ini?

“Aku tidak sadar ketika mengetik itu. Arwah Christian Chizeau yang melakukannya. Dia melakukannya untuk berbicara padaku.”

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 16, 2012 in random

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: