RSS

Paramanagari–Second Entry

19 Agu

Kukira aku sudah mati.Tapi kalau keadaannya begini, mati pun aku tidak keberatan.

Kalau perhitunganku tidak salah, seharusnya ini sudah hari kelima sejak kesadaranku pulih. Tapi tetap saja mereka tidak mengizinkanku beranjak dari ranjang dan keluar kamar sendiri. Lebih tepatnya mereka tidak mengizinkanku melakukan apapun sampai mereka yakin aku sudah benar-benar sembuh. Padahal ada banyak hal yang ingin kulihat di luar sana.

Aku harus puas dengan yang bisa kulihat dari jendela—lebih tepatnya lubang persegi empat di dinding, seperti jendela tanpa kaca—kamar ini. Tapi bahkan ini pun sudah melebih apa yang kuharapkan terakhir kali.

Aku melihat sekelumit dari hamparan tanaman serupa ilalang yang hijau dengan pucuk-pucuk kekuningan. DI baliknya ada dinding berupa lembah hijau berhias pepohonan tinggi yang daunnya menjuntai bagai hujan permata.

Bahkan sampai pembaringanku pun—sesuatu yang mereka sebut dipan—tak pernah kulihat sebelumnya. Ini semua asing bagiku, tapi semua terlihat indah.

Dan di antaranya, yang terindah adalah seorang gadis dengan bunga-bunga bermekaran di rambutnya yang hitam kelam, dengan kulit kecoklatan—gelap, tapi tak segelap kulit orang selatan—dan lengan yang panjangnya mencapai lutut serta jemari berlapis logam kekuningan runcing… Gadis yang menyelamatkan nyawaku dan merawatku sampai hari ini, seorang gadis dari suku Parama.

Ya, Paramanagari itu nyata. Dan di sanalah aku berada sekarang.

***

Valerie masih tidak mempercayai apa yang ia dengar. Otaknya terus-menerus mengulang kalimat yang sama berkali-kali, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“…Aku berasal dari Paramanagari!

Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Ini semua terlalu mudah. Bahkan orang paling mujur sekalipun tidak mungkin bisa seberuntung ini.

“Kau dari… Paramanagari?”

“Iya—ups!” tiba-tiba gadis aneh itu menutup mulutnya seolah baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan. Matanya birunya yang tadinya berbinar-binar kini menatap bebatuan di tanah dengan murung.

“Percuma saja kukatakan, kau juga pasti menertawakanku…”

Valerie sendiri terlalu terkejut untuk berkata-kata. Ia bahkan tidak bisa mengenali perasaannya sendiri. Senang? Bahkan ungkapan ‘bagai mimpi menjadi nyata’ tak cukup untuk menggambarkannya. Ragu? Gadis itu tidak pernah sedikitpun meragukan keberadaan Paramanagari—setidaknya kalaupun pernah, ia pasti cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu. Namun ketika tiba-tiba seseorang dari negeri surga itu tiba-tiba muncul di hadapannya ketika ia sudah bersiap untuk melepas segalanya dan menempuh pencarian yang sulit, bagaimana mungkin ia bisa yakin itu bukan ilusi?

“Ayahanda memang pernah bilang orang-orang Dunia Luar tidak tahu-menahu tentang Paramanagari, tapi masa mereka begitu tega mengejekku seperti itu?” gadis itu mulai mengeluh, “Belum lagi pria-pria mengerikan tadi! Memang orang-orang di sini tidak beradab seperti di kampung, tapi bahkan orang barbar sekalipun tidak memburu manusia seperti hewan yang memburu mangsa!”

Valerie masih terlalu terpana untuk memerhatikan racauan gadis itu. Entah karena sadar ocehannya tidak dipedulikan atau karena hal lain, gadis itu tiba-tiba tampak panik. Matanya terbelalak dan jemarinya—Valerie baru sadar kalau jemari-jemari itu tertutup oleh pelat-pelat kekuningan yang panjang dan meruncing—kembali menutupi sebagian wajahnya. Kemudian si gadis aneh merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk.

Paramanagari… Gadis itu berasal dari Paramanagari…

“Maaf! Maaf! Aku bicara terlalu banyak, ya? Gawat… Kalau Ayahanda ada di sini, aku pasti sudah dihukum!” Valerie terlalu sibuk dengan pikirannya yang terasa meledak-ledak untuk memperhatikan gelagat aneh gadis itu.

Valerie ingat, dalam jurnalnya, ayahnya mengatakan bahwa tangan orang-orang dari Paramanagari memang panjang sampai selutut. Valerie juga ingat, orang-orang Parama mengenakan ombak yang dilingkarkan di pinggang. Dan emas… Kini gadis itu ingat kapan ia pernah melihat kata itu. Kata itu banyak ditemukan di bagian awal jurnal ayahnya—sesuatu yang dicari sang Raja hingga mau membiayai Cervall untuk menemukan tanah itu—hingga akhirnya hampir tidak disebut sama sekali dari tengah hingga halaman-halaman terakhir…

Ia mengerti. Ya, kini ia benar-benar mengerti. Kini ia tahu, ombak yang dimaksud adalah kain biru laut yang terikat di pinggang gadis itu. Kini ia tahu seperti apa rupa emas itu, tahu seperti apa kilaunya dan mengapa orang-orang terus mengejarnya…

“Kau… Ini bukan mimpi, kan?!” Valerie mencengkeram bahu terbuka si gadis asing dan mengguncangnya  ringan, “Ini benar-benar bukan mimpi, kan?!”

“Eh? Mimpi? Kurasa bukan. Kalau ini memang mimpi, tidak mungkin orang-orang itu bisa mengejarku seperti ini! …Eh, tunggu, bisa jadi ini mimpi pertanda—eh?” tiba-tiba Valerie menarik tangan Prasthina dan menyeretnya sambil berpacu melintasi pepohonan.

“Hei! Ada apa? Kenapa tiba-tiba—“

“Orang-orang itu mengejar lagi! Kau tidak dengar?!” sahut Valerie. Suaranya terdengar panik. Sebenarnya dia tidak benar-benar yakin pria-pria tadi sudah mulai mengejar mereka, tapi ia bisa mendengar gerutuan kesal mereka dari kejauhan.

Valerie tidak tahu kapan orang-orang itu akan mengejar, tapi kalau mereka diam di tempat, mereka pasti akan tertangkap cepat atau lambat. Tidak ada waktu untuk pertanyaan. Mimpi atau bukan, Valerie tetap tidak mau sampai babak belur—apalagi sampai ‘dihabisi’—oleh penjahat sialan itu. Mereka berhenti di persimpangan di depan sebuah tebing dengan napas yang hampir putus.

“Hah… hah… Ke-ke mana sekarang?” tanya Prasthina sambil mencoba mengatur napasnya.

“Tidak tahu… Jangan tanya a—“

“Ke sana!”

“Hah?”  Valerie menoleh ke arah Prasthina yang tengah menunjuk ke arah kanan.

“Katanya jalan ke kota terdekat di sebelah sana! Ayo cepat!” sahut Valerie yang tampak begitu yakin, padahal sedetik yang lalu ia malah bertanya pada Valerie ke mana mereka harus pergi.

“Kau tahu dari mana?” Valerie tampak tidak yakin. Gadis itu masih ingat kalau ada banyak jalan memutar di hutan itu. Salah belok saja bisa membuat mereka berputar-putar di tempat yang sama, karena itulah ia tersesat tadi. Sementara Prasthina… Seharusnya gadis itu bahkan lebih buta arah dibanding Valerie, bagaimana dia bisa begitu yakin?

“Pohon-pohon yang mengatakannya padaku! Ayo!” kali ini Prasthina yang menarik tangan Valerie.

…Pohon-pohon?

“Tunggu dulu!” Valerie menahan langkahnya. Prasthina ikut berhenti dan menoleh dengan tatapan bingung, “Kenapa?”

“Bunga di rambutmu, apa bisa dilepas?”

“…Bisa, memangnya kenapa?”

“Sudah, jangan banyak tanya! Cepat lepas!”

Meski terlihat bingung, Prasthina menurut. Aneh, ia melepas bunga-bunga itu seperti memetik dari tangkainya, tidak seperti seseorang yang melepas hiasan rambut biasa…

…Tidak ada waktu untuk memikirkan hal remeh seperti itu. Valerie mengambil bunga-bunga itu dari tangan Prasthina dan melemparnya ke arah jalan yang berlawanan.

“H-hei! Apa yang kaulakukan?”

“Aku mencoba mengelabui orang-orang itu! Bunga di rambutmu itu mencolok dan jelas-jelas bukan bunga yang tumbuh di hutan ini, kalau kusebar di sebelah sana, penjahat tadi pasti mengira kita lari ke sana!” jelas Valerie buru-buru, entah Prasthina mendengar semuanya dengan jelas atau tidak.

“Ah! Kau benar!” gadis asing itu tampak takjub, tapi sebelum ia sempat berkata-kata lagi, Valerie sudah mulai berlari lagi di depannya.

***

“Eeeeeh? Sungguh? Kau sedang mencari kampung halamanku?” Prasthina si gadis Parama tampak begitu antusias ketika mendengar Valerie menceritakan bagaimana ia bisa tersesat di hutan tadi. Valerie mengangguk dengan tak kalah semangat. Sekarang mereka sudah lebih aman, setidaknya cukup untuk saling bicara dan mengenal. Prasthina benar, mereka tak  perlu berlari lama hingga sampai keluar dari hutan. Mereka juga cukup beruntung ada pedagang yang mau memberi tumpangan di tempat penyimpanan barang di kereta kudanya.

…Entah kereta itu mengangkut apa, tapi baunya agak tajam dan mengganggu. Apa boleh buat, setidaknya baunya masih bisa ditahan, sementara kaki mereka sudah terlalu pegal untuk lanjut berjalan entah berapa lama hingga sampai ke kota.

“Begitulah! Selama ini…” Valerie meraba kulit tua yang membungkus jurnal ayahnya, benda yang selama ini memuat mimpi-mimpinya sejak kecil, “Selama ini Paramanagari hanyalah rahasia antara aku dan ayahku. Waktu kecil, aku sering memamerkan pada anak-anak di Ibukota bahwa ayahku pernah mencapai tanah surga itu, tapi mereka malah menertawakanku dan mengataiku pembual.”

“Jahat sekali! Orang lain yang kutemui juga menertawakanku!” Prasthina berkomentar sambil mendengus kesal.

“Yang lebih parah lagi, mereka juga menghina ayahku. Aku langsung menghajar mereka, tapi Ayah pasti memarahiku begitu aku pulang.”

“Kenapa? Kau kan tidak salah!” protes Prasthina. Namun detik berikutnya, gadis itu seolah menyesali protesnya itu, “Yah… Ayahanda juga pasti akan marah kalau aku berkelahi sih… Tapi kan kau hanya ingin membelah ayahmu! Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama!”

Gadis ini serius sekali menanggapinya, batin Valerie, “Itu bukan masalah sih… Orang seperti ayahku tidak pernah bisa benar-benar marah. Tapi setelah itu Ayah memintaku untuk tidak menceritakan tentang Paramanagari pada orang-orang. Mereka tidak akan mengerti, katanya.”

“Tunggu dulu, kalau begitu ayahmu sudah pernah ke Paramanagari?”

“Tentu saja! Kalau tidak, mungkin aku juga hanya menganggap Paramanagari itu sekedar mitos… Prasthina? Kau kenapa?”

Sekilas gadis Parama itu tampak antusias, tapi tiba-tiba dia tampak murung lagi. Sudah berapa kali ekspresinya berubah mendadak seperti itu? Dan sekarang dia bahkan tidak lagi menatap Valerie langsung. Pandangannya tertuju pada jari-jarinya yang tertutup logam runcing di pangkuannya.

“Ayahmu itu… Seperti apa orangnya?” tanyanya ragu, “Apa mungkin aku pernah bertemu dengannya dulu… di Paramanagari?”

Mendengar pertanyaan Prasthina, Valerie malah tertawa, “Haha… Mana mungkin kau pernah betemu ayahku! Ayah pergi ke Paramanagari entah berapa puluh tahun yang lalu, bahkan jauh sebelum aku lahir!”

“Begitu ya…” Prasthina belum benar-benar kembali ceria seperti sebelumnya, tapi sekarang gadis itu menarik napas lega. Melihatnya terdiam seperti itu, Prasthina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Kau sendiri kenapa bisa berada di sini? Bukankah sudah berabad-abad orang Parama tidak pernah keluar dari tanah suci mereka?”

“Aku keluar untuk mencari seseorang. Aku keluar untuk mencari kekasihku.”

“…Kekasihmu?”

“Iya. Dia… Dia berasal dari dunia luar, err, maksudku tempat ini, bukan orang dari suku kami. Kami biasa memanggilnya Saphala, dan dia berasal dari kerajaan Saro—Sarofik? Apa kau tahu tentang kerajaan itu?”

“Maksudmu Tsarovich? Itu memang nama kerajaan ini, tapi persisnya dari mana dia berasal? Kota mana? Tidak mungkin kau mencari di seluruh penjuru negeri kan?”

“Uh… Namanya… Gazzai? Yang jelas, katanya letaknya di daerah Timur…”

“Kasai! Aku tahu tempat itu! Seharusnya tidak terlalu jauh, hanya beberapa hari perjalanan, tergantung kita turun di kota mana dari sini,” Valerie menjelaskan. Kota itu adalah tujuannya yang pertama, tempat ayahnya dulu memulai pencarian Paramanagari. Seharusnya dari hutan tadi, ia keluar di kota Granite, kota yang membatasi Tsarovich Tengah dan Timur, lalu menumpang kereta pedagang ke Kasai.

“Benarkah? Syukurlah! Kalau begitu kau bisa menunjukkan jalannya padaku?” semangat kembali berbinar-binar dari mata Prasthina yang bulat dan biru.

“Tentu saja!” …kecuali kereta ini tidak berhenti di Granite. Entah kenapa sepotong kejujuran itu tersangkut di tenggorokan Valerie, “Kau sendiri… Apa kau bisa menunjukkan jalan ke Paramanagari?”

Valerie menanti jawaban Prasthina dengan penuh harap. Menurut jurnal ayahnya, sang arkeolog sendiri kehilangan kesadaran setelah berminggu-minggu terjebak di belantara di pulau selatan dan sudah berada di Paramanagari ketika dia bangun. Hal yang sama belum tentu terjadi pada Valerie. Yang bisa ia lakukan adalah mengikuti jejak perjalanan ayahnya, mendatangi setiap tempat yang didatanginya dan berharap mengalami kejadian yang sama.

Tapi sekarang berbeda. Prasthina, gadis dari tanah Paramanagari, dengan lengan yang mencapai lutut dan bunga yang mekar dari rambutnya, berada tepat di hadapannya. Jika gadis itu bersedia mengatakan ‘ya’, cita-citanya akan langsung jadi nyata. Ia bisa menjelajah ke mana pun ia suka, melihat tempat-tempat di Tsarovich dalam jurnal ayahnya yang mengisi sebagian mimpi-mimpinya, lalu ia bisa langsung pergi ke Paramanagari dan membuktikan bahwa tanah surga itu benar-benar ada.

Semuanya tampak begitu mudah. Tidak. Semuanya memang begitu mudah, tapi itu semua tergantung jawaban Prasthina.

“Bagaimana kalau begini saja? Kau temani aku mencari Saphala, lalu kita bertiga bersama-sama kembali ke Paramanagari!”

Bukan ide buruk.

“Baiklah! Kalau begitu aku akan membantumu menemukan kekasihmu, lalu kita bersama-sama ke Paramanagari. Begitu kan kesepakatannya?”

Prasthina mengangguk dengan semangat, lalu mengulurkan tangannya, memamerkan jemarinya yang berlapis logam mengilap—emas.

“Eh?”

“Ayo jabat tangan!”

“Jabat tangan?”

“Kemarikan tanganmu! Tangan kananmu!” Prasthina lengan kanan Valerie dan menggenggam telapaknya dengan tangannya yang terulur tadi, “Ini salam perkenalan, sapaan, dan lambang perjanjian di kampung halamanku! Sekarang kita sudah sepakat, kan? Aku berjanji akan mengajakmu ke Paramanagari setelah menemukan kekasihku! Sekarang giliranmu!”

“Oh… Begitu rupanya…” Valerie masih tampak agak bingung, tapi ia membalas ‘jabat tangan’ Valerie dengan balik menggenggam tangan gadis itu, “Aku juga, aku berjanji akan membantumu menemukan kekasihmu, lalu kita bersama-sama pergi ke Paramanagari!”

Valerie memandangi tangan mereka yang saling bertaut. Kulitnya yang terang tampak kontras dengan Prasthina yang kecoklatan.

Mereka begitu berbeda. Asing. Tapi Valerie seolah bisa melihat dirinya—bukan, bukan dirinya, tapi sesuatu yang sangat akrab dengannya—dalam diri gadis Parama itu. Dan untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari rumahnya untuk memulai petualangan ini, ia merasa benar-benar beruntung.

Tak lama kemudian, kereta yang mereka tumpangi mulai melambat. Hiruk-pikuk keramaian mulai terdengar samar.

“Hei, nona-nona di belakang! Kita sudah sampai di Granite!”

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 19, 2012 in Paramanagari

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: