RSS

Balispiritfest YEY! – bagian 1

07 Apr

…Adalah sebuah pengalaman ajaib.

“Through the beneficial and inspirational traditions of yoga, dance, music and healing, The BaliSpirit Festival illustrates the Balinese Hindu concept of Tri Hita Karana: living in harmony with our spiritual, social, and natural environments.

Embodying the spirit of Bali, the five-day, five-night BaliSpirit Festival offers you a concentrated schedule of events to choose from. Running from 8am till 11pm each of the 5 days, events include interactive workshops & seminars, a lively community market & healing center, a children’s activity zone and live performances in the daytime coupled with a vibrant night time program of live bhakti and world music concerts, both in majestic Bali settings.

This amazing annual event features the world’s top teachers and musicians, presenting to a tuned-in, turned-on audience of empowered shape shifters from across the globe.”

— balispiritfestival.com

Selama lima hari saya menjadi volunteer tim media untuk acara ini, sebuah acara ‘ajaib’ yang dipenuhi oleh bule-bule hippie. Job desc saya tidak terlalu hectic dan masih memberi banyak ruang untuk menikmati festival. Jujur saja, daripada pekerjaan, faktor cuaca lebih bikin sengsara. Acara ini diawali dengan orientasi volunteer yang dibuka dengan ritual ala Indian–menebar tembakau ke 6 penjuru yang melambangkan sosok-sosok yang sepatutnya dihormati, dari orang tua sampai roh bumi. Jumlah volunteer saja ada 250 dan mayoritas warga negara asing. Keanekaragaman ini adalah eye candy buat saya. Jarang-jarang saya bisa melihat wajah kaukasia ataupun negroid dengan variasi sebanyak ini di satu tempat. Ditambah lagi banyak yang gayanya aneh-aneh, lengkap dengan aksesoris etnik dan gaya rambut yang nyeleneh.

Saya tidak akan mengomentari busana di sini. Separuhnya memakai terlalu sedikit pakaian untuk dikomentari.

Anyway, selama lima hari acara, ada lebih dari 100 workshop yoga, musik, dan tari. Di antaranya ada kelas-kelas yang normal, tapi ada juga yang aneh dan ‘mistis’. Yang tergolong normal dan saya ikuti antara lain kelas African dance (dari Burkina Faso; saya harus menahan diri untuk tidak menyanyi  “Hasa Diga Eebowai” di tempat umum) dan alat musik kora (khas Senegal, cara mainnya mirip harpa). Saya juga ikut workshop flow dance yang merupakan dasar untuk macam-macam tarian dalam sirkus, tari api misalnya. Workshop ini dibuka dengan menyalurkan energi unicorn (?) yang melambangkan harmoni ke seluruh tubuh. Menu utamanya adalah latihan pola gerakan dasar yang bisa dikombinasikan untuk membentuk macam-macam koreografi. Sekarang saya sudah lupa semua sih.

Jujur saja, saya agak skeptis melihat ini semua, ratusan orang menghabiskan ratusan dolar untuk candu relaksasi yang sebenarnya hanya mengandalkan sugesti. They’re picking things from here and there and mashed ’em up into something new with no base, but they believe it works and it does. Segala macam paham-paham yang dianggap ‘eksotis’ dicampur aduk jadi sesuatu yang baru oleh orang-orang yang tidak hidup sejak awal dengan paham-paham itu. Sebagai orang ‘timur’ yang pahamnya dicomot, saya merasa aneh menyaksikan ini semua. Saya tidak bisa tidak merasa orang-orang ini hanya menipu diri sendiri dengan ketenangan sementara. Meski begitu, dari salah satu workshop ‘aneh’ yang saya ikuti (vocal awakening berupa proses sugesti yang mendorong self-expression dan berbagi emosi lewat suara), saya sadar bahwa walau sementara, sugesti-sugesti yang diberikan bukanlah sesuatu yang buruk. Baik malah. Kalau memang orang-orang ini berjodoh dengan kehidupan ‘spiritual’ yang seperti ini ya tak apalah, toh mereka jadi orang baik karenanya.

Atraksi lain dalam acara ini adalah panggung musik di siang hari yang menampilkan segala macam bentuk musik dan tarian. Banyak yang asyik dan pastinya unik. Sayang saya tidak terlalu memerhatikan. Yang paling memorable adalah musik kora yang sempat saya ikuti workshop-nya dan pertunjukan kesenian Dayak. Dayak memang badass. 

Bentuk advanced dari aneka kesenian ini adalah konser musik di malam hari yang benar-benar heboh ala night party pada umumnya. Seharusnya performer dalam konser ini menampilkan world music dari seluruh dunia. Sayangnya saya tidak tahan dengan suasana yang terlalu sempit dan ingar-bingar sehingga tidak bisa benar-benar menikmati pertunjukan.

Overall, walau panasnya Pulau Dewata sangat menyiksa, saya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Achievement Unlocked: Attending Hippies Festival. Penyesalan utama saya adalah tidak sempat menjalin cukup social link baru dengan volunteer maupun peserta asing yang dapat berlangsung sampai setelah acara selesai. Semoga saya bisa kembali ke sini tahun depan… Or better yet, ikut Ubud’s Writers Festival.

Seperti yang tertera pada judul, ini adalah bagian satu yang berfokus pada acara Bali Spirit Festival 2016. Bagian berikutnya akan mengisahkan side trip ajaib yang penuh dengan keindahan.

Soon.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2016 in random

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: