RSS

Balispiritfest Yey – part 2

13 Apr

Ini dia bagian kedua yang telah tertunda sekian lama. Rencananya mau saya tulis akhir pekan, tapi Sabtu lalu saya terkapar. Entah karena efek psikologis atau apa, tubuh saya bereaksi buruk terhadap konsumsi obat tuberculosis. Digabung dengan masuk angin lv. 99, saya terkapar selama dua hari penuh. Senin dan Selasa adalah hari-hari pertama saya jadi anak kantoran dan butuh satu entri sendiri untuk diceritakan.

Jadi, hal menarik lain dalam perjalanan pertama saya ke Pulau Dewata ada di side trip-nya. Kali ini saya ‘ngekor’ guru saya ke tempat pelukis tradisional dan pengrajin–tempat-tempat yang tidak mungkin bisa saya akses dalam perjalanan biasa. It’s not exactly written in travel guides. 

Dari side trip ini saya jadi tahu bahwa lukisan khas Bali ada dua, lukisan realis yang biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari dan lukisan tradisional kuno (istilahnya ‘kamasan’) dengan style wayang, diwarnai dengan pola-pola dan warna-warna primer.

Lukisan yang lebih realis ini punya ciri khas lineart yang defined dan tekstur yang detail, seringkali menggambarkan suasana ramai seperti di pasar atau upacara adat, tapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk lukisan yang lebih ‘sepi’. Satu hal yang baru saya sadari sekarang, gaya ini tidak pernah dipakai dalam lukisan yang tidak ada manusianya. Lukisan kamasan sendiri biasa digunakan untuk keperluan ritual Hindu. Obyek yang digambar meliputi kisah-kisah perwayangan, siksa neraka, dll. Ada yang hitam putih, ada yang berwarna. Pewarnaan dilakukan dengan… guess what…

Bambu runcing.

I’ll leave it to your imagination.

Detail lukisan kamasan ini super rumit dan kecil-kecil. Teknik pewarnaannya serupa dengan apa yang kita sebut cell shading. Lebih spesifik lagi, warna-warna di lukisan kamasan serupa garis-garis yang membentuk pola, sangat mirip dengan latihan mewarnai di SMA saya. Dulu kami sering diberi gambar dan disuruh mewarnai dengan spidol. Contoh hasil yang diberi model-modelnya ya mirip lukisan kamasan ini.

One thing Balinese painters have in common: attention to detail. Pelukis Bali tampaknya tidak ada yang ‘pemalas’. They don’t cut corners. Sampai tekstur objek paling kecil dan paling jauh dilukis dengan jelas. Kalau saya yang buat sih pasti cuma blok warna di-blur doang. Dan ada satu pelukis kamasan yang sudah tidak melukis lagi gara-gara sakit, beliau bisa memasukkan keseluruhan epos Mahabharata dalam satu kanvas besar. Gambarnya kecil-kecil dan setiap gambar kecil-kecil ini penuh dengan detail yang lebih kecil lagi.

I truly thought this was impossible for humans.

Kesimpulannya sih saya makin sadar bahwa selama ini saya pemalas level 99, bahkan di antara pemalas sekalipun.

Kunjungan lainnya adalah ke pandai besi. Yeah, blacksmiths are real, more than a house with hammer sign in JRPG towns. Senjata yang dibuat bukan cuma pedang polos biasa, ada pisau sampai pedang dengan berbagai ukuran dihiasi ukiran-ukiran fabulous.

Saya pikir butterfly knife di department store itu keren. Nope. Gak ada apa-apanya.

Suatu hari ketika saya kaya, saya harus punya satu.

Ada kisah sedih dibalik semua kehebatan ini. Saat bom bali tahun 2012 lalu, banyak pelukis yang berhenti dan alih profesi jadi tukang bangunan. Yang tersisa sebagian besar membuat lukisan mengikuti gaya yang lebih mainstream. Kita hanya bisa berharap keindahan yang saya temukan ini masih ada dalam beberapa abad ke depan ._.

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 13, 2016 in random

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: