Arsip Kategori: random

Mindfuck – Festival German Cinema 2016

Saya menghadiri festifal film Jerman di Bandung yang diadakan tanggal 15-17 Oktober 2016 di XXI Ciwalk. Kapan lagi nonton bioskop gratis, pikir saya. Saya hanya menghadiri pemutaran 5 dari 9 film karena kendala waktu dan kemalasan. Berikut adalah rangkuman pengalaman (karena saya terlalu malas bikin ulasan yang baik dan benar)1. Verfehlung

  1. VERFEHLUNG (2015)
    by Gerd Scneider 

    About a priest whose colleague slash best friend was charged with sexual abuse. First thing I noticed was these priests are very pleasant to the eye /smacked. I thought it’s going to be something like The Hunt. Apparently the accused was guilty, but the church bailed him out and covered things up on the basis of compassion to the guilty, solidarity, and keeping the parishioners’ faith. Jakob, the main character, was against this. Lying is wrong and it’s obvious he worries for the (future) victims. At the same time he’s doing service for a rape convict who ended up losing hope committing suicide. This must have reminded Jakob of his friend in similar position. In the end, nothing changed. It ends with jakob fighting his friend and realize that before he could judge or save his fallen friend, he had to free himself from his own sins and prejudices.

    I’m in a love-hate relationship with such ending. Nothing is solved and everyone’s still sad as ever. I hate it because i already know life is shitty, i don’t need a movie to tell me that. I love it because the message is beautiful.

    The acting was stellar. I was dragged into a roller coaster of emotions. The dilemma was so real that all i thought throughout the film as the same as what Jakob thought of. What is right or wrong. The film is kinda confusing because it’s too much ‘show’ and I’m kinda unfamiliar with pastoral terms.

    Then I watch a review on:…/german-film-tackles-aftermath-…/a-18344744

    My afterthought: my favorite thing about this movie is how it talks about the thin line between judgement, forgiveness, and feigning ignorance, especially in a religious community. I can relate to feeling the need to correct misconduct while knowing i have faulty perception on things, not to mention misconduct in different aspects. Plus instead of judging, shouldn’t we show more compassion? But we were also told that it was wrong to let wrongdoings slide. Aaaaand we can’t be sure if what we perceive as wrongdoings are actually wrong.

    2. 24 WOCHEN (2016)
    by Anne Zohra Berrached

    THIS. IS. SCARY. And very depressing.

    about a stand up comedian whose unborn child was diagnosed with down syndrome and heart defect faced with the option to go through late stage abortion.

    Not to far in we get to see prejudice towards people with down syndrome FROM A TEEN AND A LITTLE GIRL. Then we get an insider view on the life of a handicapped baby in intensive care. THE CRIES SOUNDED LIKE IT HURT SO MUCH. Not to mention the cuts on womb interior. Then I began imagining what it’s like being a clot of frail junk in such dark, cramped space and born into a small frail and helpless body. BEING BORN IS SCARY. And I’d have to go through such phase again if I were reborn as human. The pain would be unbearable, years of being helpless. And i’ll have to suffer through growing up, along with all those bad memories that are still haunting me now. And that’s if I were human. Chances are I couldn’t even be human again.
    Of course, pregnancy and giving birth are scary too. The main character made a tough choice. I disagree, but it’s understandable.

    by Florian Micoud Cossen

    “Dead is dead.” –Miranda

    It talks about death. And it’s VERY CUTE.
    Mike Tyson (not the boxer) wants to die because life sucks and he has nothing to live for. After numerous failed suicide attempt, the last one led him to find a tumor in his brain. It can be fixed with a surgery but why get rid of the tumor if it could grant his wish? Knowing death will come soon enough, he is now able to enjoy his last living days.

    Mike reminds me of the main character in The Perks of Being A Wallflower, but cuter. He covered his room with plastic before shooting himself (with a blank rifle). His last message was “Don’t forget to feed the goldfish”. He builds his own coffin and buries dead deer he accidentally ran over. After he got the tumor diagnosis, the scene was just amazing.

    Spoiler alert, dude lives and someone else dies. It was sad without too much screaming and bawling. More bittersweet kind of sad, but it’s still fun to watch. The synopsis made me believe it’s going to be all hospital drama and angst, but this isn’t. There is angst and drama but they are portrayed in something other than yelling and breaking things (there are those too, but just enough). And in the end, I like how it portrays death as something to be accepted, while life is to be lived.

    After all, death is certain, its time is uncertain.

    And The music was fascinating. Actually adds more than mere ambience bgm. Best parts: post diagnosis, mom vs dad battle, funeral song for the dead deer.

    Have someone else’s review and a trailer.

    4. LENALOVE (2016)
    by Florian Gaag

    Moral message: “Don’t fuck with artists.”

    If Kipen were more serious and edgy, this would be his work. It’s thriller in completely common setting. No serial killer, no psychopaths, no ghosts, no creepy myths. Only mishaps from plain teenage jealousy, a little drugs, adult insecurities, and fake social media account. The emotional intensity was on par with The Hunt, if not more. The pressure is on everyone. Everyone is guilty for something and suffering from something. I won’t talk about the plot, except that it ends with a power couple creating elaborate and fantastic mural collab overnight.

    Everyone who can get a hand on this should watch it.

    and #1 otp in the festival goes to the power couple. Once again, don’t fuck with artists.

    5. WILD (2014)
    by Jean-Marc Vallee


    Basically girl meets boy. Replace boy with wolf. And girl might actually be wolf in girl body. Add a confused boss and voila!

    I’m still mindfucked.

    Best actor might go to the wolfies. I don’t know how they manage to go through this whole thing.

    Despite the mindfuck, canine is love, canine is life.

Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 18, 2016 in random


Balispiritfest Yey – part 2

Ini dia bagian kedua yang telah tertunda sekian lama. Rencananya mau saya tulis akhir pekan, tapi Sabtu lalu saya terkapar. Entah karena efek psikologis atau apa, tubuh saya bereaksi buruk terhadap konsumsi obat tuberculosis. Digabung dengan masuk angin lv. 99, saya terkapar selama dua hari penuh. Senin dan Selasa adalah hari-hari pertama saya jadi anak kantoran dan butuh satu entri sendiri untuk diceritakan.

Jadi, hal menarik lain dalam perjalanan pertama saya ke Pulau Dewata ada di side trip-nya. Kali ini saya ‘ngekor’ guru saya ke tempat pelukis tradisional dan pengrajin–tempat-tempat yang tidak mungkin bisa saya akses dalam perjalanan biasa. It’s not exactly written in travel guides. 

Dari side trip ini saya jadi tahu bahwa lukisan khas Bali ada dua, lukisan realis yang biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari dan lukisan tradisional kuno (istilahnya ‘kamasan’) dengan style wayang, diwarnai dengan pola-pola dan warna-warna primer.

Lukisan yang lebih realis ini punya ciri khas lineart yang defined dan tekstur yang detail, seringkali menggambarkan suasana ramai seperti di pasar atau upacara adat, tapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk lukisan yang lebih ‘sepi’. Satu hal yang baru saya sadari sekarang, gaya ini tidak pernah dipakai dalam lukisan yang tidak ada manusianya. Lukisan kamasan sendiri biasa digunakan untuk keperluan ritual Hindu. Obyek yang digambar meliputi kisah-kisah perwayangan, siksa neraka, dll. Ada yang hitam putih, ada yang berwarna. Pewarnaan dilakukan dengan… guess what…

Bambu runcing.

I’ll leave it to your imagination.

Detail lukisan kamasan ini super rumit dan kecil-kecil. Teknik pewarnaannya serupa dengan apa yang kita sebut cell shading. Lebih spesifik lagi, warna-warna di lukisan kamasan serupa garis-garis yang membentuk pola, sangat mirip dengan latihan mewarnai di SMA saya. Dulu kami sering diberi gambar dan disuruh mewarnai dengan spidol. Contoh hasil yang diberi model-modelnya ya mirip lukisan kamasan ini.

One thing Balinese painters have in common: attention to detail. Pelukis Bali tampaknya tidak ada yang ‘pemalas’. They don’t cut corners. Sampai tekstur objek paling kecil dan paling jauh dilukis dengan jelas. Kalau saya yang buat sih pasti cuma blok warna di-blur doang. Dan ada satu pelukis kamasan yang sudah tidak melukis lagi gara-gara sakit, beliau bisa memasukkan keseluruhan epos Mahabharata dalam satu kanvas besar. Gambarnya kecil-kecil dan setiap gambar kecil-kecil ini penuh dengan detail yang lebih kecil lagi.

I truly thought this was impossible for humans.

Kesimpulannya sih saya makin sadar bahwa selama ini saya pemalas level 99, bahkan di antara pemalas sekalipun.

Kunjungan lainnya adalah ke pandai besi. Yeah, blacksmiths are real, more than a house with hammer sign in JRPG towns. Senjata yang dibuat bukan cuma pedang polos biasa, ada pisau sampai pedang dengan berbagai ukuran dihiasi ukiran-ukiran fabulous.

Saya pikir butterfly knife di department store itu keren. Nope. Gak ada apa-apanya.

Suatu hari ketika saya kaya, saya harus punya satu.

Ada kisah sedih dibalik semua kehebatan ini. Saat bom bali tahun 2012 lalu, banyak pelukis yang berhenti dan alih profesi jadi tukang bangunan. Yang tersisa sebagian besar membuat lukisan mengikuti gaya yang lebih mainstream. Kita hanya bisa berharap keindahan yang saya temukan ini masih ada dalam beberapa abad ke depan ._.


Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 13, 2016 in random


Balispiritfest YEY! – bagian 1

…Adalah sebuah pengalaman ajaib.

“Through the beneficial and inspirational traditions of yoga, dance, music and healing, The BaliSpirit Festival illustrates the Balinese Hindu concept of Tri Hita Karana: living in harmony with our spiritual, social, and natural environments.

Embodying the spirit of Bali, the five-day, five-night BaliSpirit Festival offers you a concentrated schedule of events to choose from. Running from 8am till 11pm each of the 5 days, events include interactive workshops & seminars, a lively community market & healing center, a children’s activity zone and live performances in the daytime coupled with a vibrant night time program of live bhakti and world music concerts, both in majestic Bali settings.

This amazing annual event features the world’s top teachers and musicians, presenting to a tuned-in, turned-on audience of empowered shape shifters from across the globe.”


Selama lima hari saya menjadi volunteer tim media untuk acara ini, sebuah acara ‘ajaib’ yang dipenuhi oleh bule-bule hippie. Job desc saya tidak terlalu hectic dan masih memberi banyak ruang untuk menikmati festival. Jujur saja, daripada pekerjaan, faktor cuaca lebih bikin sengsara. Acara ini diawali dengan orientasi volunteer yang dibuka dengan ritual ala Indian–menebar tembakau ke 6 penjuru yang melambangkan sosok-sosok yang sepatutnya dihormati, dari orang tua sampai roh bumi. Jumlah volunteer saja ada 250 dan mayoritas warga negara asing. Keanekaragaman ini adalah eye candy buat saya. Jarang-jarang saya bisa melihat wajah kaukasia ataupun negroid dengan variasi sebanyak ini di satu tempat. Ditambah lagi banyak yang gayanya aneh-aneh, lengkap dengan aksesoris etnik dan gaya rambut yang nyeleneh.

Saya tidak akan mengomentari busana di sini. Separuhnya memakai terlalu sedikit pakaian untuk dikomentari.

Anyway, selama lima hari acara, ada lebih dari 100 workshop yoga, musik, dan tari. Di antaranya ada kelas-kelas yang normal, tapi ada juga yang aneh dan ‘mistis’. Yang tergolong normal dan saya ikuti antara lain kelas African dance (dari Burkina Faso; saya harus menahan diri untuk tidak menyanyi  “Hasa Diga Eebowai” di tempat umum) dan alat musik kora (khas Senegal, cara mainnya mirip harpa). Saya juga ikut workshop flow dance yang merupakan dasar untuk macam-macam tarian dalam sirkus, tari api misalnya. Workshop ini dibuka dengan menyalurkan energi unicorn (?) yang melambangkan harmoni ke seluruh tubuh. Menu utamanya adalah latihan pola gerakan dasar yang bisa dikombinasikan untuk membentuk macam-macam koreografi. Sekarang saya sudah lupa semua sih.

Jujur saja, saya agak skeptis melihat ini semua, ratusan orang menghabiskan ratusan dolar untuk candu relaksasi yang sebenarnya hanya mengandalkan sugesti. They’re picking things from here and there and mashed ’em up into something new with no base, but they believe it works and it does. Segala macam paham-paham yang dianggap ‘eksotis’ dicampur aduk jadi sesuatu yang baru oleh orang-orang yang tidak hidup sejak awal dengan paham-paham itu. Sebagai orang ‘timur’ yang pahamnya dicomot, saya merasa aneh menyaksikan ini semua. Saya tidak bisa tidak merasa orang-orang ini hanya menipu diri sendiri dengan ketenangan sementara. Meski begitu, dari salah satu workshop ‘aneh’ yang saya ikuti (vocal awakening berupa proses sugesti yang mendorong self-expression dan berbagi emosi lewat suara), saya sadar bahwa walau sementara, sugesti-sugesti yang diberikan bukanlah sesuatu yang buruk. Baik malah. Kalau memang orang-orang ini berjodoh dengan kehidupan ‘spiritual’ yang seperti ini ya tak apalah, toh mereka jadi orang baik karenanya.

Atraksi lain dalam acara ini adalah panggung musik di siang hari yang menampilkan segala macam bentuk musik dan tarian. Banyak yang asyik dan pastinya unik. Sayang saya tidak terlalu memerhatikan. Yang paling memorable adalah musik kora yang sempat saya ikuti workshop-nya dan pertunjukan kesenian Dayak. Dayak memang badass. 

Bentuk advanced dari aneka kesenian ini adalah konser musik di malam hari yang benar-benar heboh ala night party pada umumnya. Seharusnya performer dalam konser ini menampilkan world music dari seluruh dunia. Sayangnya saya tidak tahan dengan suasana yang terlalu sempit dan ingar-bingar sehingga tidak bisa benar-benar menikmati pertunjukan.

Overall, walau panasnya Pulau Dewata sangat menyiksa, saya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Achievement Unlocked: Attending Hippies Festival. Penyesalan utama saya adalah tidak sempat menjalin cukup social link baru dengan volunteer maupun peserta asing yang dapat berlangsung sampai setelah acara selesai. Semoga saya bisa kembali ke sini tahun depan… Or better yet, ikut Ubud’s Writers Festival.

Seperti yang tertera pada judul, ini adalah bagian satu yang berfokus pada acara Bali Spirit Festival 2016. Bagian berikutnya akan mengisahkan side trip ajaib yang penuh dengan keindahan.


Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2016 in random


‘Walking Dead’

Situs ini sudah lama mati suri. Sekitar sebulan lalu saat saya masih menderita akibat setan bernama Tugas Akhir, prokrastinasi mendorong saya untuk membuka kembali situs ini. Ketika membaca tulisan-tulisan lama, saya merasa takjub.

“Ini beneran gue yang nulis?”

Frekuensi menulis saya mulai menurun di tingkat tiga. Berkat kemabukan studio yang mengisap semua energi, saya jadi malas mikir di waktu luang. Kebetulan kemampuan menggambar saya mulai ‘membaik’ berkat dorongan dan bantuan teman-teman yang hebat. Saya jadi lebih sering menggambar. Saya juga menemukan hobi baru yang cukup menyita waktu: main boardgame, khususnya Arkham Horror yang satu sesi saja bisa menghabiskan waktu sampai tiga jam. Akibatnya saya hanya menulis seperlunya untuk menyelesaikan proyek-proyek yang terlanjur saya ikuti.

Di tingkat empat, waktu luang seharusnya lebih banyak, tapi entah kenapa semuanya hilang begitu saja. Ada tekanan untuk mulai mengerjakan TA yang berujung pada pelarian dari kenyataan. Saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang saya lakukan pada masa itu.


Saya jadi sadar bahwa ada sesuatu yang hilang. Kepingan-kepingan memori, pengalaman, perasaan… Saya tidak punya catatan yang menyimpan segala macam pergolakan yang saya lewati. Saya makin tersadar ketika melihat status-status lama dari fitur memori facebook yang makin lama makin sepi. Ketika saya tidak menulis, saya mencatat pengalaman saya melalui cetusan-cetusan singkat di media sosial. Media sosial jugalah yang menyerap banyak waktu yang hilang. Lama-kelamaan saya merasa agak ‘berdosa’ melaporkan setiap hal-hal kecil di dinding publik. No one wants to be bothered every little detail of your life. 

Tanpa sadar saya kehilangan banyak hal. Kenangan dan pikiran selama kurang lebih dua tahun hilang begitu saja.

Saat saya menyadari hal itu, muncul dorongan kuat untuk kembali menulis.

…Tapi menulis tentang apa?

Saya pun menyadari kengerian nomor dua. Saya kehilangan ‘kemampuan’ untuk berpendapat. Terlalu banyak informasi berlalu di depan mata. Saya masih punya cukup rasa ingin tahu untuk mengecek informasi-informasi itu, tapi semuanya hanya sekedar numpang lewat. Saking banyaknya rentetan informasi, saya tidak cukup meluangkan waktu untuk mencerna dan membentuk opini. Ketika orang-orang ramai membicarakan sesuatu, saya diam. Kadang karena merasa tidak perlu mengatakan apapun, tapi lebih sering karena saya kehilangan kata-kata.

Saya merasa mati. Kemampuan otak saya untuk berpikir seolah mundur ke level anak TK.

Saya coba mengali ingatan saya selama dua tahun itu. Ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak emosi. Saya bertemu banyak game, film, dan buku hebat yang berpengaruh besar dalam hidup saya. Ada juga rupa-rupa excitement yang menarik untuk dikenang dan dijadikan cerita. Dalam rentang dua tahun itu pula saya bersentuhan dengan bentuk cinta yang paling murni yang menjadi pegangan hidup saya hingga detik ini.

Ada begitu banyak momen yang terlepas, menguap, lenyap. Padahal seharusnya saya mampu memberi mereka bentuk yang dapat bertahan melintas zaman.

Saya tahu saya harus segera mulai mengumpulkan momen-momen itu, juga mengabadikan momen-momen yang akan tercipta di masa mendatang, tapi saya tidak punya kebebasan waktu.

Sekarang saya sudah ‘bebas’. Setidaknya bebas dari tugas akhir. Saya ingin hidup kembali. Saya tidak ingin merasa mati. Karena itu saya harus kembali menulis. Ke depannya blog ini akan dipenuhi dengan segala macam rant, mungkin tentang hal-hal yang baru, mungkin pula tentang yang telah lewat dan terlalu sayang untuk dibiarkan begitu saja. Semoga antiwacana.






Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2016 in random




Ronald (not McDonald) has a friend (?)

Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2013 in random




Ronald (not McDonald)

Ronald (not McDonald)

Adding more details. He’s soooooo fun to draw xDD

Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 13, 2013 in random



So This is What It Takes to be An Artist

Jadi hari minggu kemarin, tangagl 10 Maret, saya kencan bertualang ke Belantara Beton Jakarta bersama seorang kawan (sebut saja Om Johan) demi mengikuti workshop tentang seni grafis digital oleh om-om imba dari studio Imaginary Friends di Singapura. Ketika melihat posternya, saya ngebayangin acaranya seperti semacam tutorial digital painting. Saya nekad ikut aja, toh saya gak sendirian dari Bandung. Siapa sih yang gak penasaran dari mana datangnya benda macam ini?

Selain menemukan fakta bahwa sebuah lubang hitam akan terbentuk otomatis dalam lambung manusia ketika sedang kelaparan, sepanjang perjalanan saya juga ngerasa rada berdosa. Workshop ini tempatnya terbatas, Kalopun saya ikut, kemungkinan saya bisa ngikutin tergolong sangat rendah, plus saya juga bukan mahasiswa seni (yang mendominasi peserta workshop) dan gak berniat menjadikan ilustrasi sebagai sumber nafkah utama. Sementara itu ada lebih banyak orang imba dan orang-orang yang ingin menjadi imba yang memang benar-benar mencurahkan seluruh jiwa dan raga di bidang ini, tapi gak bisa ikut karena kehabisan tempat atau terhalang jarak. Rasanya jadi pengen naik jetpack dan terbang ke Mars.

Akhirnya setelah petualangan mencari jalan di belantara beton a la game Persona di PS 1, saya dan teman saya sampai di Hotel Ritz Carlton–tempat workshop diadakan–dua jam sebelum acara dimulai. Entah kenapa nama saya gak ada di daftar peserta, padahal udah dapat surel konfirmasi dari panitia. Telat sebentar aja saya terancam gak bisa masuk karena terlempar ke waiting list yang konon mendekati 130an orang.

Lalu, ada apa di workshop ini? Saya melihat keajaiban.

Ternyata acaranya lebih ke seminar tentang gimana caranya jadi digital artist profesional, ditambah bonus demo painting oleh para pembicara, yaitu para co-founder dari Imaginary Friends Studio, orang-orang yang mulai dari nol sampai sekarang bisa kerja bareng Capcom, Square Enix, DC Comics, dan label-label terkenal di dunia visual modern lainnya. Yep, gak ada tutorial atau semacamnya. Peserta cuma nonton dan dengerin, plus nanya-nanya. Meski gak bener-bener sesuai harapan, saya gak merasa rugi jauh-jauh ke sana.

Yang paling nancep di saya adalah waktu ngebahas style. Gaya. Ciri khas. Cara yang kita pilih untuk menampilkan ide kita dalam media gambar. Di workshop ini, dijelaskan bahwa style ini gak mungkin didapat kalo kita terus-terusan menggambar hal yang sama. Untuk membentuk style sekaligus meningkatkan skill, sering gambar aja gak cukup. Kita harus sering-sering menggambar hal yang berbeda, entah itu pose yang berbeda, cara shading yang berbeda, pokoknya beda. Setiap kali gambar, kita harus keluar dari zona nyaman dan menjadikan itu ‘nyaman’. Interpretasi saya adalah saya harus nekad gambar sesuatu yang saya gak bisa, lalu membiasakan diri dengan itu sampe jadi bisa. Dengan gitu, barulah kita bisa naik level. Lalu kita juga bakal nemu cara gambar yang paling kita suka. Awalnya mungkin kita nyontek cara gambar orang lain, lalu lama-kelamaan kita bisa gambar dengan cara orang lain itu PLUS dengan cara kita sendiri dengan KONSISTEN–Voila, here’s style for you!

Tapi sebelum itu semua… Teori dasar menggambar harus dikuatin dulu. Anatomi, pencahayaan, warna, komposisi, perspektif, dan estetika, itu dasar-dasar yang dijelasin kemari, semuanya hanya bisa dipelajari dari observasi pada dunia nyata. Sebelum kita bisa bikin gaya sendiri, kita harus bisa bikin sesuatu yang bener dulu. Sesuatu yang nyata. Gak ada ceritanya ngeles, ‘Saya kan gambar chibi, gak usah proporsional banget dong,’ atau alasan lain yang serupa. Seperti kata bang Artgerm yang ngasih ceramah,

“You have to be able to draw something real before going surreal.”

Kata-katanya kayaknya gak persis sih, tapi ya udahlah ya. Pesan tersampaikan. Kasus ini rasanya sama kayak EYD waktu nulis, sebelum bisa melakukan penyelewengan terhadap tata bahasa atas nama seni tulisan, kita harus bener-bener khatam dulu sama tata bahasa itu sendiri.

Di sini saya ketemu sama musuh besar saya. Saya paling males sama yang namanya bikin pose aneh-aneh dan nyari referensi. Maunya langsung gambar aja. Kalo saya emang mau naikin skill, it’s time to change ._.

Lalu satu hal lagi yang berhubungan dengan ‘dasar’ ini, terutama soal estetika. Ketika kita bilang sebuah gambar itu bagus, apa kita bisa nunjukin dengan spesifik apa yang bikin gambar itu bagus? Saya sih biasanya nggak. Terus pas pengen bikin gambar yang bagus, saya juga gak tahu harus bikin apa :v

Satu lagi quote imba yang saya dapet kemarin,

“You can’t draw what you don’t know.”

Ya, walau itu sesuatu yang fantasi sekalipun, kita tetep butuh semacam referensi. Dasar yang kemudian dikasih modifikasi aneh-aneh sampai jadi terlihat hebat. Ingatan juga gak bisa diandalkan.

Setelah dasar-dasar itu, dijelasin juga apa yang perlu dimiliki buat jadi digital artist profesional. Yang pertama itu komitmen dan semangat. You don’t say. Yang kedua, harus sadar akan posisi kita di dunia komersial… Dengan kata lain, kita harus tahu berapa ‘harga’ kita. Ada peserta yang nanyain gimana caranya nentuin harga ketika orang minta jasa gambar–kebingungan yang pernah saya alami, walau cuma dua-tiga kali. Jawabannya adalah, tidak terlalu tinggi sampe gak masuk akal, tapi juga gak terlalu rendah. Cukup buat bikin kita ngerasa bertanggung jawab buat nyelesaiin gambar itu. Bisa juga ngitung per jam, berdasarkan berapa lama yang kita butuhkan buat gambar sampai selesai.

Selanjutnya adalah portfolio yang bagus, yang berkarakter. Disebutin juga bahwa seorang artist  harus tahu banyak, tapi punya keahlian yang spesifik di satu bidang, kalau bisa sampai gak ada duanya. Seorang pro juga harus menguasai dasar menggambar yang kuat sehingga bisa gambar dengan gaya yang fleksibel. Lalu si pro ini juga harus berhubungan baik dengan klien. Si seniman harus bisa memenuhi kebutuhan klien, tapi juga gak bener-bener dengan buta nurutin apa maunya. Caranya bisa dengan bikin plan A, B, dan C. A: turuti si klien sepenuhnya, B: modif-modif dikit, C: suka-suka kita. Awalnya mungkin klien akan ngotot dengan plan A, lalu minta tambahan yang ada di B. Sampe akhirnya ketika hubungan udah mantap, si klien bakal membiarkan kita bersenang-senang dengan plan C.

Lalu kita juga harus tepat deadline… oTL

Yang terakhir adalah… si seniman harus eksis di internet. Dari situ si artist bisa ngebangun fanbase, lalu orang-orang bakal nyari dia meski ada yang lebih bagus/lebih murah, cuma karena ngefans. Bagian ini bikin saya miris, memikirkan nasib akun deviantArt saya yang ditinggal selama setahun. Selama itu, orang-orang yang saya kenal, orang-orang yang nge-watch saya, semuanya kayaknya lupa sama keberadaan saya di situ. Ini beneran contoh nyata dari kegagalan di poin ini ._.

Setelah ceramahnya selesai, ada sesi demo speed painting dari si Om-Kuman-Seni. Di sini letak keajaibannya. Saya gak paham gimana caranya pake dua warna doang bisa langsung bikin gambarnya kelihatan imba. Blendingnya mulus sempurna dengan satu goresan. Bener-bener sihir. Pas nungguin travel di McD Pasar Festival selama 2 jam, saya mencoba meniru sihir yang sama, tapi gagal. Beneran deh, padahal kelihatan simpel. Cuma ngasih warna terang di atas warna dasar, pas nyampurin jumlah goresannya harus seminimal mungkin. Tapi tetep aja, pas saya yang bikin, jadinya fail parah.

Akhirnya saya memutuskan bahwa mungkin 3D painting bukanlah jalan hidup saya ._.

Tapi tetep aja segelintir keajaiban itu menular. Saya jadi nyelesaiin ini:


Ini tokoh utama dari proyek Visual Novel yang baru mulai saya kerjain bersama kawan Genshiken-ITB, cerita ala RPG Jepang klasik kayak Suikoden, Tales Series, dan Final Fantasy generasi awal. Saya ngebayangin setelah proyek ini selesai, orang-orang yang baca bakal merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mainin game-game kuno semacam itu. Ini ada hubungannya dengan apa yang saya dan Om Johan obrolin di perjalanan ke Jakarta, bahwa RPG zaman sekarang bernuansa dark semua, sementara game-game lawas jauh lebih humoris. Saya kayaknya gak pernah main game baru lagi, jadi gak bisa komentar banyak. Tapi soal RPG lawas, saya yakin itu bener. Kapan lagi ada sidequest random buat ngejodohin seorang rakyat jelata dengan anak pedagang kaya yang cintanya terhalang oleh status dan nama?

Kembali ke topik, workshop kemarin bikin saya merasa hebat dan lemah sekaligus. Hebat karena mendapat nasihat-nasihat hebat, petunjuk-petunjuk hebat, dan melihat orang hebat menunjukkan kehebatannya. Lemah karena selama ini saya mengeluh melulu gara-gara gak tahu bakat saya sebenernya ada di mana, sementara orang-orang sudah berjuang setengah mati buat bisa jadi jago dalam satu hal, gak cuma karena memang bakat mereka di situ, tapi karena mereka suka dan berusaha. Gimana mau bisa jago gambar kalo nyari referensi aja mager? Gimana mau jago nulis kalau baca aja jarang?

Let me quote from a dear friend,

“You may brag as you like, whine as you please, just don’t compare your life with others’ because you never know what they’ve been through.”

–Melody Violine

Saatnya melakukan sesuatu.

Lalu, saya gak tahu harus naroh ini di mana, tapi ada satu quote dari salah satu om imba yang ngasih workshop kemarin, tapi saya suka. Intinya sih menurut saya, sampai kapan pun kita gak boleh berhenti belajar.

“It’s what you learn after you think you know everything that matters.”

Dan sebagai penutup, sebuah punchline dari Om-Kuman-Seni

“If you want other people to love your art, you have to love it first.

You have to love what you do.”

4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2013 in random


Tag: ,