RSS

Mimpi Itik Kecil

Jadi ceritanya galau identitas seharusnya menghasilkan inspirasi. Setelah nonton dan nyampah di acara Genshiken Main Muzik hari minggu kemarin, akumulasi galau identitas dan inferiority complex bikin saya pengen bikin lagu.

Image

Tentu saja, yang bikin poster bukan saya, melainkan kawan-kawan di divisi musik Genshiken (~’.’)~. Yang ingin tahu wujud divisi musik Genshiken kayak apa, silakan intip link berikut:
youtube: http://www.youtube.com/channel/UCv1L3rrrLiLYphl6QbKILCw/videos?view=0&flow=grid
soundcloud: http://soundcloud.com/groups/musik-genshiken

Lalu setelah coret-coret, saya cuma bisa menghasilkan satu bait ini:

Itik kecil bermimpi jadi angsa putih nan indah

Itik kecil bermimpi jadi flamingo berbulu merah

Itik kecil bermimpi tapi itu semua takkan terjadi

Seperti mimpiku

Yah, jadinya bodoh dan random.

Hebatnya, pada hari yang sama, beberapa kawan penulis seperjuangan dalam melawan kemalasan ngajak merandom untuk bikin lirik lagu ngikutin BGM sesuatu…

Kayaknya saya bakal bikin buat ‘Gothic Neclord’-nya Suikoden II.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2013 in random

 

Tag:

Mencari Kehidupan di Dunia Maya…

…dan mencoba mengenyahkan kemalasan. Demi dua hal itu, saya bakal nyoba ngupdate blog dengan sedikit lebih rajin.

Beberapa minggu ini saya galau identitas lagi. Gak punya spesialisasi itu… bikin stres. Rasanya saya jadi gak dibutuhkan di mana-mana dan gak bisa menghasilkan apa-apa. Akademis biasa-biasa aja, nulis biasa-biasa aja, gambar biasa-biasa aja, main musik bahkan gak sampe level biasa-biasa aja. Terus abis lulus saya mau ke mana? Masa kerja di bank, tempat semua orang biasa-biasa aja bisa naik pangkat jadi kepala cabang? Ya kali…

Akhirnya saya stres sendiri gara-gara itu dan kerjanya cuma sirik sama orang yang emang punya spesialisasi sambil 9gag-an :v

Setelah bertapa sekian lama, saya mutusin buat kembali ke zaman SMA dulu, waktu saya masih ngerasa nerbitin novel sendiri itu gak mungkin, punya band itu gak mungkin, dan dapet rikues commission itu gak mungkin. Saya nulis cuma karena ingin ngeliat cerita yang mendep di otak saya jadi dan ada yang baca sesekali, gambar karena gambar itu menyenangkan, intinya gak perlu target tinggi-tinggi, yang penting senang. Lalu waktu masa jenuh saya udah lewat, saya baru mempertimbangkan lagi mau ngapain saat itu.

Omong-omong, belakangan ini saya sibuk mencurahkan jiwa buat Genshiken Creative Exhibition a.k.a. Gen-ReOn! (gak ada hubungannya sama manga/anime Genshiken). Sebuah acara pameran karya persembahan dari mahasiswa yang berjuang untuk membuat mimpi menjadi nyata. Event-nya sendiri terdiri atas seminar tanggal 20 April 2013 dan pameran karya + festival tanggal 27 April 2013 di kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung.

Image

Info: http://genreon.wordpress.com/

Bagi yang berdomisili di Bandung, kami bakal nangkring dan numpang eksis di Car Free Day besok, 3 Februari 2013. Sok, mampir.

Lalu saya ngapain di sini? Saya bikin ini:

Image

Wallpaper karakter dari ‘cerpen’ yang bakal saya pamerin di Gen-ReOn!, The Golden Apple. Bukan cerpen juga sih. Novelet mungkin. Bagian 1 dari 2, baru selesai hari ini. Bodohnya adalah setelah hampir sebulan ngerjain dan 75 halaman berlalu, saya baru nyadar kalo ceritanya nyampah banget, gak jelas mau dibawa ke mana. Sebenernya maunya fokus historical romance dengan bumbu fantasi, tapi ternyata saya gak sanggup… Lalu semua berubah ketika petir menyambar dan menciptakan ledakan. Saya bakal cerita lagi kapan-kapan.

Selain itu saya juga bikin komik, buat dimasukin komik kompilasi Unit Kebudayaan Jepang ITB. Awalnya cerita romance sekolahan biasa, lalu di hari deadline, draft-nya ilang dan saya bikin cerita baru yang berakhir jadi doujin dari game kartu BANG! yang asyik sangat.

 Image

So inspired by these badass ladies:
http://bangcardgame.blogspot.com/2011/01/character-strategy-guide-calamity-janet.html
http://silwin.rajce.idnes.cz/Bang/#Elena_Fuente.jpg

Ternyata banyak juga yang terjadi :v =3

Sekarang enaknya ngapain ya?

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 3, 2013 in random

 

Tag:

Paramanagari–Second Entry

Kukira aku sudah mati.Tapi kalau keadaannya begini, mati pun aku tidak keberatan.

Kalau perhitunganku tidak salah, seharusnya ini sudah hari kelima sejak kesadaranku pulih. Tapi tetap saja mereka tidak mengizinkanku beranjak dari ranjang dan keluar kamar sendiri. Lebih tepatnya mereka tidak mengizinkanku melakukan apapun sampai mereka yakin aku sudah benar-benar sembuh. Padahal ada banyak hal yang ingin kulihat di luar sana.

Aku harus puas dengan yang bisa kulihat dari jendela—lebih tepatnya lubang persegi empat di dinding, seperti jendela tanpa kaca—kamar ini. Tapi bahkan ini pun sudah melebih apa yang kuharapkan terakhir kali.

Aku melihat sekelumit dari hamparan tanaman serupa ilalang yang hijau dengan pucuk-pucuk kekuningan. DI baliknya ada dinding berupa lembah hijau berhias pepohonan tinggi yang daunnya menjuntai bagai hujan permata.

Bahkan sampai pembaringanku pun—sesuatu yang mereka sebut dipan—tak pernah kulihat sebelumnya. Ini semua asing bagiku, tapi semua terlihat indah.

Dan di antaranya, yang terindah adalah seorang gadis dengan bunga-bunga bermekaran di rambutnya yang hitam kelam, dengan kulit kecoklatan—gelap, tapi tak segelap kulit orang selatan—dan lengan yang panjangnya mencapai lutut serta jemari berlapis logam kekuningan runcing… Gadis yang menyelamatkan nyawaku dan merawatku sampai hari ini, seorang gadis dari suku Parama.

Ya, Paramanagari itu nyata. Dan di sanalah aku berada sekarang.

***

Valerie masih tidak mempercayai apa yang ia dengar. Otaknya terus-menerus mengulang kalimat yang sama berkali-kali, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“…Aku berasal dari Paramanagari!

Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Ini semua terlalu mudah. Bahkan orang paling mujur sekalipun tidak mungkin bisa seberuntung ini.

“Kau dari… Paramanagari?”

“Iya—ups!” tiba-tiba gadis aneh itu menutup mulutnya seolah baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan. Matanya birunya yang tadinya berbinar-binar kini menatap bebatuan di tanah dengan murung.

“Percuma saja kukatakan, kau juga pasti menertawakanku…”

Valerie sendiri terlalu terkejut untuk berkata-kata. Ia bahkan tidak bisa mengenali perasaannya sendiri. Senang? Bahkan ungkapan ‘bagai mimpi menjadi nyata’ tak cukup untuk menggambarkannya. Ragu? Gadis itu tidak pernah sedikitpun meragukan keberadaan Paramanagari—setidaknya kalaupun pernah, ia pasti cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu. Namun ketika tiba-tiba seseorang dari negeri surga itu tiba-tiba muncul di hadapannya ketika ia sudah bersiap untuk melepas segalanya dan menempuh pencarian yang sulit, bagaimana mungkin ia bisa yakin itu bukan ilusi?

“Ayahanda memang pernah bilang orang-orang Dunia Luar tidak tahu-menahu tentang Paramanagari, tapi masa mereka begitu tega mengejekku seperti itu?” gadis itu mulai mengeluh, “Belum lagi pria-pria mengerikan tadi! Memang orang-orang di sini tidak beradab seperti di kampung, tapi bahkan orang barbar sekalipun tidak memburu manusia seperti hewan yang memburu mangsa!”

Valerie masih terlalu terpana untuk memerhatikan racauan gadis itu. Entah karena sadar ocehannya tidak dipedulikan atau karena hal lain, gadis itu tiba-tiba tampak panik. Matanya terbelalak dan jemarinya—Valerie baru sadar kalau jemari-jemari itu tertutup oleh pelat-pelat kekuningan yang panjang dan meruncing—kembali menutupi sebagian wajahnya. Kemudian si gadis aneh merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk.

Paramanagari… Gadis itu berasal dari Paramanagari…

“Maaf! Maaf! Aku bicara terlalu banyak, ya? Gawat… Kalau Ayahanda ada di sini, aku pasti sudah dihukum!” Valerie terlalu sibuk dengan pikirannya yang terasa meledak-ledak untuk memperhatikan gelagat aneh gadis itu.

Valerie ingat, dalam jurnalnya, ayahnya mengatakan bahwa tangan orang-orang dari Paramanagari memang panjang sampai selutut. Valerie juga ingat, orang-orang Parama mengenakan ombak yang dilingkarkan di pinggang. Dan emas… Kini gadis itu ingat kapan ia pernah melihat kata itu. Kata itu banyak ditemukan di bagian awal jurnal ayahnya—sesuatu yang dicari sang Raja hingga mau membiayai Cervall untuk menemukan tanah itu—hingga akhirnya hampir tidak disebut sama sekali dari tengah hingga halaman-halaman terakhir…

Ia mengerti. Ya, kini ia benar-benar mengerti. Kini ia tahu, ombak yang dimaksud adalah kain biru laut yang terikat di pinggang gadis itu. Kini ia tahu seperti apa rupa emas itu, tahu seperti apa kilaunya dan mengapa orang-orang terus mengejarnya…

“Kau… Ini bukan mimpi, kan?!” Valerie mencengkeram bahu terbuka si gadis asing dan mengguncangnya  ringan, “Ini benar-benar bukan mimpi, kan?!”

“Eh? Mimpi? Kurasa bukan. Kalau ini memang mimpi, tidak mungkin orang-orang itu bisa mengejarku seperti ini! …Eh, tunggu, bisa jadi ini mimpi pertanda—eh?” tiba-tiba Valerie menarik tangan Prasthina dan menyeretnya sambil berpacu melintasi pepohonan.

“Hei! Ada apa? Kenapa tiba-tiba—“

“Orang-orang itu mengejar lagi! Kau tidak dengar?!” sahut Valerie. Suaranya terdengar panik. Sebenarnya dia tidak benar-benar yakin pria-pria tadi sudah mulai mengejar mereka, tapi ia bisa mendengar gerutuan kesal mereka dari kejauhan.

Valerie tidak tahu kapan orang-orang itu akan mengejar, tapi kalau mereka diam di tempat, mereka pasti akan tertangkap cepat atau lambat. Tidak ada waktu untuk pertanyaan. Mimpi atau bukan, Valerie tetap tidak mau sampai babak belur—apalagi sampai ‘dihabisi’—oleh penjahat sialan itu. Mereka berhenti di persimpangan di depan sebuah tebing dengan napas yang hampir putus.

“Hah… hah… Ke-ke mana sekarang?” tanya Prasthina sambil mencoba mengatur napasnya.

“Tidak tahu… Jangan tanya a—“

“Ke sana!”

“Hah?”  Valerie menoleh ke arah Prasthina yang tengah menunjuk ke arah kanan.

“Katanya jalan ke kota terdekat di sebelah sana! Ayo cepat!” sahut Valerie yang tampak begitu yakin, padahal sedetik yang lalu ia malah bertanya pada Valerie ke mana mereka harus pergi.

“Kau tahu dari mana?” Valerie tampak tidak yakin. Gadis itu masih ingat kalau ada banyak jalan memutar di hutan itu. Salah belok saja bisa membuat mereka berputar-putar di tempat yang sama, karena itulah ia tersesat tadi. Sementara Prasthina… Seharusnya gadis itu bahkan lebih buta arah dibanding Valerie, bagaimana dia bisa begitu yakin?

“Pohon-pohon yang mengatakannya padaku! Ayo!” kali ini Prasthina yang menarik tangan Valerie.

…Pohon-pohon?

“Tunggu dulu!” Valerie menahan langkahnya. Prasthina ikut berhenti dan menoleh dengan tatapan bingung, “Kenapa?”

“Bunga di rambutmu, apa bisa dilepas?”

“…Bisa, memangnya kenapa?”

“Sudah, jangan banyak tanya! Cepat lepas!”

Meski terlihat bingung, Prasthina menurut. Aneh, ia melepas bunga-bunga itu seperti memetik dari tangkainya, tidak seperti seseorang yang melepas hiasan rambut biasa…

…Tidak ada waktu untuk memikirkan hal remeh seperti itu. Valerie mengambil bunga-bunga itu dari tangan Prasthina dan melemparnya ke arah jalan yang berlawanan.

“H-hei! Apa yang kaulakukan?”

“Aku mencoba mengelabui orang-orang itu! Bunga di rambutmu itu mencolok dan jelas-jelas bukan bunga yang tumbuh di hutan ini, kalau kusebar di sebelah sana, penjahat tadi pasti mengira kita lari ke sana!” jelas Valerie buru-buru, entah Prasthina mendengar semuanya dengan jelas atau tidak.

“Ah! Kau benar!” gadis asing itu tampak takjub, tapi sebelum ia sempat berkata-kata lagi, Valerie sudah mulai berlari lagi di depannya.

***

“Eeeeeh? Sungguh? Kau sedang mencari kampung halamanku?” Prasthina si gadis Parama tampak begitu antusias ketika mendengar Valerie menceritakan bagaimana ia bisa tersesat di hutan tadi. Valerie mengangguk dengan tak kalah semangat. Sekarang mereka sudah lebih aman, setidaknya cukup untuk saling bicara dan mengenal. Prasthina benar, mereka tak  perlu berlari lama hingga sampai keluar dari hutan. Mereka juga cukup beruntung ada pedagang yang mau memberi tumpangan di tempat penyimpanan barang di kereta kudanya.

…Entah kereta itu mengangkut apa, tapi baunya agak tajam dan mengganggu. Apa boleh buat, setidaknya baunya masih bisa ditahan, sementara kaki mereka sudah terlalu pegal untuk lanjut berjalan entah berapa lama hingga sampai ke kota.

“Begitulah! Selama ini…” Valerie meraba kulit tua yang membungkus jurnal ayahnya, benda yang selama ini memuat mimpi-mimpinya sejak kecil, “Selama ini Paramanagari hanyalah rahasia antara aku dan ayahku. Waktu kecil, aku sering memamerkan pada anak-anak di Ibukota bahwa ayahku pernah mencapai tanah surga itu, tapi mereka malah menertawakanku dan mengataiku pembual.”

“Jahat sekali! Orang lain yang kutemui juga menertawakanku!” Prasthina berkomentar sambil mendengus kesal.

“Yang lebih parah lagi, mereka juga menghina ayahku. Aku langsung menghajar mereka, tapi Ayah pasti memarahiku begitu aku pulang.”

“Kenapa? Kau kan tidak salah!” protes Prasthina. Namun detik berikutnya, gadis itu seolah menyesali protesnya itu, “Yah… Ayahanda juga pasti akan marah kalau aku berkelahi sih… Tapi kan kau hanya ingin membelah ayahmu! Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama!”

Gadis ini serius sekali menanggapinya, batin Valerie, “Itu bukan masalah sih… Orang seperti ayahku tidak pernah bisa benar-benar marah. Tapi setelah itu Ayah memintaku untuk tidak menceritakan tentang Paramanagari pada orang-orang. Mereka tidak akan mengerti, katanya.”

“Tunggu dulu, kalau begitu ayahmu sudah pernah ke Paramanagari?”

“Tentu saja! Kalau tidak, mungkin aku juga hanya menganggap Paramanagari itu sekedar mitos… Prasthina? Kau kenapa?”

Sekilas gadis Parama itu tampak antusias, tapi tiba-tiba dia tampak murung lagi. Sudah berapa kali ekspresinya berubah mendadak seperti itu? Dan sekarang dia bahkan tidak lagi menatap Valerie langsung. Pandangannya tertuju pada jari-jarinya yang tertutup logam runcing di pangkuannya.

“Ayahmu itu… Seperti apa orangnya?” tanyanya ragu, “Apa mungkin aku pernah bertemu dengannya dulu… di Paramanagari?”

Mendengar pertanyaan Prasthina, Valerie malah tertawa, “Haha… Mana mungkin kau pernah betemu ayahku! Ayah pergi ke Paramanagari entah berapa puluh tahun yang lalu, bahkan jauh sebelum aku lahir!”

“Begitu ya…” Prasthina belum benar-benar kembali ceria seperti sebelumnya, tapi sekarang gadis itu menarik napas lega. Melihatnya terdiam seperti itu, Prasthina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Kau sendiri kenapa bisa berada di sini? Bukankah sudah berabad-abad orang Parama tidak pernah keluar dari tanah suci mereka?”

“Aku keluar untuk mencari seseorang. Aku keluar untuk mencari kekasihku.”

“…Kekasihmu?”

“Iya. Dia… Dia berasal dari dunia luar, err, maksudku tempat ini, bukan orang dari suku kami. Kami biasa memanggilnya Saphala, dan dia berasal dari kerajaan Saro—Sarofik? Apa kau tahu tentang kerajaan itu?”

“Maksudmu Tsarovich? Itu memang nama kerajaan ini, tapi persisnya dari mana dia berasal? Kota mana? Tidak mungkin kau mencari di seluruh penjuru negeri kan?”

“Uh… Namanya… Gazzai? Yang jelas, katanya letaknya di daerah Timur…”

“Kasai! Aku tahu tempat itu! Seharusnya tidak terlalu jauh, hanya beberapa hari perjalanan, tergantung kita turun di kota mana dari sini,” Valerie menjelaskan. Kota itu adalah tujuannya yang pertama, tempat ayahnya dulu memulai pencarian Paramanagari. Seharusnya dari hutan tadi, ia keluar di kota Granite, kota yang membatasi Tsarovich Tengah dan Timur, lalu menumpang kereta pedagang ke Kasai.

“Benarkah? Syukurlah! Kalau begitu kau bisa menunjukkan jalannya padaku?” semangat kembali berbinar-binar dari mata Prasthina yang bulat dan biru.

“Tentu saja!” …kecuali kereta ini tidak berhenti di Granite. Entah kenapa sepotong kejujuran itu tersangkut di tenggorokan Valerie, “Kau sendiri… Apa kau bisa menunjukkan jalan ke Paramanagari?”

Valerie menanti jawaban Prasthina dengan penuh harap. Menurut jurnal ayahnya, sang arkeolog sendiri kehilangan kesadaran setelah berminggu-minggu terjebak di belantara di pulau selatan dan sudah berada di Paramanagari ketika dia bangun. Hal yang sama belum tentu terjadi pada Valerie. Yang bisa ia lakukan adalah mengikuti jejak perjalanan ayahnya, mendatangi setiap tempat yang didatanginya dan berharap mengalami kejadian yang sama.

Tapi sekarang berbeda. Prasthina, gadis dari tanah Paramanagari, dengan lengan yang mencapai lutut dan bunga yang mekar dari rambutnya, berada tepat di hadapannya. Jika gadis itu bersedia mengatakan ‘ya’, cita-citanya akan langsung jadi nyata. Ia bisa menjelajah ke mana pun ia suka, melihat tempat-tempat di Tsarovich dalam jurnal ayahnya yang mengisi sebagian mimpi-mimpinya, lalu ia bisa langsung pergi ke Paramanagari dan membuktikan bahwa tanah surga itu benar-benar ada.

Semuanya tampak begitu mudah. Tidak. Semuanya memang begitu mudah, tapi itu semua tergantung jawaban Prasthina.

“Bagaimana kalau begini saja? Kau temani aku mencari Saphala, lalu kita bertiga bersama-sama kembali ke Paramanagari!”

Bukan ide buruk.

“Baiklah! Kalau begitu aku akan membantumu menemukan kekasihmu, lalu kita bersama-sama ke Paramanagari. Begitu kan kesepakatannya?”

Prasthina mengangguk dengan semangat, lalu mengulurkan tangannya, memamerkan jemarinya yang berlapis logam mengilap—emas.

“Eh?”

“Ayo jabat tangan!”

“Jabat tangan?”

“Kemarikan tanganmu! Tangan kananmu!” Prasthina lengan kanan Valerie dan menggenggam telapaknya dengan tangannya yang terulur tadi, “Ini salam perkenalan, sapaan, dan lambang perjanjian di kampung halamanku! Sekarang kita sudah sepakat, kan? Aku berjanji akan mengajakmu ke Paramanagari setelah menemukan kekasihku! Sekarang giliranmu!”

“Oh… Begitu rupanya…” Valerie masih tampak agak bingung, tapi ia membalas ‘jabat tangan’ Valerie dengan balik menggenggam tangan gadis itu, “Aku juga, aku berjanji akan membantumu menemukan kekasihmu, lalu kita bersama-sama pergi ke Paramanagari!”

Valerie memandangi tangan mereka yang saling bertaut. Kulitnya yang terang tampak kontras dengan Prasthina yang kecoklatan.

Mereka begitu berbeda. Asing. Tapi Valerie seolah bisa melihat dirinya—bukan, bukan dirinya, tapi sesuatu yang sangat akrab dengannya—dalam diri gadis Parama itu. Dan untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari rumahnya untuk memulai petualangan ini, ia merasa benar-benar beruntung.

Tak lama kemudian, kereta yang mereka tumpangi mulai melambat. Hiruk-pikuk keramaian mulai terdengar samar.

“Hei, nona-nona di belakang! Kita sudah sampai di Granite!”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 19, 2012 in Paramanagari

 

Tag: ,

MICROSLEEP–Case 1.2

02.56

Dales Police Headquarters, East Dales, Glenoma

Markas polisi Dales sebenarnya agak jauh dari kantorku, tapi di jam-jam segini, tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana dengan kecepatan penuh.

Aku membuka jendela mobilku dan menyerahkan ID-ku pada polisi trainee yang tugas jaga. Bocah itu tampak terkesiap melihat namaku, lalu cepat-cepat meraih walkie-talkie-nya. Aku tidak pernah mengerti polisi Dales. Bisa-bisanya mereka menempatkan bocah amatir di shift malam. Bagaimana kalau ada yang menerobos masuk? Bagaimana kalau ada narapidana yang kabur?

“S-silakan masuk, Monsieur! Akan ada petugas yang mengantar Anda ke ruang pemeriksaan,” bocah itu mengembalikan ID-ku.

“Terima kasih,” kuambil ID-ku sebelum menutup jendela mobil dan mencari parkir.

Aku tidak butuh petugas untuk mengantarku ke ruang pemeriksaan. Toh aku sudah pernah masuk ke ruangan itu beberapa kali. Memang aku tidak pernah masuk sebagai saksi, tapi yang benar saja, masa aku yang biasa masuk sebagai penyidik harus digiring ke dalam seperti tersangka?

“Curtis,” polisi yang ‘menyambutku’ di pintu masuk gedung utama menyapaku, “Charlotte Marge, eh? Boleh juga kau.”

“Berisik kau, Laurent.”

“Waktu mereka  mengeluarkan surat panggilan untukmu, aku langsung bilang aku saja yang keluar. Sepertinya kau benar-benar kena masalah kali ini,” ujar Laurent ketika kami berjalan masuk.

“…Surat panggilan? Kupikir aku hanya dimintai keterangan biasa, bukan sebagai saksi resmi. Mereka hanya memanggilku lewat telepon.”

“Suratnya ada padaku,” Laurent menunjukkan kertas yang dipegangnya sejak tadi, benar-benar surat panggilan saksi resmi dengan namaku tertera di situ, “Desmont yang memimpin penyidikan, jadi dia tahu kau akan datang sendiri tanpa perlu repot-repot mengirim orang tengah malam buta begini.”

“…Apa yang terjadi?”

Korban bernama Christian Chizeau, 42 tahun, tinggal bersama istri dan dua orang anak di daerah Sale di pinggiran East Dales. Hanya itu yang aku tahu. Dia adalah sopir truk yang menabrak Charlotte. Aku pernah berpapasan dengan istrinya beberapa kali di rumah sakit, pria sialan itu menyetir dalam keadaan setengah mabuk dan masih dirawat inap saat aku menjenguk Charlotte kemarin sore.

“Matanya dicongkel.”

“Apa?!”

…Sesadis itu?

“Diperkirakan kejadiannya sekitar tengah malam. Korban dicekik dengan bantal, lalu matanya dicongkel. Atau sebaliknya, entahlah. Untung kau sudah tidak di rumah sakit jam segitu, kalau tidak statusmu pasti sudah jadi tersangka.”

Kejadian tengah malam, dicekik dengan bantal, lalu matanya dicongkel.

Jangan-jangan—

Tidak. Tidak mungkin.

Staf rumah sakit? Keluarga korban?

“Pacar artismu itu juga dicurigai. Infusnya sudah dicabut dan dia masih dirawat inap di rumah sakit. Lagipula dia punya motif, bagaimanapun juga korban yang menyebabkan kece—“

“TIDAK MUNGKIN! Charlotte tidak mungkin—”

“H-hei, tenang dulu, Curtis! Lepaskan aku! Kita di markas polisi!”

“…Maaf,” aku melepaskan cengkeramanku pada kerah seragam Laurent.

“—lagipula mereka tidak mungkin langsung menjadikan Charlotte Marge tersangka. Dia buta dan baru saja sadar dari koma. Aku ragu dia bisa keluar dari kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.”

“Kau benar,” kenapa aku ini? Tentu saja mereka mengerti hal itu. Dengan keadaan seperti itu, idak mungkin Charlotte bisa membunuh Christian Chizeau.

Tiba-tiba Laurent berhenti berjalan dan memandangiku dengan tatapan aneh, “Karena tidak mungkin Marge yang melakukannya, kecurigaannya berpindah padamu.”

Hah?

“Aku? Kau bercanda, ya?”

“Pakai otakmu, Curtis. Charlotte Marge kehilangan matanya dan jadi setengah gila gara-gara Christian Chizeau. Lalu di malam pertama Marge sadar, Chizeau ditemukan tewas tanpa mata. Tidak mungkin Marge pelakunya, karena Marge sendiri buta. Siapa lagi yang bisa membalaskan dendamnya kalau bukan pacarnya sendiri?”

Sial. Logikanya tepat, “Tapi aku ada di kantor semalaman! Lagipula bagaimana aku bisa menyelinap dan kabur tanpa ketahuan? Demi Tuhan, matanya dicongkel! Pasti ada petugas jaga yang melihatku berlumuran darah—“

“Simpan saja pembelaanmu untuk pemeriksaan nanti, Curtis. Toh statusmu masih saksi resmi. Aku tahu pelakunya tidak mungkin kau, tapi kalau kau salah bicara, kau bisa benar-benar dijadikan tersangka,” Laurent menepuk pundakku.

Sialan.

Memang lelaki terkutuk itu yang menghancurkan Charlotte-ku. Kuakui setiap kali aku melihat Chizeau yang masih terkapar di bangsal kelas tiga, aku berharap matanya yang harus diangkat, bukan Charlotte. Toh dia yang menyetir sambil mabuk, kecelakaan itu salahnya. Tapi… membunuhnya? Sampai mencongkel matanya?

Siapapun yang melakukannya lebih pantas mati dibanding pemabuk itu. Charlotte sudah cukup menderita karena kecelakaan itu. Gara-gara penjahat sakit itu, sekarang kami malah dicurigai melakukan perbuatan kejinya itu.

Bangsat!

“Gerard Curtis,” Laurent mengumumkan kedatanganku begitu dia membuka pintu ruang pemeriksaan.

Semua yang ada di dalam langsung menoleh ke arah kami… kecuali Charlotte yang langsung berdiri dan mencari-cari ke arah yang salah.

“Ger… Gerard?”

“Tenang dulu, Mademoiselle Marge—“ seorang perawat yang duduk di samping Charlotte—perawat yang sama dengan yang kutemui tadi sore—mencoba menenangkan gadis itu. Lagi-lagi Charlotte berontak, “Lepaskan aku! Gerard! GERARD!”

“Laurent, kemari,” suara tegas dan berat datang dari sisi lain ruangan tempat interogasi berlangsung. Aku langsung mengenali kumis tebal si pemilik suara—Eduard Desmont, pemimpin penyidikan kali ini, “Dan kau, Curtis, urus gadismu itu. Kau baru akan kutanyai setelah petugas rumah sakit.”

Cih. Mentang-mentang jadi ketua investigasi, dia jadi berlagak.

“Gerard…”

Aku berjalan ke deretan bangku panjang tempat Charlotte dan beberapa orang lain menunggu—mungkin para saksi yang harus diperiksa berkaitan dengan kasus Chizeau.

“Charlotte, ini aku,” kupegang tangannya dan merangkul bahunya dengan tanganku yang satu lagi, mengisyaratkan agar dia kembali duduk. Aku juga duduk di sampingnya, membiarkan gadis itu kembali terisak, persis seperti tadi sore di rumah sakit.

“Mereka… Mereka jahat, Gerard… Mereka menuduhku me-me-membunuh—AKU! Mereka menuduhku pembunuh!”

“Sssh…” sial. Aku jadi tidak bisa konsentrasi mendengar pembicaraan Desmont dengan si petugas rumah sakit, “Tenang saja, Charlotte. Mereka hanya… Hanya salah menebak…”

Tentu saja. Tidak mungkin Charlotte yang membunuh Christian Chizeau, kan?

…Ya. Tidak mungkin.

Tapi siapa?

Aku melihat ke sekeliling. Selain polisi dan kami berdua, ada lima orang lain di ruangan ini. Dokter yang menangani Charlotte dan Chizeau sedang diinterogasi sementara perawat yang ditugasi mengurus Charlotte duduk di dekat kami. Lalu ada pegawai administrasi shift malam rumah sakit yang tidak pernah kuingat namanya. Wanita itu duduk agak jauh dari kami. Kepalanya ditundukkan dan dia tampak gemetar… Mungkin dia yang pertama menemukan korban. Tidak jauh darinya ada seorang pemuda pirang dengan seragam mahasiswa magang yang perhatiannya tertuju pada Desmont dan si dokter.

Terakhir, seorang gadis kurus berkacamata duduk di depan mereka berdua sambil memeluk sesuatu—netbook? Tampaknya dia bukan petugas rumah sakit, gadis itu tidak memakai seragam. Tapi siapa dia? Kerabat korban? Yang jelas aku tidak pernah melihatnya di sekitar rumah sakit…

Ngomong-ngomong soal kerabat korban, aku sama sekali belum melihat istri maupun anak-anak Chizeau. Di mana mereka? Masa mereka belum dipanggil kemari?

“Curtis!”

Desmont… Aku bisa menanyakan langsung tentang mereka semua padanya…

Kubilang pada Charlotte aku harus ‘memberi polisi-polisi itu pelajaran’ agar dia mau melepaskanku tanpa membuat keributan, barulah aku beranjak dan duduk di hadapan Desmont.

“Hei—“

“Gerard Curtis, tiga puluh dua tahun, pekerjaan detektif swasta, benar?”

“Desmont, kau tahu—“

“Menurut catatan resepsionis, kau datang ke Dales Public Hospital sekitar jam tiga sore pada hari Kamis, 15 September, untuk menjenguk Charlotte Marge, pasien di kamar 132.”

“Benar, tapi—“

“Kapan kau meninggalkan rumah sakit?”

“Sekitar jam lima sore. Hei, Desmont—“

“Menurut keterangan petugas rumah sakit, terkadang kau memperhatikan korban Christian Chizeau di bangsal 305 dari jendela di pintu bangsal. Apa kau juga melakukannya di kunjunganmu yang terakhir itu? Atau ada interaksi lain dengan korban?”

Sial! Dia tidak mau membiarkanku menanyakan apapun!

“Tidak. TIdak ada interaksi dengan korban sama sekali.”

“Apa yang kau lakukan setelah meninggalkan rumah sakit sampai ketika korban ditemukan pukul satu tadi pagi?”

“Aku di kantorku sampai dipanggil ke sini.”

“Ada saksi atau bukti yang memastikan kau berada di kantormu sampai kau datang ke sini?”

Pertanyaan apa itu?! Desmont benar-benar menganggapku sebagai tersangka! Keparat!

“…Aku tidak tahu. Mungkin petugas ronda. Entahlah.”

Desmont menghela napas panjang. Dari ekspresinya, tampaknya masih belum ada petunjuk yang berarti. Bahkan aku sama sekali tidak punya bayangan tentang si pelaku. Siapa pelakunya? Kerabat? Relasi korban? Apa motifnya? Utang? Dendam pribadi?

…Tapi kalau sesederhana itu, untuk apa pelaku sampai mencongkel mata korban? Dan bagaimana dia bisa menyelinap ke rumah sakit tengah malam tanpa menimbulkan keributan? Pihak rumah sakit seharusnya tidak mengizinkan pengunjung di atas jam sembilan malam. Apa pelakunya sudah menunggu dari sebelum itu?

Lalu ada jejak darah. Pelaku pasti berlumuran darah akibat mencongkel mata korban. Seharusnya ada jejak darah di lantai yang bisa menunjukkan cara pelaku meninggalkan tempat kejadian… Atau setidaknya sampai tempat pelaku membuang pakaian yang berlumur darah. Seharusnya itu juga bisa jadi petunjuk.

“Desmont, kau tahu aku bisa membantumu membereskan kasus ini! Beritahu aku apa yang sudah kalian dapatkan dari TKP dan interogasi tadi.”

“Aku—kami tidak bisa memberimu informasi apapun, Curtis. Kau adalah saksi, warga sipil, dan tugasmu hanya menjawab, bukan bertanya! Kau sendiri yang menolak masuk kepolisian dan menghabiskan hidupmu memata-matai orang sebagai detektif swasta murahan. Kau tahu data-data berkaitan dengan kasus yang ditangani kepolisian harus dijaga kerahasiaannya terhadap warga sipil, bukan?”

Detektif swasta murahan, kau bilang?

“Kecuali kau punya surat permohonan tertulis untuk menyelidiki kasus ini dari kepolisian atau klien sipil, kami tidak bisa memberi apapun.”

“Desmont, kau—!“ tinjuku sudah hampir melayang, tapi seseorang menahanku dari belakang, “—Laurent, lepaskan aku! Biarkan aku menghajarnya!”

“Whoa… Tahan dulu, Curtis!”

Aku menarik lenganku, tapi Laurent malah menahan bahuku dan menarikku mundur.

“Kau gila, ya?” Laurent malah berbisik padaku dengan nada panik, “Kau di posisi sulit sekarang! Desmont bisa menjadikanmu tersangka dan menahanmu kapan saja!”

…Sial.

Laurent benar.

Desmont berdiri dan memberiku tatapan sinis sebelum berdeham dan mengumumkan bahwa pemeriksaan selesai sampai di sini.

“Maaf, Curtis. Aku juga tidak bisa membantu,” ujar Laurent sambil mengangkat bahu. Setelah mengatakan hal tak berguna itu, dia ikut meninggalkan ruang periksa menyusul Desmont.

***

04.12

Curtis Private Investigation Office, East Dales, Glenoma

Aku langsung kembali ke kantor setelah mengantar Charlotte kembali ke rumah sakit. Aku berhasil mengorek sedikit informasi dari perawat dan dokter yang ikut kembali ke rumah sakit bersama kami, tapi percuma. TIdak ada yang benar-benar bisa memberi titik terang. Si pegawai administrasi sendiri masih terlihat sangat syok—ternyata memang dia yang pertama menemukan korban. Kudengar gadis berkacamata itu tiba-tiba datang ke rumah sakit dan memaksa masuk ke kamar korban, bahkan sampai menyeret si petugas administrasi dan keamanan yang tidak mencoba mencegahnya masuk. Entah bagaimana caranya, gadis itu seolah tahu Chizeau telah meninggal, tapi dia sendiri tidak yakin.

Seharusnya aku menanyainya setelah pemeriksaan selesai, tapi gadis itu langsung pergi begitu Desmont keluar.

…Desmont benar-benar keterlaluan kali ini. Dia, Laurent, dan aku satu angkatan di akademi dulu. Aku tidak mau jadi seperti mereka, terjebak dalam  sistem birokrasi di kepolisian yang dikekang pemerintah, di mana kau harus siap melepaskan kasus apa pun bila ada perintah atasan. Sejak saat itu, setiap aku berurusan dengan kepolisian untuk kasus tertentu—untuk SEGELINTIR kasus tertentu—Desmont-lah yang paling sering membuatku kesal.

Dan sekarang dia yang memimpin penyidikan, dan dia menempatkanku sebagai saksi yang berpotensi menjadi tersangka!

Sebenarnya apa maunya?

“SIAAAAAAAL!”

Pintu mobilku kujadikan pelampiasan kekesalanku ketika aku turun untuk membuka pintu garasi.

“…Monsieur Gerard Curtis?”

Suara itu memanggilku dari arah pintu kantorku. Siapa yang datang mencariku fajar-fajar begini?

Aku menoleh dan menemukan sosok si gadis berkacamata dari kantor polisi tadi disinari lampu jalan.

“Aku… Aku butuh bantuanmu,” suaranya lemah dan terdengar gugup, “Kau detektif swasta, kan?”

Aku menyuruhnya menunggu selagi aku memasukkan mobil ke garasi. Setelah itu aku masuk dan membuka pintu kantor dari dalam dan mempersilakannya masuk.

“Kau gadis yang di kantor polisi tadi, yang menemukan mayat Christian Chizeau?”

Gadis itu mengangguk, “Namaku Corrine Leroux.”

“…Kenapa kau mencariku kemari?”

“Para polisi tidak percaya padaku… Tapi aku punya petunjuk! Kau seorang detektif dan juga terseret dalam kasus ini. Kupikir… Kupikir kau bisa membantu menyelidikinya. Untuk mendapat keterangan yang dimiliki kepolisian, kau harus memiliki permohonan tertulis dari klien, bukan? Aku bersedia jadi klienmu, aku juga akan menjawab semua pertanyaanmu dan membayarmu.”

Kesempatan!

…Tapi gadis ini juga mencurigakan. Apa yang dia dapatkan kalau aku berhasil menyelesaikan kasus ini?

“…Dengan satu syarat. Kau harus percaya padaku. Yang akan kutunjukkan padamu mungkin tidak masuk akal, tapi kau harus percaya padaku.”

Memangnya apa yang dia punya?

…Kurasa sebaiknya kuiyakan saja, pura-pura percaya, dan bergerak sesuai dengan analisisku sendiri. Toh aku bisa mendapatkan informasi, baik yang dimiliki maupun tidak dimiliki kepolisian.

“Baiklah. Apa yang ingin kau tunjukkan?”

Gadis itu mengeluarkan sebua netbook hitamdari tas selempangnya dan menyalakannya. Ekspresinya tetap datar, tidak berubah sama sekali sejak aku pertama melihatnya di depan kantor.

“Tadi sekitar tengah malam, aku sedang mengerjakan naskahku… Lalu tanpa sadar… Tanganku seolah bergerak sendiri…”

Corrine Leroux menunjukkan halaman word processor dari layar netbook-nya. Awalnya tampak seperti naskah novel biasa, tapi selanjutnya huruf-huruf yang ada tampak tidak beraturan, tidak terbaca.

Tunggu dulu. Ada bagian yang tampak seperti… pesan?

‘Jeritan perempuVZUOIOTOLONGAKU

KEMBALIKANMATAKU’

Apa-apaan ini?

“Aku tidak sadar ketika mengetik itu. Arwah Christian Chizeau yang melakukannya. Dia melakukannya untuk berbicara padaku.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 16, 2012 in random

 

Tag: , ,

Microsleep–Case I

<tek tek tek tek tek>

…Valerie tak punya pilihan selain terus melangkah. Percuma saja ia terus membolak-balik jurnal yang isinya sudah ia hapal di luar kepala itu. Mungkin memang jurnal itu bisa membimbingnya menuju tanah impiannya, namun ia tahu pasti jurnal itu tidak akan membantunya keluar das;ldkgj;stolongakua’soeir’aplklxcv.,xcvnm|

<tek>

…itu tidak akan membantunya keluar da|

<tek tek tek tek tek>

… itu tidak akan membantunya keluar dari hutan ini.

Ketika Valerie menyibak dedaunan yang menghalangi pandaAJSDLKSTOLONGAKU|

<tek>

…menghalangi pandangannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga.

Jeritan perempuVZUOIOTOLONGAKU|

KEMBALIKANMATAKU|

***

14.23
Jocey’s Diner, East Dales, Glenoma

Mata wanita itu terbelalak ketika melihat foto-foto dan dokumen dalam folder yang kuberikan padanya. Kuseruput es kopiku yang sudah tinggal setengah, menyamarkan fakta bahwa aku memperhatikan setiap gerak-geriknya. Kulihat senyumnya memudar sementara matanya terus bergeser bolak-balik dari kiri ke kanan, seolah tidak percaya pada tumpukan bukti yang sudah susah payah kukumpulkan untuknya.

“Bagaimana, Madame? Apa masih ada yang ingin Anda selidiki?”

Wanita itu tersentak. Namun tak sampai sedetik kemudian, ia kembali memasang topengnya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ini sudah lebih dari cukup, Monsieur Curtis,” jawabnya anggun, “Sisa pembayarannya akan segera saya transfer.”

“Maaf, saya tidak bisa berlama-lama,” ujar wanita itu sambil memasukkan folder dariku tadi ke dalam tasnya yang bermerk dan tampak mahal, “Saya harus pergi sekarang, masih ada… um… urusan yang harus saya selesaikan…”

Aku sudah bisa menduga kira-kira urusan apa yang harus ia selesaikan, yang jelas itu berhubungan dengan dokumen yang kuberikan padanya tadi.  Tapi apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan ‘urusan’ itu, aku tidak peduli. Tugasku hanya mengumpulkan informasi, dan apa yang akan ia lakukan setelah mendapat informasi itu sudah bukan tanggung jawabku lagi.

Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangan sebagai salam perpisahan—formalitas. Aku ikut berdiri dan menjabat tangannya.

“Terima kasih banyak , Monsieur.

“Terima kasih kembali, Madame,” jawabku sambil memamerkan senyuman bisnisku yang terbaik, “Senang bekerja dengan Anda.”

Aku kembali duduk dan menenggak habis kopiku sementara wanita tadi—klien terakhirku bulan ini—meninggalkan ruangan dengan langkah yang terburu-buru. Sebeneranya ia cukup cantik, sayangnya ia sama saja dengan puluhan wanita paranoid lainnya yang membayarku agar membuntuti kekasih mereka sendiri.

Makin lama kasus-kasus yang masuk makin membosankan saja. Setiap kali ada insiden menarik, semuanya pasti langsung dimonopoli polisi-polisi bodoh itu. Aku tidak habis pikir, masa semuanya diserahkan pada orang-orang kolot yang menganggap  bahwa berpikir itu membutuhkan otot? Kota ini juga sama kacaunya! Apa definisi detektif swasta di sini sudah berubah menjadi stalker?

Tiba-tiba dial-ku berdering.

Saatnya pergi.

***

15.02

Dales Public Hospital, East Dales, Glenoma

Hal pertama yang menyambutku ketika aku membuka pintu bangsal VIP adalah piring terbang beserta seluruh isinya. Untung aku cepat menghindar. Hal terakhir yang kuinginkan hari ini adalah mendapati pasta bergelantungan di wajahku. Dan tampaknya piring itu bukan benda pertama yang sempat beterbangan di ruangan itu, buktinya ada nampan dan pecahan-pecahan gelas dan beling yang berceceran di lantai.

Dan di tepi ranjang, gadis yang melempar semua benda itu tengah berontak dari pegangan perawat.

“LEPASKAN AKUUUUUU!”

Mademoiselle—“

“LEPASKAN! AKU MAU MATAKU KEMBALI!”

Kuralat pikiranku tadi. Kalau membiarkan wajahku belepotan pasta bisa membuatnya tenang, rasanya aku tidak keberatan.

“Charlotte—“

Dia tidak mendengarku. Dia bahkan tidak tahu aku ada di situ.

Sialnya aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Padahal aku sudah bisa menduga akhirnya akan seperti ini. Ketika dokter mengatakan bahwa kedua bola matanya harus diangkat akibat kecelakaan itu, aku tahu ia pasti akan menderita.

Aku bisa dengan mudah menganalisis target-target investigasiku dan langsung tahu bagaimana aku harus menanganinya, tapi aku kehabisan akal untuk menenangkan seorang gadis yang sudah kukenal seumur hidupku, tunanganku sendiri.

Normalnya seharusnya aku mendekatinya, menggenggam tangannya atau menepuk pundaknya. Mungkin memeluknya atau membisikkan penghiburan.

Tapi ini bukan kondisi normal. Setidaknya bagiku begitu—tidak normal karena sekarang tubuhku seolah membeku di tempat.

“LEPAS—“ Charlotte berhasil lolos dari pegangan si perawat, tapi ia tidak tahu ke mana ia berjalan dan malah menabrak bingkai ranjang.

“Charlotte! Kau tidak apa-a—“

Kali ini ia terpeleset cairan entah apa yang berceceran di lantai dan jatuh—jatuh ke arahku.

Untungnya tubuhku memutuskan untuk bergerak tepat pada waktunya. Aku berhasil menahan tubuhnya.

“Charlotte, ini aku. Gerard.”

“…Gerard?”

Kutuntun Charlotte hingga kembali duduk di tempat tidurnya. Aku juga ikut duduk di sampingnya, terdiam sementara gadis itu menatap—tidak, aku bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan. Gadis itu diam tak bergerak, mungkin mulai mencari-cari kewarasannya, menenangkan diri. Entahlah. Tanpa mata yang bisa menunjukkan ekspresi, aku tak bisa mengerti Charlotte yang sekarang.

Tidak. Aku tidak akan sok tahu. Aku bahkan tidak mengerti Charlotte yang dulu.

Yang bisa kulakukan hanya berada di sampingnya, merangkulnya sementara gadis itu mulai meraung tanpa air mata.

***

17.11

Curtis Private Investigation Office, East Dales, Glenoma

Aku tidak bisa pulang sampai Charlotte tidur. Lebih tepatnya gadis itu tidak membiarkan aku pergi selama dia masih terjaga. Ketika dia tidak terisak dan sesenggukan—aku tidak bilang ‘menangis’, karena dia sudah tidak bisa menangis lagi—yang keluar dari bibirnya hanya ratapan akan kecelakaan naas itu. Aku bahkan tidak benar memerhatikan apa yang dia katakan. Toh aku sudah menduga semuanya, tak akan jauh-jauh dari rasa sakit dan harapan mustahil bahwa matanya bisa kembali.

Aku tidak melihat kejadian persisnya, kejadian yang merenggut mata Charlotte. Aku tidak ada waktu itu. Tiba-tiba saja ada orang tak dikenal yang menghubungiku lewat dial miliknya, memberitahuku bahwa gadis itu ada di rumah sakit sekarang.

Tabrakan. Mobil Charlotte tertabrak truk.

Tabrakan itu cukup parah. Ketika aku sampai di rumah sakit, Charlotte sudah dibungkus perban di sekujur tubuhnya dan dokter meminta persetujuanku untuk melakukan operasi pengangkatan bola matanya. Gadis itu tidak punya keluarga di East Dales—orangtuanya sudah lama meninggal, tinggal beberapa kerabat jauh yang tinggal di Belystad—sehingga akulah yang harus memberi izin untuk operasi mengerikan itu. Tidak ada pilihan lain.

Dan sekarang, aku hanya bisa melihatnya hancur di depan mataku.

Aku melemparkan tubuhku di kursi kerjaku. Pusing. Perkara Charlotte jauh lebih memusingkan—dan jauh lebih penting—daripada mengurusi istri-istri paranoid dan suami bajingan mereka. Aku sudah berkali-kali dihubungi manager dan agensi model tempat Charlotte bekerja. Kubilang Charlotte sedang sakit dan masih dirawat, dan dokter bilang ia sebaiknya tidak menerima pengunjung. Aku juga meminta mereka merahasiakan hal itu pada penggemar-penggemarnya. Toh mereka tinggal membuat publikasi palsu tentang pemotretan di luar negeri atau apa. Begitu mereka tahu aku membohongi mereka dan Charlotte sudah tidak bisa bekerja lagi—kecuali mereka mau mempekerjakan model buta—paling mereka akan menuntutku, tapi itu bukan sesuatu yang tak bisa kutangani.

Dibanding hal itu, aku lebih takut dengan reaksi Charlotte. Hari ini dia mengamuk, entah apa yang akan dia lakukan besok. Dan besok lagi. Dan besoknya lagi, sampai akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa matanya tidak akan kembali. Ia akan kehilangan pekerjaan—kecuali seperti kataku tadi, agensinya mau menerima model buta—padahal pekerjaannya adalah segalanya baginya. Gadis itu bahagia dengan dunia hiburan yang gemerlapan, tapi sekarang ia tidak bisa melihat dunia itu lagi. Dunia itu akan membuangnya. Dan aku tahu dia tidak akan puas denganku, satu-satunya yang tersisa dalam hidupnya, seorang detektif brilian yang kejeniusannya terbuang sia-sia untuk menguntit tukang selingkuh.

Untuk pertama kalinya, aku, Gerard Curtis, private investigator, benar-benar kehabisan akal.

Aku hanya bisa datang ke rumah sakit setiap hari, duduk di sampingnya dan mendengar ratapannya di sela-sela pekerjaanku yang membosankan ini. Hanya itu.

***

02.21

Aku terbangun di meja kerjaku. Tampaknya aku ketiduran tadi, dan sekarang dial-ku bergetar.

“Uh… Halo?”

“Selamat malam, dengan Monsieur Gerard Curtis?”

“Ya, benar.”

“Kami dari pihak kepolisian. Apa benar Anda datang ke Dales Public Hospital hari ini sekitar pukul tiga sore untuk menjenguk Mademoiselle Charlotte Marge?”

Kepolisian?

“…Benar.”

Mademoiselle Marge saat ini sedang kami mintai keterangan mengenai pembunuhan Monsieur Christian Chizeau. Kami mohon Anda juga segera ke markas utama untuk memberi kesaksian.”

…Pembunuhan? Apa aku masih belum bangun juga?

“Maaf, bisa tolong diulang sekali lagi, Monsieur?

Si polisi mengulangi kalimat yang sama persis.

“Baiklah. Saya akan segera ke sana.”

Cepat-cepat kuambil mantelku dan kukantongi dial-ku sebelum berlari keluar meninggalkan kantor.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 4, 2012 in random

 

Fantasi Mati: 1.1. Paramanagari–Awal

“Valerie?!”

Sesuatu yang lembut dan sejuk menyentuh lenganku dan mengguncangkan tubuhku. Sentuhan tangan. Kegelapan telah hilang beersama cahaya yang membakarku tadi.

Sekarang, setelah semuanya terasa lebih baik, aku sadar. Aku masih punya tubuh yang padat dan nyata.

“Valerie? Kau kenapa?”

Kupaksa kelopak mataku hingga terbuka. Kali ini bukan gelap yang kudapat, juga bukan cahaya yang membakar.

Aku membuka mataku dan melihat dunia yang baru.

Ini jelas bukan Belystad. Belystad adalah belantara beton. Kemanapun kau menoleh, kau akan bertemu dengan menara-menara yang berebut menggapai matahari. Segelintir tanah lapang yang ada hanya bisa ditemukan di Lower Layer yang gelap dan kumuh. Tempat ini tidak membuatnya sesak dengan bau busuk timbunan sampah dan keputusasaan seperti tanah lapang di Lower Layer. Sebaliknya, di sini aku bisa menghirup wangi yang segar—wangi tanah dan rerumputan basah.

Yang benar saja, Di sekelilingku hanya ada hamparan ilalang yang bermandikan tetesan embun. Dan sekarang aku sedang duduk di bersandar pada bagian belakang sebuah gerobak kayu yang meluncur di jalan berbatu, mengenakan jubah coklat lusuh yang seharusnya sudah tak pernah dipakai orang lagi sejak berabad-abad yang lalu.

Lalu tangan yang memegang bahuku… sepasang lengan berkulit gelap seperti orang-orang selatan, lengan yang terlalu panjang dengan jemari yang meruncing dan berkilau seperti dibungkus perhiasan emas…

“Aku tidak apa-apa, tapi—“

“Syukurlah!” semerbak kembang yang menghiasi rambut pemilik lengan itu membelai penciumanku ketika dia memelukku tanpa peringatan. Kusir kereta itu sampai menoleh ke belakang dan melontarkan umpatan karena keseimbangan kereta jadi goyah karenanya.

“Aku benar-benar takut tadi! Tiba-tiba… Tiba-tiba kau pingsan dan mulai… mulai terlihat transparan… aku sampai tidak bisa menyentuhmu!”

Aku mendorongnya pelan, “Tunggu dulu… Sebentar…”

“Eh? Aduh! Maaf… Aku terlalu senang karena kau sudah sadar dan sudah terlihat lagi… Apa kau sakit?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak ingin menjawab. Aku hanya memperhatikan orang itu—gadis itu—dari ujung kepala dari ujung kaki. Rambutnya, rona wajahnya, pakaian yang dia kenakan… Lalu aku melihat diriku sendiri, jubah yang hanya dipakai hingga akhir abad pertengahan, sabuk kulit yang terselempang menahan sesuatu yang panjang dan berat di punggungku, helai rambut kehijauan…

Rupanya aku masih mimpi. Penguasa mimpi pastilah berbaik hati padaku, ketika akhirnya aku kehilangan fantasiku, dia tidak hanya mengembalikan mereka padaku, tapi malah meleburkan aku ke dalamnya.

“…Valerie?”

Valerie E. Sewell, putri seorang arkeolog yang tengah mencari sebuah tanah legenda yang bagaikan surga, gadis yang sudah tersesat bahkan di awal pencariannya dan secara kebetulan menolong seorang wanita aneh yang cirinya persis dengan kaum yang tinggal di Paramanagari, tanah yang ia cari.

Tampaknya sekarang Valerie adalah aku.

Apa ujung dari jurang itu memang seperti ini? Ketika kulepas ranting mimpiku—ranting fantasiku yang makin lama makin melemah—akhirnya aku jatuh, tapi bukan jatuh ke surga atau neraka, melainkan jatuh ke dalam fantasi itu sendiri, menjadi satu dengan dunia yang kubuat sendiri?

Kalau memang ‘akhir’ itu seperti ini, seharusnya ranting itu kulepas sedari dulu.

Aku kembali memandangi Prasthina si gadis Parama, perempuan berlengan panjang yang mengguncangkan tubuhku dan memanggil-manggilku sedari tadi. Persis, persis dengan yang kugambarkan. Aku bahkan mengenali jalan ini, adegan ini, adegan terakhir yang berhasil kutuangkan sebelum fantasiku perlahan mati.

Tapi tadi Prasthina berkata bahwa Valerie kehilangan kesadaran dan menjadi transparan.

Aneh. Meski aku tak pernah berhasil menuliskannya, aku tahu apa yang seharusnya terjadi pada Valerie dan Prasthina setelah ini, dan Valerie sang tokoh utama jatuh pingsan di perjalanan dan menjadi bening tak terlihat sama sekali tidak pernah melintas di pikiranku. Seharusnya ia tidak pingsan dan wujudnya tidak menghilang. Ya, seharusnya begitu.

Ada yang salah.

Ini semua salahmu. Kaulah yang membuat mereka menjerit seperti itu.

Suara itu. Suara aku dalam kegelapan itu kembali menerobos gendang telingaku.

Tidak, bukan suara yang sesungguhnya, melainkan ingatan akan yang kudengar dalam gelap itu.

Mereka ada karena kau, dan mereka akan merasakan sakitnya kehampaan karena kau. Kalau kau ingin mengakhiri hidupmu yang menyedihkan itu, kau harus mengakhiri mereka dengan tanganmu sendiri.”

…Apa Valerie menghilang karena aku, karena aku berhenti menulis kisahnya, karena aku membiarkan diriku jatuh?

Tapi mereka yang duluan meninggalkanku! Mereka yang lari dari benakku, lari dari fantasiku!

 

 

Kalau mereka harus lenyap karena aku memilih jurang itu, seharusnya mereka lenyap saja! Seharusnya aku tetap mengambang dalam kegelapan itu, terus jatuh dalam jurang itu, bukan malah masuk dan menjadi bagian dari mereka!

Mereka ada karena kau, dan mereka akan merasakan sakitnya kehampaan karena kau. Kalau kau ingin mengakhiri hidupmu yang menyedihkan itu, kau harus mengakhiri mereka dengan tanganmu sendiri.”

Aku menggigit bibir.

Kau harus mengakhiri mereka dengan tanganmu sendiri.”

Apa itu berarti aku harus menjalani kisah mereka hingga akhirnya tiba, baru akhir yang sesungguhnya akan tiba?

“Valerie, keadaanmu…”

Prasthina tampak khawatir, padahal Valerie hanyalah seorang asing. Bagi Prasthina, Valerie hanya kebetulan menyelamatkannya, juga kebetulan percaya bahwa sukunya dan tanah tempat tinggalnya benar-benar nyata. Ketika orang lain berpura-pura peduli sambil mencari alasan untuk pergi, perhatian di wajah coklat gadis itu tampak begitu nyata.

Persis. Persis seperti yang kuciptakan.

Aku meraih buku usang bersampul kulit yang tergeletak di pangkuanku. Aku bahkan tidak perlu benar-benar melihatnya untuk tahu bahwa benda itu ada di situ.

Buku itu, jurnal Cerval E. Sewell, sang arkeolog yang pertama kali menemukan tanah suci Paramanagari.

Aku membuka lembaran-lembarannya meski aku sudah tahu apa isinya, sama seperti Valerie yang hafal kisah-kisahnya di luar kepala.

“Aku tidak apa-apa,” aku—Valerie—memberikan senyum yang paling meyakinkan pada Prasthina, “Sebentar lagi kita akan tiba di kota Granite, barulah dari situ kita menuju wilayah timur. Kekasihmu yang hilang itu berasal dari sana, bukan? Setelah itu kau bisa memenuhi janjimu dan membawaku ke Paramanagari.”

“…Eh? B-bagaimana kau tahu aku ingin menawarkan untuk mengantarmu ke kampung halamanku jika aku bisa menemukan Saphala? Kau bisa membaca pikiran?” mata gadis itu membelalak, setengah terkejut dan setengah terpesona.

Gawat. Aku salah bicara. Terakhir kali aku menulis, Prasthina baru saja bertanya apakah Valerie mengenal kekasihnya yang berasal dari Timur. Mereka belum sampai pada kesepakatan yang satu itu.

Apa boleh buat. Toh itu tidak merubah apa-apa.

Nyata atau maya, aku tidak peduli lagi. Akhir masih menunggu di ujung sana, menunggu hingga aku mengakhiri kisah ini. Dan kali ini aku tidak perlu takut kehilangan fantasi karena aku sudah berada di dalamnya seperti ini.

Aku hanya perlu terus menjadi Valerie hingga aku menjadi tak tampak hingga lenyap sepenuhnya bersama dunia yang mengkhianatiku ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 27, 2012 in random

 

Fantasi Mati 0.2: Jatuh

 

Aku merasa tubuhku jatuh ke bawah. Tubuhku jatuh semakin cepat, bergesekan dengan hawa dingin yang seolah menyembur ke atas. Aku tidak melihat apapun, tidak mendengar apapun. Aku jatuh. Terus jatuh, semakin dalam dan semakin dalam, seolah aku akan terus jatuh seperti ini selamanya.

Lalu hawa dingin tadi berhenti menyembur ke atas dan mengikatku erat-erat. Tubuhku berhenti meluncur ke bawah. Rasanya seperti mengambang tanpa pijakan. Apa aku sudah mencapai dasar? Atau aku hanya tersangkut di tengah-tengah, terkatung-katung dalam ketiadaan?

Atau mungkin… ‘aku’ sudah tidak ada?

Aku mulai mendengar suara-suara. Awalnya hanya terdengar seperti obrolan biasa, keriuhan yang biasa memenuhi keramaian. Suara itu perlahan berubah menjadi isak-tangis, bahkan jeritan-jeritan yang saling tumpang tindih. Bukan hanya jeritan satu orang, tapi dua, tiga, bahkan mungkin belasan hingga puluhan…

Perih. Jeritan-jeritan itu membuatku merasa perih. Tapi bagian mana dari diriku yang merasa perih? Bukan telinga… Bukan mata… Bukan jantung… Bukan apa-apa.

Aku bahkan tak tahu lagi apa aku masih memiliki itu semua. Tapi aku tahu perasaan ini.

Perih dan… ngeri.

Jangan mati!”

“Jangan bunuh kami!”

Dari mana asalnya jeritan-jeritan itu? Apakah itu jeritan mereka yang sama-sama memilih terjun sepertiku? Apakah akhir itu seperti ini, dan semuanya akan abadi seperti ini?

…Apa aku juga akan menjerit penuh pilu seperti itu?

“Ini semua salahmu. Kaulah yang membuat mereka menjerit seperti itu.”

Suara itu bukan jeritan. Hanya kata-kata yang dilontarkan datar, tanpa perasaan, namun kata-kata itu terdengar begitu jelas di atas semua lolongan-lolongan.

Dari kegelapan muncul cahaya, dan dari cahaya aku melihat aku.

Aku melihat rupaku, rambut hitam dan mata yang legam, bibir tertekuk ke bawah diiringi tatapan kelam.

Kau tidak boleh mati begitu saja. Kau harus bertanggung jawab.”

Aku melihat aku berbicara. Aku ingin membantah, siapa mereka? Kenapa aku yang bertanggung jawab? Tapi bibirku ada di depanku, dan tenggorokanku ada di depanku, dan mereka sepenuhnya tunduk pada aku, bukan diriku.

Mereka ada karena kau, dan mereka akan merasakan sakitnya kehampaan karena kau. Kalau kau ingin mengakhiri hidupmu yang menyedihkan itu, kau harus mengakhiri mereka dengan tanganmu sendiri.”

Apa? Apa maksudnya? Aku bahkan tidak bisa mengerti apa yang aku katakan sendiri. Apa-apaan ini?

“Kau bisa memilih untuk kembali memberi mereka hidup, atau kau harus menghancurkan mereka demi keegoisanmu yang ingin langsung melompat ke halaman terakhir tanpa berjuang menghadapi lembar-lembar sebelumnya.

“…Buatlah keputusanmu di hadapan mereka.”

Lalu aku menghilang meninggalkan sejuta pertanyaan, dan cahaya menelan semua gelap dan melonggarkan dingin yang memenjara. Aku bebas, tapi aku merasa sesak. Beku berganti api, aku terbakar.

Sakit! Sakit!

Cahaya ini mencekikku. Cahaya ini membakarku!

Di hadapanku samar-samar bayangan-bayangan itu melintas satu per satu—mereka yang kukira telah meninggalkanku, tarian orang-orang Parama, pendekar, ksatria, dan naga, semuanya melintas bergantian di hadapanku seperti film bisu, tapi merekalah yang tampak tengah menontonku.

Aku menggapai-gapai ke arah mereka dari tengah kobaran cahaya. Siapapun, keluarkan aku!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2012 in random