RSS

Arsip Tag: random update

So This is What It Takes to be An Artist

Jadi hari minggu kemarin, tangagl 10 Maret, saya kencan bertualang ke Belantara Beton Jakarta bersama seorang kawan (sebut saja Om Johan) demi mengikuti workshop tentang seni grafis digital oleh om-om imba dari studio Imaginary Friends di Singapura. Ketika melihat posternya, saya ngebayangin acaranya seperti semacam tutorial digital painting. Saya nekad ikut aja, toh saya gak sendirian dari Bandung. Siapa sih yang gak penasaran dari mana datangnya benda macam ini?

Selain menemukan fakta bahwa sebuah lubang hitam akan terbentuk otomatis dalam lambung manusia ketika sedang kelaparan, sepanjang perjalanan saya juga ngerasa rada berdosa. Workshop ini tempatnya terbatas, Kalopun saya ikut, kemungkinan saya bisa ngikutin tergolong sangat rendah, plus saya juga bukan mahasiswa seni (yang mendominasi peserta workshop) dan gak berniat menjadikan ilustrasi sebagai sumber nafkah utama. Sementara itu ada lebih banyak orang imba dan orang-orang yang ingin menjadi imba yang memang benar-benar mencurahkan seluruh jiwa dan raga di bidang ini, tapi gak bisa ikut karena kehabisan tempat atau terhalang jarak. Rasanya jadi pengen naik jetpack dan terbang ke Mars.

Akhirnya setelah petualangan mencari jalan di belantara beton a la game Persona di PS 1, saya dan teman saya sampai di Hotel Ritz Carlton–tempat workshop diadakan–dua jam sebelum acara dimulai. Entah kenapa nama saya gak ada di daftar peserta, padahal udah dapat surel konfirmasi dari panitia. Telat sebentar aja saya terancam gak bisa masuk karena terlempar ke waiting list yang konon mendekati 130an orang.

Lalu, ada apa di workshop ini? Saya melihat keajaiban.

Ternyata acaranya lebih ke seminar tentang gimana caranya jadi digital artist profesional, ditambah bonus demo painting oleh para pembicara, yaitu para co-founder dari Imaginary Friends Studio, orang-orang yang mulai dari nol sampai sekarang bisa kerja bareng Capcom, Square Enix, DC Comics, dan label-label terkenal di dunia visual modern lainnya. Yep, gak ada tutorial atau semacamnya. Peserta cuma nonton dan dengerin, plus nanya-nanya. Meski gak bener-bener sesuai harapan, saya gak merasa rugi jauh-jauh ke sana.

Yang paling nancep di saya adalah waktu ngebahas style. Gaya. Ciri khas. Cara yang kita pilih untuk menampilkan ide kita dalam media gambar. Di workshop ini, dijelaskan bahwa style ini gak mungkin didapat kalo kita terus-terusan menggambar hal yang sama. Untuk membentuk style sekaligus meningkatkan skill, sering gambar aja gak cukup. Kita harus sering-sering menggambar hal yang berbeda, entah itu pose yang berbeda, cara shading yang berbeda, pokoknya beda. Setiap kali gambar, kita harus keluar dari zona nyaman dan menjadikan itu ‘nyaman’. Interpretasi saya adalah saya harus nekad gambar sesuatu yang saya gak bisa, lalu membiasakan diri dengan itu sampe jadi bisa. Dengan gitu, barulah kita bisa naik level. Lalu kita juga bakal nemu cara gambar yang paling kita suka. Awalnya mungkin kita nyontek cara gambar orang lain, lalu lama-kelamaan kita bisa gambar dengan cara orang lain itu PLUS dengan cara kita sendiri dengan KONSISTEN–Voila, here’s style for you!

Tapi sebelum itu semua… Teori dasar menggambar harus dikuatin dulu. Anatomi, pencahayaan, warna, komposisi, perspektif, dan estetika, itu dasar-dasar yang dijelasin kemari, semuanya hanya bisa dipelajari dari observasi pada dunia nyata. Sebelum kita bisa bikin gaya sendiri, kita harus bisa bikin sesuatu yang bener dulu. Sesuatu yang nyata. Gak ada ceritanya ngeles, ‘Saya kan gambar chibi, gak usah proporsional banget dong,’ atau alasan lain yang serupa. Seperti kata bang Artgerm yang ngasih ceramah,

“You have to be able to draw something real before going surreal.”

Kata-katanya kayaknya gak persis sih, tapi ya udahlah ya. Pesan tersampaikan. Kasus ini rasanya sama kayak EYD waktu nulis, sebelum bisa melakukan penyelewengan terhadap tata bahasa atas nama seni tulisan, kita harus bener-bener khatam dulu sama tata bahasa itu sendiri.

Di sini saya ketemu sama musuh besar saya. Saya paling males sama yang namanya bikin pose aneh-aneh dan nyari referensi. Maunya langsung gambar aja. Kalo saya emang mau naikin skill, it’s time to change ._.

Lalu satu hal lagi yang berhubungan dengan ‘dasar’ ini, terutama soal estetika. Ketika kita bilang sebuah gambar itu bagus, apa kita bisa nunjukin dengan spesifik apa yang bikin gambar itu bagus? Saya sih biasanya nggak. Terus pas pengen bikin gambar yang bagus, saya juga gak tahu harus bikin apa :v

Satu lagi quote imba yang saya dapet kemarin,

“You can’t draw what you don’t know.”

Ya, walau itu sesuatu yang fantasi sekalipun, kita tetep butuh semacam referensi. Dasar yang kemudian dikasih modifikasi aneh-aneh sampai jadi terlihat hebat. Ingatan juga gak bisa diandalkan.

Setelah dasar-dasar itu, dijelasin juga apa yang perlu dimiliki buat jadi digital artist profesional. Yang pertama itu komitmen dan semangat. You don’t say. Yang kedua, harus sadar akan posisi kita di dunia komersial… Dengan kata lain, kita harus tahu berapa ‘harga’ kita. Ada peserta yang nanyain gimana caranya nentuin harga ketika orang minta jasa gambar–kebingungan yang pernah saya alami, walau cuma dua-tiga kali. Jawabannya adalah, tidak terlalu tinggi sampe gak masuk akal, tapi juga gak terlalu rendah. Cukup buat bikin kita ngerasa bertanggung jawab buat nyelesaiin gambar itu. Bisa juga ngitung per jam, berdasarkan berapa lama yang kita butuhkan buat gambar sampai selesai.

Selanjutnya adalah portfolio yang bagus, yang berkarakter. Disebutin juga bahwa seorang artist  harus tahu banyak, tapi punya keahlian yang spesifik di satu bidang, kalau bisa sampai gak ada duanya. Seorang pro juga harus menguasai dasar menggambar yang kuat sehingga bisa gambar dengan gaya yang fleksibel. Lalu si pro ini juga harus berhubungan baik dengan klien. Si seniman harus bisa memenuhi kebutuhan klien, tapi juga gak bener-bener dengan buta nurutin apa maunya. Caranya bisa dengan bikin plan A, B, dan C. A: turuti si klien sepenuhnya, B: modif-modif dikit, C: suka-suka kita. Awalnya mungkin klien akan ngotot dengan plan A, lalu minta tambahan yang ada di B. Sampe akhirnya ketika hubungan udah mantap, si klien bakal membiarkan kita bersenang-senang dengan plan C.

Lalu kita juga harus tepat deadline… oTL

Yang terakhir adalah… si seniman harus eksis di internet. Dari situ si artist bisa ngebangun fanbase, lalu orang-orang bakal nyari dia meski ada yang lebih bagus/lebih murah, cuma karena ngefans. Bagian ini bikin saya miris, memikirkan nasib akun deviantArt saya yang ditinggal selama setahun. Selama itu, orang-orang yang saya kenal, orang-orang yang nge-watch saya, semuanya kayaknya lupa sama keberadaan saya di situ. Ini beneran contoh nyata dari kegagalan di poin ini ._.

Setelah ceramahnya selesai, ada sesi demo speed painting dari si Om-Kuman-Seni. Di sini letak keajaibannya. Saya gak paham gimana caranya pake dua warna doang bisa langsung bikin gambarnya kelihatan imba. Blendingnya mulus sempurna dengan satu goresan. Bener-bener sihir. Pas nungguin travel di McD Pasar Festival selama 2 jam, saya mencoba meniru sihir yang sama, tapi gagal. Beneran deh, padahal kelihatan simpel. Cuma ngasih warna terang di atas warna dasar, pas nyampurin jumlah goresannya harus seminimal mungkin. Tapi tetep aja, pas saya yang bikin, jadinya fail parah.

Akhirnya saya memutuskan bahwa mungkin 3D painting bukanlah jalan hidup saya ._.

Tapi tetep aja segelintir keajaiban itu menular. Saya jadi nyelesaiin ini:

Image

http://asteriesling.deviantart.com/art/FUTURE-SCROLL-Ronald-358892834?q=gallery%3Aasteriesling&qo=0

Ini tokoh utama dari proyek Visual Novel yang baru mulai saya kerjain bersama kawan Genshiken-ITB, cerita ala RPG Jepang klasik kayak Suikoden, Tales Series, dan Final Fantasy generasi awal. Saya ngebayangin setelah proyek ini selesai, orang-orang yang baca bakal merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mainin game-game kuno semacam itu. Ini ada hubungannya dengan apa yang saya dan Om Johan obrolin di perjalanan ke Jakarta, bahwa RPG zaman sekarang bernuansa dark semua, sementara game-game lawas jauh lebih humoris. Saya kayaknya gak pernah main game baru lagi, jadi gak bisa komentar banyak. Tapi soal RPG lawas, saya yakin itu bener. Kapan lagi ada sidequest random buat ngejodohin seorang rakyat jelata dengan anak pedagang kaya yang cintanya terhalang oleh status dan nama?

Kembali ke topik, workshop kemarin bikin saya merasa hebat dan lemah sekaligus. Hebat karena mendapat nasihat-nasihat hebat, petunjuk-petunjuk hebat, dan melihat orang hebat menunjukkan kehebatannya. Lemah karena selama ini saya mengeluh melulu gara-gara gak tahu bakat saya sebenernya ada di mana, sementara orang-orang sudah berjuang setengah mati buat bisa jadi jago dalam satu hal, gak cuma karena memang bakat mereka di situ, tapi karena mereka suka dan berusaha. Gimana mau bisa jago gambar kalo nyari referensi aja mager? Gimana mau jago nulis kalau baca aja jarang?

Let me quote from a dear friend,

“You may brag as you like, whine as you please, just don’t compare your life with others’ because you never know what they’ve been through.”

–Melody Violine

Saatnya melakukan sesuatu.

Lalu, saya gak tahu harus naroh ini di mana, tapi ada satu quote dari salah satu om imba yang ngasih workshop kemarin, tapi saya suka. Intinya sih menurut saya, sampai kapan pun kita gak boleh berhenti belajar.

“It’s what you learn after you think you know everything that matters.”

Dan sebagai penutup, sebuah punchline dari Om-Kuman-Seni

“If you want other people to love your art, you have to love it first.

You have to love what you do.”

Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2013 in random

 

Tag: ,

Mimpi Itik Kecil

Jadi ceritanya galau identitas seharusnya menghasilkan inspirasi. Setelah nonton dan nyampah di acara Genshiken Main Muzik hari minggu kemarin, akumulasi galau identitas dan inferiority complex bikin saya pengen bikin lagu.

Image

Tentu saja, yang bikin poster bukan saya, melainkan kawan-kawan di divisi musik Genshiken (~’.’)~. Yang ingin tahu wujud divisi musik Genshiken kayak apa, silakan intip link berikut:
youtube: http://www.youtube.com/channel/UCv1L3rrrLiLYphl6QbKILCw/videos?view=0&flow=grid
soundcloud: http://soundcloud.com/groups/musik-genshiken

Lalu setelah coret-coret, saya cuma bisa menghasilkan satu bait ini:

Itik kecil bermimpi jadi angsa putih nan indah

Itik kecil bermimpi jadi flamingo berbulu merah

Itik kecil bermimpi tapi itu semua takkan terjadi

Seperti mimpiku

Yah, jadinya bodoh dan random.

Hebatnya, pada hari yang sama, beberapa kawan penulis seperjuangan dalam melawan kemalasan ngajak merandom untuk bikin lirik lagu ngikutin BGM sesuatu…

Kayaknya saya bakal bikin buat ‘Gothic Neclord’-nya Suikoden II.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2013 in random

 

Tag:

Mencari Kehidupan di Dunia Maya…

…dan mencoba mengenyahkan kemalasan. Demi dua hal itu, saya bakal nyoba ngupdate blog dengan sedikit lebih rajin.

Beberapa minggu ini saya galau identitas lagi. Gak punya spesialisasi itu… bikin stres. Rasanya saya jadi gak dibutuhkan di mana-mana dan gak bisa menghasilkan apa-apa. Akademis biasa-biasa aja, nulis biasa-biasa aja, gambar biasa-biasa aja, main musik bahkan gak sampe level biasa-biasa aja. Terus abis lulus saya mau ke mana? Masa kerja di bank, tempat semua orang biasa-biasa aja bisa naik pangkat jadi kepala cabang? Ya kali…

Akhirnya saya stres sendiri gara-gara itu dan kerjanya cuma sirik sama orang yang emang punya spesialisasi sambil 9gag-an :v

Setelah bertapa sekian lama, saya mutusin buat kembali ke zaman SMA dulu, waktu saya masih ngerasa nerbitin novel sendiri itu gak mungkin, punya band itu gak mungkin, dan dapet rikues commission itu gak mungkin. Saya nulis cuma karena ingin ngeliat cerita yang mendep di otak saya jadi dan ada yang baca sesekali, gambar karena gambar itu menyenangkan, intinya gak perlu target tinggi-tinggi, yang penting senang. Lalu waktu masa jenuh saya udah lewat, saya baru mempertimbangkan lagi mau ngapain saat itu.

Omong-omong, belakangan ini saya sibuk mencurahkan jiwa buat Genshiken Creative Exhibition a.k.a. Gen-ReOn! (gak ada hubungannya sama manga/anime Genshiken). Sebuah acara pameran karya persembahan dari mahasiswa yang berjuang untuk membuat mimpi menjadi nyata. Event-nya sendiri terdiri atas seminar tanggal 20 April 2013 dan pameran karya + festival tanggal 27 April 2013 di kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung.

Image

Info: http://genreon.wordpress.com/

Bagi yang berdomisili di Bandung, kami bakal nangkring dan numpang eksis di Car Free Day besok, 3 Februari 2013. Sok, mampir.

Lalu saya ngapain di sini? Saya bikin ini:

Image

Wallpaper karakter dari ‘cerpen’ yang bakal saya pamerin di Gen-ReOn!, The Golden Apple. Bukan cerpen juga sih. Novelet mungkin. Bagian 1 dari 2, baru selesai hari ini. Bodohnya adalah setelah hampir sebulan ngerjain dan 75 halaman berlalu, saya baru nyadar kalo ceritanya nyampah banget, gak jelas mau dibawa ke mana. Sebenernya maunya fokus historical romance dengan bumbu fantasi, tapi ternyata saya gak sanggup… Lalu semua berubah ketika petir menyambar dan menciptakan ledakan. Saya bakal cerita lagi kapan-kapan.

Selain itu saya juga bikin komik, buat dimasukin komik kompilasi Unit Kebudayaan Jepang ITB. Awalnya cerita romance sekolahan biasa, lalu di hari deadline, draft-nya ilang dan saya bikin cerita baru yang berakhir jadi doujin dari game kartu BANG! yang asyik sangat.

 Image

So inspired by these badass ladies:
http://bangcardgame.blogspot.com/2011/01/character-strategy-guide-calamity-janet.html
http://silwin.rajce.idnes.cz/Bang/#Elena_Fuente.jpg

Ternyata banyak juga yang terjadi :v =3

Sekarang enaknya ngapain ya?

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 3, 2013 in random

 

Tag: